Hamas dan Mesir Capai Kemajuan dalam Masalah Senjata dan Komite Gaza
Rabu, 26 November 2025 - 10:28 WIB
loading...
Kehancuran akibat serangan Israel yang menghantam rumah keluarga Al-Khodary di Kota Gaza, Gaza, pada 22 November 2025. Foto/Saeed M. M. T. Jaras/Anadolu Agency
A
A
A
GAZA - Sumber informasi mengindikasikan kemajuan signifikan telah dicapai terkait isu senjata Hamas selama pertemuan intensif di Kairo antara pimpinan gerakan Palestina dan pejabat dari Direktorat Intelijen Umum Mesir. Kabar itu diungkap saluran RT Rusia.
Perundingan ini berlangsung di tengah upaya delegasi Palestina—yang dipimpin Mohammed Darwish, ketua Dewan Kepemimpinan Hamas, dan beranggotakan Khalil al-Hayya, Nizar Awadallah, dan Zaher Jabarin—untuk menyepakati pengaturan administratif transisi bagi Jalur Gaza.
Diskusi berfokus pada pembentukan komite teknokratis independen sebagai langkah menuju rekonsiliasi nasional Palestina yang komprehensif.
Menurut sumber tersebut, pertemuan tersebut bertujuan menetapkan kerangka kerja pemerintahan Gaza di periode mendatang, yang masih kompleks secara politik dan operasional, serta untuk membuka jalan bagi fase kedua negosiasi di bawah perjanjian "Sharm el-Sheikh–Trump", yang bertujuan mengamankan gencatan senjata jangka panjang.
Perundingan tersebut dilaporkan berfokus pada finalisasi pembentukan komite teknokratis untuk mengelola Jalur Gaza sementara, menjelang proses rekonsiliasi yang lebih luas.
Sumber-sumber tersebut menyatakan pertemuan tersebut hampir mencapai penyelesaian masalah "senjata perlawanan", khususnya mengenai penyimpanan senjata api pribadi.
Hamas bersikeras mengakhiri eskalasi Israel, dengan menyebutkan 497 pelanggaran perjanjian gencatan senjata sejak implementasinya, yang menurut Hamas telah mengakibatkan kematian lebih dari 342 warga Palestina.
Sementara itu, delegasi tingkat tinggi Amerika Serikat telah mengadakan diskusi dengan pejabat keamanan Mesir mengenai mekanisme pelaksanaan fase kedua perjanjian Sharm el-Sheikh, termasuk opsi untuk mengamankan gencatan senjata jangka panjang dan menstabilkan situasi keamanan, yang berpotensi melalui peran Mesir dalam pasukan internasional.
Sejak hari Minggu, Kairo telah menjadi tuan rumah serangkaian pertemuan berisiko tinggi antara delegasi Hamas dan kepala Intelijen Umum Mesir, Mayor Jenderal Hassan Rashad, di samping pembicaraan terpisah dengan faksi-faksi Palestina termasuk Jihad Islam, Front Populer untuk Pembebasan Palestina, Front Demokratik, Komite Perlawanan Populer dan Inisiatif Nasional Palestina.
Baca juga: 90% Warga Gaza Bertahan Hidup Hanya dengan 1 Kali Makan Sehari
Perundingan ini berlangsung di tengah upaya delegasi Palestina—yang dipimpin Mohammed Darwish, ketua Dewan Kepemimpinan Hamas, dan beranggotakan Khalil al-Hayya, Nizar Awadallah, dan Zaher Jabarin—untuk menyepakati pengaturan administratif transisi bagi Jalur Gaza.
Diskusi berfokus pada pembentukan komite teknokratis independen sebagai langkah menuju rekonsiliasi nasional Palestina yang komprehensif.
Menurut sumber tersebut, pertemuan tersebut bertujuan menetapkan kerangka kerja pemerintahan Gaza di periode mendatang, yang masih kompleks secara politik dan operasional, serta untuk membuka jalan bagi fase kedua negosiasi di bawah perjanjian "Sharm el-Sheikh–Trump", yang bertujuan mengamankan gencatan senjata jangka panjang.
Perundingan tersebut dilaporkan berfokus pada finalisasi pembentukan komite teknokratis untuk mengelola Jalur Gaza sementara, menjelang proses rekonsiliasi yang lebih luas.
Sumber-sumber tersebut menyatakan pertemuan tersebut hampir mencapai penyelesaian masalah "senjata perlawanan", khususnya mengenai penyimpanan senjata api pribadi.
Hamas bersikeras mengakhiri eskalasi Israel, dengan menyebutkan 497 pelanggaran perjanjian gencatan senjata sejak implementasinya, yang menurut Hamas telah mengakibatkan kematian lebih dari 342 warga Palestina.
Sementara itu, delegasi tingkat tinggi Amerika Serikat telah mengadakan diskusi dengan pejabat keamanan Mesir mengenai mekanisme pelaksanaan fase kedua perjanjian Sharm el-Sheikh, termasuk opsi untuk mengamankan gencatan senjata jangka panjang dan menstabilkan situasi keamanan, yang berpotensi melalui peran Mesir dalam pasukan internasional.
Sejak hari Minggu, Kairo telah menjadi tuan rumah serangkaian pertemuan berisiko tinggi antara delegasi Hamas dan kepala Intelijen Umum Mesir, Mayor Jenderal Hassan Rashad, di samping pembicaraan terpisah dengan faksi-faksi Palestina termasuk Jihad Islam, Front Populer untuk Pembebasan Palestina, Front Demokratik, Komite Perlawanan Populer dan Inisiatif Nasional Palestina.
Baca juga: 90% Warga Gaza Bertahan Hidup Hanya dengan 1 Kali Makan Sehari
(sya)
Lihat Juga :