Kapal Induk Gerald R Ford dan 12.000 Tentara AS Siap Beraksi, Tak Gubris Ajakan Damai Venezuela

Senin, 17 November 2025 - 07:53 WIB
loading...
Kapal Induk Gerald R...
Kapal induk USS Gerald Ford dan kelompok tempurnya yang mencakup 12.000 tentara AS siap beraksi di kawasan Karibia. AS abaikan ajakan damai Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Foto/US Navy via TWZ
A A A
WASHINGTON - Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) mengonfirmasi kapal induk tercanggih mereka, USS Gerald R Ford, lengkap dengan kelompok tempurnya telah resmi berada di Laut Karibia pada hari Minggu. Aset-aset tempur Washington itu siap beraksi di wilayah tersebut meski Presiden Venezuela Nicolas Maduro telah mengajak Amerika untuk berdamai.

Pemerintahan Presiden AS Donald Trump terus meningkatkan kampanye militernya di wilayah Karibia dengan mengerahkan Angkatan Laut dan Angkatan Udara dalam apa yang disebutnya sebagai tindakan keras terhadap penyelundupan narkotika.

Setidaknya 80 orang tewas dalam serangan AS terhadap 20 kapal yang diduga mengangkut narkoba di Karibia selatan dan Pasifik timur sejak awal September. Trump dan pejabat tinggi AS lainnya berdalih kapal-kapal yang diserang itu membawa narkoba yang ditujukan ke AS. Washington juga menuduh narkoba-narkoba tersebut berasal dari Venezuela.

Baca Juga: Pejabat Militer AS: Langkah-langkah Sedang Awal Disiapkan untuk Kemungkinan Invasi Venezuela

Operasi Southern Spear, yang resmi diluncurkan Pentagoan, dengan cepat menjadi salah satu inisiatif keamanan regional Washington yang paling luas jangkauannya dalam beberapa tahun terakhir, memberikan tekanan signifikan terhadap Maduro seiring meningkatnya ketegangan antara Caracas dan Washington.

Misi operasi ini adalah untuk meningkatkan keamanan dan stabilitas dengan mendeteksi, mengganggu, dan melemahkan jaringan kriminal transnasional dan jaringan maritim ilegal.

AS tidak mengakui Maduro sebagai presiden sah Venezuela, menuduhnya mencurangi Pemilu tahun lalu.

Konfirmasi Angkatan Laut AS atas kedatangan kapal induk USS Gerald R Ford pada hari Minggu menambah jumlah total pasukan AS di wilayah Karibia menjadi sekitar 12.000 personel, menurut laporan Associated Press, Senin (17/11/2025).

Kapal induk tersebut memiliki lebih dari 4.000 pelaut dan puluhan pesawat taktis di dalamnya, kata Angkatan Laut dalam siaran pers hari Minggu. Kapal induk itu dipindahkan dari Laut Mediterania dengan beberapa laporan menyebutkan ia dan kelompok tempurnya bergerak ke selatan dari Puerto Riko ke Karibia awal pekan lalu.

"Kelompok tempur kapal induk tersebut mencakup sembilan skuadron dari Sayap Udara Kapal Induk Delapan, kapal perusak berpeluru kendali kelas Arleigh Burke dari Skuadron Dua, USS Bainbridge (DDG 96) dan USS Mahan (DDG 72), serta kapal komando pertahanan udara dan rudal terpadu USS Winston S Churchill (DDG 81)," kata Angkatan Laut AS dalam sebuah pernyataan.

Unjuk kekuatan militer AS yang semakin gencar di laut ini dibangun di atas taktik tekanan yang telah berlangsung selama beberapa bulan. Pengerahan dan penempatan kapal induk merupakan taktik militer yang telah lama digunakan untuk menekan dan mencegah peperangan, karena kelompok tempur kapal induk yang ditempatkan di laut seringkali dapat menyerang target di dalam sebuah negara.

“Melalui komitmen yang teguh dan penggunaan kekuatan kami yang tepat, kami siap untuk memerangi ancaman transnasional yang berupaya mengganggu stabilitas kawasan kami. Pengerahan Kelompok Tempur Kapal Induk USS Gerald R Ford merupakan langkah penting dalam memperkuat tekad kami untuk melindungi keamanan Belahan Bumi Barat dan keselamatan Tanah Air Amerika," kata komandan SOUTHCOM AS, Laksamana Alvin Holsey, dalam siaran pers hari Minggu.

Komandan Kelompok Tempur Kapal Induk 12 AS, Laksamana Muda Paul Lanzilotta, menambahkan: “Para pemimpin negara kami telah meminta Kelompok Tempur Kapal Induk Gerald R Ford sebagai platform yang paling cakap, adaptif, dan mematikan di dunia untuk berada di tempat yang dibutuhkan, pada saat dibutuhkan. Pasukan kami akan meningkatkan kemampuan yang ada untuk melindungi keamanan dan kemakmuran negara kami dari terorisme narkotia di Belahan Bumi Barat.”

Menteri Luar Negeri Trinidad dan Tobago Sean Sobers mengatakan pasukan Amerika sedang mengoordinasikan "latihan" dengan pasukan Trinidad dan Tobago. Negara itu hanya berjarak sekitar 7 mil dari pantai Venezuela, dan pejabat pemerintah Trinidad dan Tobago mengatakan latihan tersebut akan berlanjut sepanjang pekan ini.

Awal pekan lalu, Venezuela memobilisasi hampir 200.000 tentara dalam upaya besar-besaran untuk menghadapai potensi serangan AS. Pada Kamis lalu, Maduro menyerukan kepada Trump "untuk bersatu demi perdamaian benua ini", dan mengatakan kepada seorang reporter CNN, "Jangan ada lagi perang tanpa akhir. Jangan ada lagi perang yang tidak adil."

Dia menegaskan kembali pesannya kepada Trump, "Perdamaian. Ya, perdamaian."

Maduro menuduh pemerintahan Trump berusaha menggulingkannya, sementara oposisi Venezuela yang didukung AS kembali menyerukan pergantian rezim segera.

Pihak berwenang AS telah menawarkan hadiah USD50 juta untuk informasi yang mengarah pada penangkapan Maduro. Dia menghadapi tuduhan terorisme narkotika dan tuduhan terkait narkoba lainnya di AS.

Elizabeth Dickinson, analis senior International Crisis Group untuk Wilayah Andes mengatakan kepada AP pada hari Minggu: “Ini adalah jangkar dari apa artinya memiliki kekuatan militer AS sekali lagi di Amerika Latin. Dan hal ini telah menimbulkan banyak kecemasan di Venezuela tetapi juga di seluruh kawasan. Saya pikir semua orang memperhatikan ini dengan napas tertahan untuk melihat seberapa besar keinginan AS untuk benar-benar menggunakan kekuatan militer.”

Mark Cancian, penasihat pertahanan senior di Center for Strategic and International Studies (CSIS), sebelumnya mengatakan kepada Newsweek di tengah laporan penempatan kapal induk USS Gerald R Ford: “Tidak ada alasan strategis untuk mengirim Ford ke kawasan tersebut kecuali jika dimaksudkan untuk digunakan melawan Venezuela. Waktunya sekarang hampir habis—kapal induk ini tidak bisa diam saja. Mereka harus bertindak atau mengerahkannya kembali, dan menarik kembali sama saja dengan mundur.”

Tidak jelas apa langkah militer AS selanjutnya di Karibia. Bulan lalu, Trump telah mengizinkan CIA untuk melakukan operasi rahasia di Venezuela.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Setelah Saling Serang,...
Setelah Saling Serang, AS dan Iran Sepakat Menahan Diri, Ternyata Ini Pemicunya!
10 Kali Amerika Serikat...
10 Kali Amerika Serikat dan Iran Duduk di Meja Perundingan, tapi Perang Terus Berlanjut, Ini Penyebabnya
Biden Sebut Trump Pencundang,...
Biden Sebut Trump Pencundang, Narsis, dan Sombong
Media Pemerintah China:...
Media Pemerintah China: Jepang Benar-benar Simulasikan Serangan terhadap Kapal Induk Liaoning
Begini Cara Bos FIFA...
Begini Cara Bos FIFA Gunakan Geopolitik di Panggung Piala Dunia
Media Pro-IRGC: Iran...
Media Pro-IRGC: Iran Mutlak Harus Memiliki Bom Nuklir
Penembakan di Fan Zone...
Penembakan di Fan Zone Piala Dunia 2026, Satu Orang Tewas dan Satu Kritis
Burkina Faso Putuskan...
Burkina Faso Putuskan Hubungan Diplomatik dengan Prancis
Iran Desak AS Paksa...
Iran Desak AS Paksa Israel Tarik Pasukan dari Lebanon
Rekomendasi
Pajak JHT Diminta Hapus,...
Pajak JHT Diminta Hapus, Begini Janji Menkeu Purbaya
Brasil Lolos ke 16 Besar...
Brasil Lolos ke 16 Besar usai Comeback Dramatis Singkirkan Jepang
Jerman vs Paraguay:...
Jerman vs Paraguay: Menanti 3 Rekor Der Panzer
Berita Terkini
3 Alasan Malaysia Lanjutkan...
3 Alasan Malaysia Lanjutkan Pencarian MH370, Operasi Termahal di Dunia
Merasa Dikucilkan di...
Merasa Dikucilkan di NATO, Erdogan Minta Turki Dimasukkan dalam Struktur Keamanan Eropa
Kekurangan Uang, Ukraina...
Kekurangan Uang, Ukraina Terpaksa Bersekongkol dengan Kartel Narkoba Meksiko
Hanya Iran yang Bisa...
Hanya Iran yang Bisa Membuka Selat Hormuz, Ini 3 Alasannya
Aset Iran yang Dibekukan...
Aset Iran yang Dibekukan Rp107 Triliun Segera Cair, Perundingan Digelar di Qatar
Rusia Alami Krisis BBM...
Rusia Alami Krisis BBM Akibat Serangan Efektif Drone Ukraina, Ini 4 Faktanya
Infografis
Bagher Ghalibaf, Negosiator...
Bagher Ghalibaf, Negosiator Iran dan Tangan Kanan Mojtaba yang Mampu Tundukkan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved