Seorang Anggota ISIS Tembak Mati 2 Tentara AS dan 1 Warga Sipil di Suriah
Minggu, 14 Desember 2025 - 05:29 WIB
loading...
Seorang anggota ISIS menembak mati 3 warga negara AS di Suriah, yang terdiri dari 2 tentara dan 1 warga sipil. Tiga tentara AS lainnya terluka. Foto/War on the Rocks
A
A
A
DAMASKUS - Seorang anggota kelompok Islamic State atau ISIS telah menembak mati tiga warga negara Amerika Serikat (AS) di Suriah. Ketiga korban adalah dua tentara dan seorang warga sipil.
Komando Pusat (CENTCOM) AS mengatakan serangan penyergapan oleh anggota ISIS itu terjadi pada hari Sabtu.
"Dua anggota militer AS dan satu warga sipil AS tewas, dan tiga anggota militer lainnya terluka, akibat serangan mendadak oleh seorang pria bersenjata ISIS di Suriah. Pria bersenjata itu berhasil dilumpuhkan dan tewas," kata CENTCOM, yang mengawasi militer Amerika di Timur Tengah, dalam unggahannya di X.
Baca Juga: Algojo ISIS yang Bakar Hidup-hidup Pilot Yordania Dihukum Penjara Seumur Hidup
CENTCOM tidak menjelaskan secara rinci di mana tepatnya insiden itu terjadi dan tidak mengungkapkan identitas para korban sesuai dengan kebijakan Pentagon.
Presiden AS Donald Trump telah bersumpah akan melakukan pembalasan yang sangat serius atas serangan itu dan menyalahkan kelompok ISIS.
“Ini adalah serangan ISIS terhadap AS dan Suriah, di bagian Suriah yang sangat berbahaya yang tidak sepenuhnya dikuasai oleh mereka. Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa sangat marah dan terganggu oleh serangan ini,” tulis Trump dalam sebuah unggahan di platform Truth Social miliknya, Minggu (14/12/2025).
Menurut laporan media lokal, serangan itu terjadi di dekat kota Palmyra di Suriah tengah, di mana patroli gabungan pasukan pemerintah Suriah dan pasukan AS diserang. Setidaknya dua prajurit Suriah terluka dalam serangan itu.
Lalu lintas di sepanjang jalan raya Damaskus-Deir ez-Zor dihentikan sementara setelah serangan itu, dan area di sekitar Palmyra dikordonisasi. Beberapa pesawat militer AS terlihat terbang rendah di area tersebut, menurut rekaman yang beredar online.
Kementerian Dalam Negeri Suriah mengeklaim telah memperingatkan koalisi pimpinan AS tentang kemungkinan serangan oleh ISIS. Namun, peringatan sebelumnya tentang kemungkinan infiltrasi ISIS akhirnya diabaikan oleh pasukan mitra, klaim juru bicara kementerian tersebut, Anwar al-Baba, dalam pidato yang disiarkan televisi.
Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin Kurdi, yang tetap menguasai wilayah timur laut Suriah, menyampaikan belasungkawa terdalam kepada AS atas insiden tersebut.
SDF, sekutu lama Washington di kawasan itu, menegaskan kembali komitmennya untuk memerangi terorisme dan berjanji akan memberikan respons tegas dan langsung terhadap mereka yang bertanggung jawab atas serangan itu dan mereka yang mendukungnya.
Dalam pernyataannya, SDF tidak menyebutkan pemerintah di Damaskus, yang hubungannya tetap tegang. Damaskus telah berupaya untuk menempatkan wilayah yang dikuasai SDF di bawah kendali langsungnya selama berbulan-bulan, namun belum ada terobosan yang dicapai.
Amerika Serikat telah lama mempertahankan kehadiran militer di Suriah, mendukung SDF di timur laut dan kelompok pemberontak kecil di selatan negara itu. Setelah runtuhnya pemerintahan Bashar al-Assad secara tiba-tiba akhir tahun lalu dan pengambilalihan kekuasaan oleh kelompok Islamis, yang dipimpin oleh al-Sharaa, Pentagon juga memperluas kerja sama militer kepada otoritas baru tersebut.
