Mata Uang Iran Terpuruk Picu Demo Rusuh, 6 Orang Tewas

Jum'at, 02 Januari 2026 - 10:25 WIB
loading...
Mata Uang Iran Terpuruk...
Demo rusuh melanda beberapa kota di Iran, dipicu oleh terpuruknya nilai mata uang rial dan melonjaknya inflasi. Sudah 6 orang tewas sejak demo dimulai hari Minggu. Foto/The Asia Live
A A A
TEHERAN - Demo rusuh di beberapa kota di Iran telah menewaskan enam orang pada hari Kamis. Demo untuk memprotes terpuruknya nilai mata uang dan melonjaknya inflasi ini dimulai sejak hari Minggu.

Protes awalnya pecah di Teheran, di mana para pemilik toko berhenti beroperasi karena harga barang-barang melonak dan stagnasi ekonomi. Sejak itu, protes menyebar ke kota-kota lain.

Beberapa protes di jalan mulai menjurus ke politik. Termasuk teriakan demonstran menentang Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan seruan untuk penggulingan rezim Iran.

Baca Juga: Mossad kepada Demonstran Iran: Turunlah ke Jalan, Kami Bersama Kalian!

Pada hari Kamis, kantor berita Fars yang terkait dengan negara Iran melaporkan dua orang tewas dalam bentrokan antara pasukan keamanan dan demonstran di kota Lordegan, provinsi Chaharmahal dan Bakhtiari, dan tiga orang di Azna, provinsi Lorestan yang berdekatan.

Sebelumnya, juga pada hari Kamis, stasiun televisi pemerintah melaporkan bahwa seorang anggota pasukan keamanan Iran tewas semalam selama protes di kota Kuhdasht di bagian barat.

“Seorang anggota Basij berusia 21 tahun dari kota Kuhdasht tewas tadi malam akibat serangan perusuh saat membela ketertiban umum,” bunyi siaran televisi tersebut, mengutip Said Pourali, wakil gubernur Provinsi Lorestan.

Basij adalah pasukan paramiliter sukarelawan yang terkait dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran, sayap ideologis Republik Islam, dan sebelumnya telah digunakan oleh pihak berwenang untuk menekan protes.

Pourali mengatakan, "Selama demonstrasi di Kuhdasht, 13 petugas polisi dan anggota Basij terluka akibat lemparan batu.”

Kantor berita Tasnim yang terkait dengan pemerintah melaporkan pada hari Kamis bahwa 30 orang di sebuah distrik di Teheran telah ditangkap malam sebelumnya karena dugaan pelanggaran ketertiban umum dalam “operasi terkoordinasi oleh dinas keamanan dan intelijen.”

Demonstrasi kali ini lebih kecil dibandingkan kerusuhan besar terakhir pada tahun 2022, yang dipicu oleh kematian Mahsa Amini dalam tahanan, yang ditangkap karena diduga melanggar aturan berpakaian ketat Iran untuk perempuan.

Kematiannya memicu gelombang kemarahan nasional yang dengan cepat berkembang menjadi seruan untuk perubahan rezim dan menyebabkan ratusan orang tewas.

Protes terbaru dimulai secara damai di ibu kota dan menyebar setelah mahasiswa dari setidaknya 10 universitas bergabung pada hari Selasa.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian telah berupaya meredakan ketegangan, mengakui "tuntutan sah" para demonstran, dan menyerukan pemerintah pada hari Kamis untuk mengambil tindakan guna memperbaiki situasi ekonomi.

Namun, pihak berwenang juga berjanji untuk mengambil sikap tegas, dan telah memperingatkan agar tidak memanfaatkan situasi untuk menabur kekacauan.

Laporan media lokal tentang demonstrasi bervariasi, dengan beberapa media fokus pada kesulitan ekonomi, dan yang lain pada insiden yang disebabkan oleh "pembuat onar".

Iran sedang berada di tengah libur panjang akhir pekan, dengan pihak berwenang menyatakan hari Rabu sebagai hari libur bank pada menit terakhir, dengan alasan perlunya menghemat energi selama cuaca dingin.

Mereka tidak secara resmi menghubungkannya dengan protes tersebut.

Akhir pekan di Iran dimulai pada hari Kamis, dan hari Sabtu adalah hari libur nasional yang sudah lama berlaku.

Kejaksaan Agung Iran mengatakan pada hari Rabu bahwa protes ekonomi yang damai adalah sah, tetapi setiap upaya untuk menciptakan ketidakamanan akan ditanggapi dengan "tanggapan yang tegas."

"Setiap upaya untuk mengubah protes ekonomi menjadi alat ketidakamanan, penghancuran properti publik, atau penerapan skenario yang dirancang dari luar pasti akan ditanggapi dengan tanggapan yang sah, proporsional, dan tegas," katanya.

Awal pekan ini, sebuah video yang menunjukkan seseorang duduk di tengah jalan Teheran menghadap polisi sepeda motor menjadi viral di media sosial, dengan beberapa orang melihatnya sebagai "momen Tiananmen"—merujuk pada gambar terkenal seorang demonstran China yang menentang barisan tank selama protes anti-pemerintah tahun 1989 di Beijing.

Pada hari Kamis, televisi pemerintah menuduh rekaman tersebut telah direkayasa untuk "menciptakan simbol" dan menayangkan video lain yang konon diambil dari sudut lain oleh kamera petugas polisi.

Duduk bersila, demonstran itu tetap tanpa ekspresi, kepala tertunduk, sebelum menutupi kepalanya dengan jaketnya saat di belakangnya kerumunan orang melarikan diri dari kepulan gas air mata.

Pada Rabu malam, kantor berita Tasnim melaporkan penangkapan tujuh orang yang digambarkan sebagai berafiliasi dengan "kelompok-kelompok yang memusuhi Republik Islam yang berbasis di Amerika Serikat dan Eropa."

Disebutkan juga, "Mereka telah ditugaskan untuk mengubah demonstrasi menjadi kekerasan." Tasnim tidak menyebutkan kapan mereka ditangkap.

Pemerintah Iran biasanya menuduh kekuatan asing, khususnya Amerika Serikat dan Israel, berada di balik protes anti-rezim di negara tersebut.

Mata uang nasional, rial, telah kehilangan lebih dari sepertiga nilainya terhadap dolar AS selama setahun terakhir, sementara hiperinflasi dua digit telah melemahkan daya beli warga Iran selama bertahun-tahun.

Tingkat inflasi pada bulan Desember adalah 52 persen secara tahunan, menurut Pusat Statistik Iran.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Iran akan Bangun Saluran...
Iran akan Bangun Saluran Komunikasi Langsung Hormuz dengan AS
Iran Bisa Terima Rp894...
Iran Bisa Terima Rp894 Triliun dalam Bentuk Keringanan Sanksi sesuai Kesepakatan Akhir
Iran Klaim 3 Poin Kemenangan...
Iran Klaim 3 Poin Kemenangan dalam Negosiasi dengan AS, Termasuk Aset Senilai Rp214 Triliun
Siapa Bagher Ghalibaf?...
Siapa Bagher Ghalibaf? Negosiator Iran dan Tangan Kanan Mojtaba yang Mampu Menundukkan AS
Trump Ancam Tak Tolong...
Trump Ancam Tak Tolong Negara-negara NATO karena Tolak Bantu AS Melawan Iran
Aktivis Zionis: 15 Tahun...
Aktivis Zionis: 15 Tahun Lagi, Israel Akan Perang dengan Mesir
Timnas Iran Tinggalkan...
Timnas Iran Tinggalkan Surat Tulisan Tangan di Ruang Ganti Piala Dunia 2026
AS Rilis 14 Poin Perjanjian...
AS Rilis 14 Poin Perjanjian yang Disepakati dengan Iran untuk Akhiri Perang
Ini Alasan Jepang Naikkan...
Ini Alasan Jepang Naikkan Biaya Visa Masuk hingga 5 Kali Lipat
Rekomendasi
Damessa Perluas Layanan...
Damessa Perluas Layanan lewat Cabang Baru di Cileungsi
Purbaya Santai Tanggapi...
Purbaya Santai Tanggapi Risiko Pencucian Uang di Patriot Bond: Bisa Dipakai Bangun Ekonomi
Breaking News! Polisi...
Breaking News! Polisi Tangkap Taufik Hidayat Penyekap dan Penganiaya Sadis Wanita selama 3 Tahun di Kosan
Berita Terkini
Iran akan Bangun Saluran...
Iran akan Bangun Saluran Komunikasi Langsung Hormuz dengan AS
Putin: Negara-negara...
Putin: Negara-negara Barat Secara Terbuka Mengatakan Mereka Bersiap Perangi Rusia
PM Pakistan: AS dan...
PM Pakistan: AS dan Iran akan Bahas Program Rudal Balistik dan Isu Nuklir dalam 60 Hari ke Depan
Awas, AI dalam Beberapa...
Awas, AI dalam Beberapa Bulan Lagi Bisa Lumpuhkan Pemerintahan di Berbagai Negara
Netanyahu Ingin Israel...
Netanyahu Ingin Israel Bebaskan Diri dari Ketergantungan Persenjataan pada AS
Iran Bisa Terima Rp894...
Iran Bisa Terima Rp894 Triliun dalam Bentuk Keringanan Sanksi sesuai Kesepakatan Akhir
Infografis
6 Jenderal Bintang 4...
6 Jenderal Bintang 4 AS Ini Pernah Peringatkan Trump soal Risiko Perang Melawan Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved