3 Pemicu yang Bisa Seret China dan Jepang ke Ambang Perang Dunia III
Senin, 01 Desember 2025 - 13:22 WIB
loading...
Ada tiga pemicu yang bisa menyeret China dan Jepang ke ambang Perang Dunia III terkait masalah Taiwan. Foto/The Sun
A
A
A
JAKARTA - Ketegangan antara dua musuh bebuyutan Asia; China dan Jepang, kembali memanas dan memasuki fase paling berbahaya dalam beberapa dekade. Perselisihan terkait Taiwan kini berubah menjadi perang kata-kata yang mengeras, lengkap dengan ancaman militer, penarikan diplomat, hingga pengerahan senjata strategis dekat wilayah sengketa.
Beijing terang-terangan memperingatkan dunia bahwa mereka “siap berperang” di tengah komentar Perdana Menteri Jepang (PM) Sanae Takaichi, yang menyatakan Tokyo dapat merespons secara militer jika China berupaya menguasai Taiwan.
Pernyataan itu membuat Beijing marah. China memanggil duta besar Jepang, membatalkan sejumlah penerbangan, serta menyarankan warganya untuk tidak bepergian ke Negeri Sakura. Situasi makin memanas setelah Tokyo menegaskan rencana penempatan sistem rudal di Pulau Yonaguni—hanya 67 mil dari Taiwan.
Baca Juga: AS-Jepang Ancam Tenggelamkan Kapal Induk China, Beijing: Itu Fantasi!
China menuduh Jepang sengaja memprovokasi dan memperingatkan Tokyo akan membayar “harga yang mahal” jika melampaui batas.
Profesor Ashok Swain dari Universitas Uppsala menyebut situasi saat ini sebagai fase yang “sangat sensitif”. Meski perang skala penuh dianggap kecil kemungkinannya, dia menegaskan eskalasi dapat terjadi kapan saja.
“Ketika retorika politik meningkat, risiko salah langkah juga meningkat. Satu insiden kecil saja bisa memicu bentrokan militer,” ujar Swain, seperti dikutip dari The Sun, Senin (1/12/2025).
Analis militer Philip Ingram menilai Jepang kini tampil jauh lebih agresif di bawah kepemimpinan PM Takaichi.
“Jepang sedang menunjukkan kekuatan yang belum pernah ditampilkannya sejak Perang Dunia II. Dengan menempatkan kemampuan militer di garis depan, Jepang pada dasarnya sedang ‘menyodok naga China’,” katanya.
Menurut Profesor Swain, ada tiga titik bahaya yang dapat memicu eskalasi besar, bahkan perang yang menyeret kekuatan global seperti Amerika Serikat (AS)—yang artinya bisa menjadi Perang Dunia III.
Di tengah patroli intens di atas Laut China Timur, tabrakan atau manuver agresif antar-jet tempur China dan Jepang dapat memicu baku tembak spontan.
Skenario seperti ini pernah terjadi dalam sejarah—Insiden Jembatan Marco Polo 1937, yang bermula dari kesalahpahaman kecil, memicu Perang China-Jepang Kedua.
“Ketika ketegangan sudah tinggi, kecelakaan kecil bisa langsung dibaca sebagai serangan,” kata Swain.
Kepulauan di dekat Taiwan; Senkaku/Diaoyu dan Yonaguni kini menjadi titik aktivitas militer intens.
Tabrakan kapal perang maupun kapal Penjaga Pantai—bahkan yang tidak disengaja—dapat memicu respons cepat dari kedua negara, yang sulit dihentikan sebelum menjadi konflik terbuka.
Inilah “garis merah” utama Beijing.
Jika Jepang benar-benar menempatkan rudal di pulau dekat Taiwan atau, lebih buruk, di wilayah Taiwan sendiri, China hampir pasti akan bereaksi “keras dan segera”.
Tokyo berencana mengerahkan rudal Type-03 Surface-to-Air di Yonaguni sebagai pencegah serangan udara China. Rencana itu langsung disambut ancaman terbuka dari Beijing.
Situasi ini menjadi jauh lebih eksplosif karena keterlibatan Amerika Serikat.
Di bawah Perjanjian Keamanan AS–Jepang, Washington wajib membela Tokyo jika terjadi serangan.
George Glass, duta besar AS untuk Jepang, menegaskan bahwa Amerika mendukung penuh Tokyo menghadapi tekanan Beijing.
Artinya, bentrokan kecil antara kapal atau jet China dan Jepang bisa berkembang menjadi konflik yang menyeret dua kekuatan nuklir dunia.
Beijing telah menayangkan video propaganda Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) berjudul “Jika Perang Pecah Hari Ini, Inilah Tanggapanku”. Sementara Jepang terus memperkuat fasilitas militernya dengan dukungan Amerika.
Taiwan menyambut langkah Jepang, menyebut pengerahan sistem pertahanan rudal di Yonaguni sebagai “kunci stabilitas” di Selat Taiwan.
Namun bagi China, penempatan itu adalah ancaman langsung yang membuka pintu konfrontasi.
Satu kesalahan kecil, satu manuver yang salah tafsir, atau satu misil yang ditembakkan di waktu yang salah—dapat menjadi percikan yang menyeret China, Jepang, Taiwan, dan Amerika Serikat ke dalam salah satu konflik terbesar abad ini.
AS telah mempertahankan fasilitas dan pasukan militer utama di tanah Jepang. Jika serangan China menargetkan pangkalan-pangkalannya, kemungkinan besar AS akan terseret ke dalam konflik tersebut.
Meskipun NATO tidak mempertahankan pakta pertahanan bersama Pasal 5 di kawasan Asia-Pasifik, keterlibatan langsung AS kemungkinan akan mendorong sekutu Barat untuk memberikan dukungan mereka kepada AS–dan juga Jepang.
Sementara itu, Rusia diperkirakan akan bergabung dengan sekutunya; China, dalam perang.
Meskipun Rusia dan China tidak memiliki perjanjian pertahanan bersama formal ala NATO, mereka memiliki hubungan strategis yang mendalam yang akan mendorong Moskow untuk membantu membela Beijing.
Presiden Rusia Vladimir Putin juga dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk melancarkan serangan ke Eropa guna membagi sumber daya NATO sementara Beijing terus bertempur di garis depan utama.
Di sisi lain, Iran dan Korea Utara juga berpotensi memberikan dukungan mereka kepada aliansi Rusia-China.
Beijing terang-terangan memperingatkan dunia bahwa mereka “siap berperang” di tengah komentar Perdana Menteri Jepang (PM) Sanae Takaichi, yang menyatakan Tokyo dapat merespons secara militer jika China berupaya menguasai Taiwan.
Pernyataan itu membuat Beijing marah. China memanggil duta besar Jepang, membatalkan sejumlah penerbangan, serta menyarankan warganya untuk tidak bepergian ke Negeri Sakura. Situasi makin memanas setelah Tokyo menegaskan rencana penempatan sistem rudal di Pulau Yonaguni—hanya 67 mil dari Taiwan.
Baca Juga: AS-Jepang Ancam Tenggelamkan Kapal Induk China, Beijing: Itu Fantasi!
China menuduh Jepang sengaja memprovokasi dan memperingatkan Tokyo akan membayar “harga yang mahal” jika melampaui batas.
Profesor Ashok Swain dari Universitas Uppsala menyebut situasi saat ini sebagai fase yang “sangat sensitif”. Meski perang skala penuh dianggap kecil kemungkinannya, dia menegaskan eskalasi dapat terjadi kapan saja.
“Ketika retorika politik meningkat, risiko salah langkah juga meningkat. Satu insiden kecil saja bisa memicu bentrokan militer,” ujar Swain, seperti dikutip dari The Sun, Senin (1/12/2025).
Analis militer Philip Ingram menilai Jepang kini tampil jauh lebih agresif di bawah kepemimpinan PM Takaichi.
“Jepang sedang menunjukkan kekuatan yang belum pernah ditampilkannya sejak Perang Dunia II. Dengan menempatkan kemampuan militer di garis depan, Jepang pada dasarnya sedang ‘menyodok naga China’,” katanya.
3 Pemicu yang Bisa Menyeret China dan Jepang ke Ambang Perang Dunia III
Menurut Profesor Swain, ada tiga titik bahaya yang dapat memicu eskalasi besar, bahkan perang yang menyeret kekuatan global seperti Amerika Serikat (AS)—yang artinya bisa menjadi Perang Dunia III.
1. Bentrokan Jet Tempur di Udara
Di tengah patroli intens di atas Laut China Timur, tabrakan atau manuver agresif antar-jet tempur China dan Jepang dapat memicu baku tembak spontan.
Skenario seperti ini pernah terjadi dalam sejarah—Insiden Jembatan Marco Polo 1937, yang bermula dari kesalahpahaman kecil, memicu Perang China-Jepang Kedua.
“Ketika ketegangan sudah tinggi, kecelakaan kecil bisa langsung dibaca sebagai serangan,” kata Swain.
2. Tabrakan Kapal Perang atau Kapal Penjaga Pantai
Kepulauan di dekat Taiwan; Senkaku/Diaoyu dan Yonaguni kini menjadi titik aktivitas militer intens.
Tabrakan kapal perang maupun kapal Penjaga Pantai—bahkan yang tidak disengaja—dapat memicu respons cepat dari kedua negara, yang sulit dihentikan sebelum menjadi konflik terbuka.
3. Penempatan Rudal Jepang di Dekat atau di Taiwan
Inilah “garis merah” utama Beijing.
Jika Jepang benar-benar menempatkan rudal di pulau dekat Taiwan atau, lebih buruk, di wilayah Taiwan sendiri, China hampir pasti akan bereaksi “keras dan segera”.
Tokyo berencana mengerahkan rudal Type-03 Surface-to-Air di Yonaguni sebagai pencegah serangan udara China. Rencana itu langsung disambut ancaman terbuka dari Beijing.
AS Bela Jepang, Rusia Bela China
Situasi ini menjadi jauh lebih eksplosif karena keterlibatan Amerika Serikat.
Di bawah Perjanjian Keamanan AS–Jepang, Washington wajib membela Tokyo jika terjadi serangan.
George Glass, duta besar AS untuk Jepang, menegaskan bahwa Amerika mendukung penuh Tokyo menghadapi tekanan Beijing.
Artinya, bentrokan kecil antara kapal atau jet China dan Jepang bisa berkembang menjadi konflik yang menyeret dua kekuatan nuklir dunia.
Beijing telah menayangkan video propaganda Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) berjudul “Jika Perang Pecah Hari Ini, Inilah Tanggapanku”. Sementara Jepang terus memperkuat fasilitas militernya dengan dukungan Amerika.
Taiwan menyambut langkah Jepang, menyebut pengerahan sistem pertahanan rudal di Yonaguni sebagai “kunci stabilitas” di Selat Taiwan.
Namun bagi China, penempatan itu adalah ancaman langsung yang membuka pintu konfrontasi.
Satu kesalahan kecil, satu manuver yang salah tafsir, atau satu misil yang ditembakkan di waktu yang salah—dapat menjadi percikan yang menyeret China, Jepang, Taiwan, dan Amerika Serikat ke dalam salah satu konflik terbesar abad ini.
AS telah mempertahankan fasilitas dan pasukan militer utama di tanah Jepang. Jika serangan China menargetkan pangkalan-pangkalannya, kemungkinan besar AS akan terseret ke dalam konflik tersebut.
Meskipun NATO tidak mempertahankan pakta pertahanan bersama Pasal 5 di kawasan Asia-Pasifik, keterlibatan langsung AS kemungkinan akan mendorong sekutu Barat untuk memberikan dukungan mereka kepada AS–dan juga Jepang.
Sementara itu, Rusia diperkirakan akan bergabung dengan sekutunya; China, dalam perang.
Meskipun Rusia dan China tidak memiliki perjanjian pertahanan bersama formal ala NATO, mereka memiliki hubungan strategis yang mendalam yang akan mendorong Moskow untuk membantu membela Beijing.
Presiden Rusia Vladimir Putin juga dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk melancarkan serangan ke Eropa guna membagi sumber daya NATO sementara Beijing terus bertempur di garis depan utama.
Di sisi lain, Iran dan Korea Utara juga berpotensi memberikan dukungan mereka kepada aliansi Rusia-China.
(mas)
Lihat Juga :