Dalam beberapa bulan terakhir, pasukan keamanan AS dan Suriah telah melakukan beberapa operasi gabungan, yang diklaim ditujukan untuk menargetkan sisa-sisa ISIS. AS telah mengerahkan sebanyak 2.000 tentara ke Suriah, tetapi pemerintahan Trump mengumumkan awal tahun ini bahwa mereka berupaya mengurangi kehadiran militer dan mengurangi jumlah pangkalan yang dipertahankan Pentagon di negara tersebut.
Komando Pusat (CENTCOM) AS mengatakan serangan penyergapan oleh anggota ISIS itu terjadi pada hari Sabtu.
"Dua anggota militer AS dan satu warga sipil AS tewas, dan tiga anggota militer lainnya terluka, akibat serangan mendadak oleh seorang pria bersenjata ISIS di Suriah. Pria bersenjata itu berhasil dilumpuhkan dan tewas," kata CENTCOM, yang mengawasi militer Amerika di Timur Tengah, dalam unggahannya di X.
Baca Juga: Algojo ISIS yang Bakar Hidup-hidup Pilot Yordania Dihukum Penjara Seumur Hidup
CENTCOM tidak menjelaskan secara rinci di mana tepatnya insiden itu terjadi dan tidak mengungkapkan identitas para korban sesuai dengan kebijakan Pentagon.
Presiden AS Donald Trump telah bersumpah akan melakukan pembalasan yang sangat serius atas serangan itu dan menyalahkan kelompok ISIS.
“Ini adalah serangan ISIS terhadap AS dan Suriah, di bagian Suriah yang sangat berbahaya yang tidak sepenuhnya dikuasai oleh mereka. Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa sangat marah dan terganggu oleh serangan ini,” tulis Trump dalam sebuah unggahan di platform Truth Social miliknya, Minggu (14/12/2025).
Menurut laporan media lokal, serangan itu terjadi di dekat kota Palmyra di Suriah tengah, di mana patroli gabungan pasukan pemerintah Suriah dan pasukan AS diserang. Setidaknya dua prajurit Suriah terluka dalam serangan itu.
Lalu lintas di sepanjang jalan raya Damaskus-Deir ez-Zor dihentikan sementara setelah serangan itu, dan area di sekitar Palmyra dikordonisasi. Beberapa pesawat militer AS terlihat terbang rendah di area tersebut, menurut rekaman yang beredar online.
Kementerian Dalam Negeri Suriah mengeklaim telah memperingatkan koalisi pimpinan AS tentang kemungkinan serangan oleh ISIS. Namun, peringatan sebelumnya tentang kemungkinan infiltrasi ISIS akhirnya diabaikan oleh pasukan mitra, klaim juru bicara kementerian tersebut, Anwar al-Baba, dalam pidato yang disiarkan televisi.
Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin Kurdi, yang tetap menguasai wilayah timur laut Suriah, menyampaikan belasungkawa terdalam kepada AS atas insiden tersebut.
SDF, sekutu lama Washington di kawasan itu, menegaskan kembali komitmennya untuk memerangi terorisme dan berjanji akan memberikan respons tegas dan langsung terhadap mereka yang bertanggung jawab atas serangan itu dan mereka yang mendukungnya.
Dalam pernyataannya, SDF tidak menyebutkan pemerintah di Damaskus, yang hubungannya tetap tegang. Damaskus telah berupaya untuk menempatkan wilayah yang dikuasai SDF di bawah kendali langsungnya selama berbulan-bulan, namun belum ada terobosan yang dicapai.
Amerika Serikat telah lama mempertahankan kehadiran militer di Suriah, mendukung SDF di timur laut dan kelompok pemberontak kecil di selatan negara itu. Setelah runtuhnya pemerintahan Bashar al-Assad secara tiba-tiba akhir tahun lalu dan pengambilalihan kekuasaan oleh kelompok Islamis, yang dipimpin oleh al-Sharaa, Pentagon juga memperluas kerja sama militer kepada otoritas baru tersebut.
Dalam beberapa bulan terakhir, pasukan keamanan AS dan Suriah telah melakukan beberapa operasi gabungan, yang diklaim ditujukan untuk menargetkan sisa-sisa ISIS. AS telah mengerahkan sebanyak 2.000 tentara ke Suriah, tetapi pemerintahan Trump mengumumkan awal tahun ini bahwa mereka berupaya mengurangi kehadiran militer dan mengurangi jumlah pangkalan yang dipertahankan Pentagon di negara tersebut.
(mas)
Lihat Juga :