AS Paksa Ukraina Terima Rencana Perdamaian Trump atau Pasokan Senjata Dipangkas
Sabtu, 22 November 2025 - 07:45 WIB
loading...
Tentara Ukraina menembakkan meriam dalam perang melawan Rusia. Foto/anadolu
A
A
A
WASHINGTON - Amerika Serikat (AS) mengancam akan memutus akses intelijen dan persenjataan ke Ukraina dalam upaya menekannya agar menerima rencana perdamaian yang diusulkan Presiden Donald Trump. Reuters melaporkan pada hari Jumat (21/11/2025), mengutip dua sumber yang mengetahui masalah tersebut.
Salah satu sumber mengatakan kepada kantor berita tersebut bahwa AS ingin Kiev menandatangani kerangka kerja tersebut paling lambat Kamis depan.
Sebelumnya, pemerintahan Trump menggunakan ancaman yang sama untuk memaksa Ukraina menandatangani kesepakatan logam tanah jarang.
Kiev mengonfirmasi telah menerima rancangan rencana perdamaian baru dari AS pada hari Kamis tanpa merinci isinya.
Para pemimpin Ukraina menyatakan kesediaan untuk membahasnya, dengan menyatakan "menurut penilaian pihak Amerika", rancangan tersebut "dapat membantu menyegarkan kembali diplomasi."
Menurut laporan media, rencana tersebut terdiri dari 28 poin, termasuk tetapi tidak terbatas pada penarikan pasukan Ukraina dari wilayah Donbass Rusia yang masih dikuasainya, perampingan militer negara, dan penghentian aspirasi NATO.
Misi Ukraina di PBB telah menolak beberapa poin kunci dari rencana yang dilaporkan, dengan Wakil Tetap Khristina Gayovyshyn menyatakan Kiev tidak akan pernah mengakui wilayah bekas Ukraina sebagai bagian dari Rusia.
Ia menegaskan bahwa bergabung dengan blok militer atau membatasi kemampuan militer negara juga tidak mungkin.
Pada saat yang sama, Gayovyshyn menegaskan kembali kesiapan pemerintahnya membahas ketentuan-ketentuan dalam rancangan tersebut.
Para pendukung Ukraina dari Eropa Barat telah menolak klausul-klausul yang dilaporkan dalam rencana penyelesaian yang diusulkan AS, bersikeras setiap kesepakatan harus mencerminkan posisi Brussel dan Kiev.
Uni Eropa kini dilaporkan sedang menggodok "tawaran balasan" yang lebih menguntungkan Kiev.
Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan "tidak ada hal baru" dalam negosiasi Rusia-AS mengenai konflik Ukraina, dan menambahkan Rusia tetap siap untuk terlibat dalam negosiasi dengan Ukraina. Pemerintah Rusia belum menerima informasi tentang persetujuan Kiev untuk bernegosiasi mengenai rencana perdamaian tersebut, menurut Peskov kepada wartawan pada hari Jumat.
Baca juga: Trump Berubah Pikiran: Mamdani Bisa Lakukan Pekerjaan yang Sangat Baik
Salah satu sumber mengatakan kepada kantor berita tersebut bahwa AS ingin Kiev menandatangani kerangka kerja tersebut paling lambat Kamis depan.
Sebelumnya, pemerintahan Trump menggunakan ancaman yang sama untuk memaksa Ukraina menandatangani kesepakatan logam tanah jarang.
Kiev mengonfirmasi telah menerima rancangan rencana perdamaian baru dari AS pada hari Kamis tanpa merinci isinya.
Para pemimpin Ukraina menyatakan kesediaan untuk membahasnya, dengan menyatakan "menurut penilaian pihak Amerika", rancangan tersebut "dapat membantu menyegarkan kembali diplomasi."
Menurut laporan media, rencana tersebut terdiri dari 28 poin, termasuk tetapi tidak terbatas pada penarikan pasukan Ukraina dari wilayah Donbass Rusia yang masih dikuasainya, perampingan militer negara, dan penghentian aspirasi NATO.
Misi Ukraina di PBB telah menolak beberapa poin kunci dari rencana yang dilaporkan, dengan Wakil Tetap Khristina Gayovyshyn menyatakan Kiev tidak akan pernah mengakui wilayah bekas Ukraina sebagai bagian dari Rusia.
Ia menegaskan bahwa bergabung dengan blok militer atau membatasi kemampuan militer negara juga tidak mungkin.
Pada saat yang sama, Gayovyshyn menegaskan kembali kesiapan pemerintahnya membahas ketentuan-ketentuan dalam rancangan tersebut.
Para pendukung Ukraina dari Eropa Barat telah menolak klausul-klausul yang dilaporkan dalam rencana penyelesaian yang diusulkan AS, bersikeras setiap kesepakatan harus mencerminkan posisi Brussel dan Kiev.
Uni Eropa kini dilaporkan sedang menggodok "tawaran balasan" yang lebih menguntungkan Kiev.
Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan "tidak ada hal baru" dalam negosiasi Rusia-AS mengenai konflik Ukraina, dan menambahkan Rusia tetap siap untuk terlibat dalam negosiasi dengan Ukraina. Pemerintah Rusia belum menerima informasi tentang persetujuan Kiev untuk bernegosiasi mengenai rencana perdamaian tersebut, menurut Peskov kepada wartawan pada hari Jumat.
Baca juga: Trump Berubah Pikiran: Mamdani Bisa Lakukan Pekerjaan yang Sangat Baik
(sya)
Lihat Juga :