Israel dan Lebanon Gelar Perundingan Langsung Pertama dalam Beberapa Dekade
Kamis, 04 Desember 2025 - 16:00 WIB
loading...
Tentara Lebanon dan UNIFIL berada di wilayah perbatasan Lebanon dan Israel. Foto/anadolu
A
A
A
BEIRUT - Israel dan Lebanon menggelar perundingan langsung pertama mereka dalam beberapa dekade sebagai bagian dari gencatan senjata yang ditengahi Amerika Serikat (AS) yang mengakhiri perang antara Negara Yahudi dan kelompok militer Hizbullah.
Perwakilan sipil dari kedua belah pihak bertemu pada hari Rabu (3/12/2025) di markas pasukan penjaga perdamaian PBB di Naqoura, Lebanon, ungkap kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, sebagaimana dikutip oleh media.
Pertemuan tersebut, yang diselenggarakan berdasarkan mekanisme yang dibentuk setelah gencatan senjata November 2024, merupakan pertemuan pertama yang melibatkan pejabat sipil, bukan hanya perwira militer.
Seorang juru bicara Netanyahu menggambarkan pertemuan tersebut sebagai "bersejarah", dan mengatakan pertemuan tersebut merupakan langkah awal menuju kemungkinan kerja sama di masa mendatang.
“Utusan khusus AS untuk Lebanon, Morgan Ortagus, juga hadir,” ungkap Kedutaan Besar Amerika di Beirut.
Sebelumnya pada hari itu, Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam mengatakan kepada wartawan bahwa kerja sama ekonomi di masa mendatang dengan Israel hanya dapat terwujud setelah tercapainya perjanjian damai.
"Kita masih jauh dari itu," ujarnya.
Perundingan tersebut menyusul tekanan AS untuk melakukan kontak langsung antara kedua negara tetangga tersebut seiring meningkatnya ketegangan di perbatasan.
Israel telah berulang kali melanggar gencatan senjata dengan menyerang berbagai wilayah Lebanon.
Gencatan senjata tersebut mengakhiri lebih dari setahun permusuhan lintas batas yang dimulai setelah Hizbullah melancarkan serangan ke wilayah Israel sebagai bentuk solidaritas dengan warga Palestina di Gaza.
Bentrokan tersebut kemudian meningkat menjadi serangan penuh Israel yang menewaskan tokoh-tokoh senior Hizbullah, menghancurkan persediaan senjata, dan menyebabkan korban sipil yang signifikan.
Beirut telah memperingatkan serangan udara Israel dapat menyeret negara itu ke dalam "perang baru."
Salam mengatakan pada hari Rabu bahwa fase pertama untuk menempatkan semua senjata di bawah otoritas negara bergantung pada penarikan Israel dari wilayah-wilayah pendudukan, dan Beirut terbuka terhadap verifikasi AS dan Prancis atas sisa-sisa gudang senjata Hizbullah di selatan.
Netanyahu telah berulang kali mendesak Lebanon bergabung dengan Perjanjian Abraham, perjanjian yang dengannya beberapa negara Arab dan Muslim menormalisasi hubungan dengan Israel. Beirut tidak mendukung pendekatan tersebut.
Perundingan langsung terakhir antara Israel dan Lebanon diadakan pada tahun 1983 setelah invasi Israel ke Lebanon, menghasilkan perjanjian yang seharusnya membangun hubungan tetapi tidak pernah diratifikasi.
Baca juga: Terungkap, Tentara Israel Membuldoser Jenazah-jenazah Warga Palestina di Gaza
Perwakilan sipil dari kedua belah pihak bertemu pada hari Rabu (3/12/2025) di markas pasukan penjaga perdamaian PBB di Naqoura, Lebanon, ungkap kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, sebagaimana dikutip oleh media.
Pertemuan tersebut, yang diselenggarakan berdasarkan mekanisme yang dibentuk setelah gencatan senjata November 2024, merupakan pertemuan pertama yang melibatkan pejabat sipil, bukan hanya perwira militer.
Seorang juru bicara Netanyahu menggambarkan pertemuan tersebut sebagai "bersejarah", dan mengatakan pertemuan tersebut merupakan langkah awal menuju kemungkinan kerja sama di masa mendatang.
“Utusan khusus AS untuk Lebanon, Morgan Ortagus, juga hadir,” ungkap Kedutaan Besar Amerika di Beirut.
Sebelumnya pada hari itu, Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam mengatakan kepada wartawan bahwa kerja sama ekonomi di masa mendatang dengan Israel hanya dapat terwujud setelah tercapainya perjanjian damai.
"Kita masih jauh dari itu," ujarnya.
Perundingan tersebut menyusul tekanan AS untuk melakukan kontak langsung antara kedua negara tetangga tersebut seiring meningkatnya ketegangan di perbatasan.
Israel telah berulang kali melanggar gencatan senjata dengan menyerang berbagai wilayah Lebanon.
Gencatan senjata tersebut mengakhiri lebih dari setahun permusuhan lintas batas yang dimulai setelah Hizbullah melancarkan serangan ke wilayah Israel sebagai bentuk solidaritas dengan warga Palestina di Gaza.
Bentrokan tersebut kemudian meningkat menjadi serangan penuh Israel yang menewaskan tokoh-tokoh senior Hizbullah, menghancurkan persediaan senjata, dan menyebabkan korban sipil yang signifikan.
Beirut telah memperingatkan serangan udara Israel dapat menyeret negara itu ke dalam "perang baru."
Salam mengatakan pada hari Rabu bahwa fase pertama untuk menempatkan semua senjata di bawah otoritas negara bergantung pada penarikan Israel dari wilayah-wilayah pendudukan, dan Beirut terbuka terhadap verifikasi AS dan Prancis atas sisa-sisa gudang senjata Hizbullah di selatan.
Netanyahu telah berulang kali mendesak Lebanon bergabung dengan Perjanjian Abraham, perjanjian yang dengannya beberapa negara Arab dan Muslim menormalisasi hubungan dengan Israel. Beirut tidak mendukung pendekatan tersebut.
Perundingan langsung terakhir antara Israel dan Lebanon diadakan pada tahun 1983 setelah invasi Israel ke Lebanon, menghasilkan perjanjian yang seharusnya membangun hubungan tetapi tidak pernah diratifikasi.
Baca juga: Terungkap, Tentara Israel Membuldoser Jenazah-jenazah Warga Palestina di Gaza
(sya)
Lihat Juga :