Kapal Tanker Venezuela Dibawa ke AS, Gedung Putih Ancam Sita Lebih Banyak Kapal
Jum'at, 12 Desember 2025 - 15:59 WIB
loading...
Pasukan AS menyita kapal tanker Venezuela. Foto/the guardian
A
A
A
WASHINGTON - Satu kapal tanker minyak yang disita di lepas pantai Venezuela akan dibawa ke pelabuhan Amerika Serikat (AS), menurut juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt. Dia mengemukakan kemungkinan Washington menyita lebih banyak kapal yang dikenai sanksi di wilayah tersebut.
Berbicara kepada wartawan pada hari Kamis (11/12/2025), Leavitt membahas operasi militer AS sehari sebelumnya untuk mengambil alih kendali kapal tanker tersebut.
Dia menjelaskan AS bermaksud menyimpan minyak di kapal tersebut, meskipun ada protes dari Venezuela.
“Kapal itu akan pergi ke pelabuhan AS, dan Amerika Serikat memang bermaksud menyita minyak tersebut,” ungkap Leavitt kepada wartawan, menambahkan proses hukum yang semestinya akan dipatuhi.
Dia tidak mengesampingkan tindakan serupa di masa mendatang. Para pengamat menyebut penyitaan kapal tanker pada hari Selasa sebagai peningkatan dalam kampanye tekanan AS terhadap pemerintah pemimpin Venezuela Nicolas Maduro.
“Kami tidak akan tinggal diam dan menyaksikan kapal-kapal yang dikenai sanksi berlayar di laut dengan minyak pasar gelap, yang hasilnya akan membiayai terorisme narkoba dari rezim-rezim jahat dan tidak sah di seluruh dunia,” ujar Leavitt.
Washington belum secara resmi mengidentifikasi kapal tanker tersebut, tetapi perusahaan risiko maritim Inggris, Vanguard, mengatakan kapal tersebut tampaknya adalah kapal pengangkut minyak mentah Skipper.
Kapal tanker tersebut dikenai sanksi pada tahun 2022 karena diduga membantu mengangkut minyak untuk Pasukan Quds Iran dan kelompok bersenjata Lebanon, Hizbullah, yang didukung Iran.
Caracas menyebut penyitaan itu sebagai tindakan “pembajakan internasional”.
AS telah meningkatkan aset militer ke wilayah Karibia dalam beberapa bulan terakhir, yang menyebabkan spekulasi bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump dapat mempersiapkan tindakan agresif terhadap Maduro.
Sejak 2 September, Gedung Putih Trump juga telah melakukan 22 serangan yang diketahui terhadap kapal-kapal yang diduga menyelundupkan narkoba di Karibia dan Pasifik timur.
Kampanye pengeboman itu telah menewaskan sedikitnya 87 orang, memicu protes atas dugaan pelanggaran hukum internasional.
Dalam beberapa penampilan di media, Trump mengancam akan melanjutkan kampanye pengeboman di darat, mungkin di Venezuela sendiri, untuk menghentikan dugaan penyelundup narkoba.
“Kita akan mulai melakukan serangan darat juga,” ungkap Trump dalam rapat kabinet pada 2 Desember.
“Anda tahu, darat jauh lebih mudah. Jauh lebih mudah. Dan kita tahu rute yang mereka lalui. Kita tahu segalanya tentang mereka. Kita tahu di mana mereka tinggal. Kita tahu di mana orang-orang jahat tinggal, dan kita akan segera memulainya juga.”
Namun, para ahli telah menolak klaim bahwa Venezuela adalah sumber utama narkoba yang diselundupkan ke AS.
Maduro mengatakan kampanye tekanan tersebut bertujuan menggulingkan pemerintahannya.
Baca juga: AS Rampas Kapal Tanker Raksasa, Diduga Angkut Minyak Venezuela ke Iran
Berbicara kepada wartawan pada hari Kamis (11/12/2025), Leavitt membahas operasi militer AS sehari sebelumnya untuk mengambil alih kendali kapal tanker tersebut.
Dia menjelaskan AS bermaksud menyimpan minyak di kapal tersebut, meskipun ada protes dari Venezuela.
“Kapal itu akan pergi ke pelabuhan AS, dan Amerika Serikat memang bermaksud menyita minyak tersebut,” ungkap Leavitt kepada wartawan, menambahkan proses hukum yang semestinya akan dipatuhi.
Dia tidak mengesampingkan tindakan serupa di masa mendatang. Para pengamat menyebut penyitaan kapal tanker pada hari Selasa sebagai peningkatan dalam kampanye tekanan AS terhadap pemerintah pemimpin Venezuela Nicolas Maduro.
“Kami tidak akan tinggal diam dan menyaksikan kapal-kapal yang dikenai sanksi berlayar di laut dengan minyak pasar gelap, yang hasilnya akan membiayai terorisme narkoba dari rezim-rezim jahat dan tidak sah di seluruh dunia,” ujar Leavitt.
Washington belum secara resmi mengidentifikasi kapal tanker tersebut, tetapi perusahaan risiko maritim Inggris, Vanguard, mengatakan kapal tersebut tampaknya adalah kapal pengangkut minyak mentah Skipper.
Kapal tanker tersebut dikenai sanksi pada tahun 2022 karena diduga membantu mengangkut minyak untuk Pasukan Quds Iran dan kelompok bersenjata Lebanon, Hizbullah, yang didukung Iran.
Caracas menyebut penyitaan itu sebagai tindakan “pembajakan internasional”.
AS telah meningkatkan aset militer ke wilayah Karibia dalam beberapa bulan terakhir, yang menyebabkan spekulasi bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump dapat mempersiapkan tindakan agresif terhadap Maduro.
Sejak 2 September, Gedung Putih Trump juga telah melakukan 22 serangan yang diketahui terhadap kapal-kapal yang diduga menyelundupkan narkoba di Karibia dan Pasifik timur.
Kampanye pengeboman itu telah menewaskan sedikitnya 87 orang, memicu protes atas dugaan pelanggaran hukum internasional.
Dalam beberapa penampilan di media, Trump mengancam akan melanjutkan kampanye pengeboman di darat, mungkin di Venezuela sendiri, untuk menghentikan dugaan penyelundup narkoba.
“Kita akan mulai melakukan serangan darat juga,” ungkap Trump dalam rapat kabinet pada 2 Desember.
“Anda tahu, darat jauh lebih mudah. Jauh lebih mudah. Dan kita tahu rute yang mereka lalui. Kita tahu segalanya tentang mereka. Kita tahu di mana mereka tinggal. Kita tahu di mana orang-orang jahat tinggal, dan kita akan segera memulainya juga.”
Namun, para ahli telah menolak klaim bahwa Venezuela adalah sumber utama narkoba yang diselundupkan ke AS.
Maduro mengatakan kampanye tekanan tersebut bertujuan menggulingkan pemerintahannya.
Baca juga: AS Rampas Kapal Tanker Raksasa, Diduga Angkut Minyak Venezuela ke Iran
(sya)
Lihat Juga :