Rudal Satan II Rusia Momok bagi Barat Meledak usai Lepas Landas
Selasa, 02 Desember 2025 - 12:13 WIB
loading...
A
A
A
Lokasi uji nominal untuk rudal baru tersebut dipindahkan dari Plesetsk, 800 kilometer di utara Moskow, ke pangkalan udara Dombarovsky dekat Yasny setelah silo lainnya dihancurkan pada tahun 2024, kata Podvig.
Citra satelit dari peluncuran terbaru tampaknya menunjukkan rudal tersebut mendarat hanya sekitar setengah mil dari silonya dan meninggalkan kawah selebar 70 meter, menurut para analis.
Podvig mengatakan Rusia kemungkinan akan terus menguji coba rudal tersebut meskipun mengalami kegagalan.
“Dalam skala yang lebih besar, jelas ada anggapan bahwa Rusia membutuhkan rudal yang besar dan berat seperti ini yang dapat membawa banyak hulu ledak dan alat bantu penetrasi untuk melawan pertahanan rudal AS,” ujarnya.
“Jadi, ini lebih merupakan pernyataan politik daripada kemampuan militer. Jika dilihat dari manfaat militernya, Rusia akan baik-baik saja tanpa Sarmat, tetapi sifat politik dari program ini cukup signifikan, jadi mereka mungkin akan mencoba membuatnya berhasil.”
Etienne Marcuz, seorang peneliti di lembaga riset Foundation for Strategic Research Prancis, mengatakan: “Ini akan menjadi kegagalan kelima berturut-turut bagi rudal strategis ini, yang digadang-gadang sebagai andalan baru penangkal nuklir Rusia. Rudal yang diluncurkan dari kapal selam [SLBM] Bulava tampaknya tidak jauh lebih baik."
“Namun, penangkal nuklir inilah yang memungkinkan Rusia untuk terlibat dalam apa yang disebut ‘sanktuarisasi agresif’, yaitu, melancarkan perang agresi seperti invasi ke Ukraina sambil mengancam calon pendukung negara-negara yang diserang dengan pembalasan nuklir," paparnya.
Citra satelit dari peluncuran terbaru tampaknya menunjukkan rudal tersebut mendarat hanya sekitar setengah mil dari silonya dan meninggalkan kawah selebar 70 meter, menurut para analis.
Podvig mengatakan Rusia kemungkinan akan terus menguji coba rudal tersebut meskipun mengalami kegagalan.
“Dalam skala yang lebih besar, jelas ada anggapan bahwa Rusia membutuhkan rudal yang besar dan berat seperti ini yang dapat membawa banyak hulu ledak dan alat bantu penetrasi untuk melawan pertahanan rudal AS,” ujarnya.
“Jadi, ini lebih merupakan pernyataan politik daripada kemampuan militer. Jika dilihat dari manfaat militernya, Rusia akan baik-baik saja tanpa Sarmat, tetapi sifat politik dari program ini cukup signifikan, jadi mereka mungkin akan mencoba membuatnya berhasil.”
Etienne Marcuz, seorang peneliti di lembaga riset Foundation for Strategic Research Prancis, mengatakan: “Ini akan menjadi kegagalan kelima berturut-turut bagi rudal strategis ini, yang digadang-gadang sebagai andalan baru penangkal nuklir Rusia. Rudal yang diluncurkan dari kapal selam [SLBM] Bulava tampaknya tidak jauh lebih baik."
“Namun, penangkal nuklir inilah yang memungkinkan Rusia untuk terlibat dalam apa yang disebut ‘sanktuarisasi agresif’, yaitu, melancarkan perang agresi seperti invasi ke Ukraina sambil mengancam calon pendukung negara-negara yang diserang dengan pembalasan nuklir," paparnya.
(mas)
Lihat Juga :