Ironis, Prancis Bebaskan Sarkozy dari Penjara Meski Terbukti Bersalah
Selasa, 11 November 2025 - 09:59 WIB
loading...
Mantan Presiden Prancis Nicolas Sarkozy dibebaskan dari penjara meski terbukti bersalah. Dia kini jadi tahanan rumah. Foto/Screenshot video Sky News
A
A
A
PARIS - Mantan Presiden Prancis Nicolas Sarkozy diberikan pembebasan bersyarat dari penjara pada hari Senin. Dia dibebaskan kurang dari tiga minggu setelah mulai menjalani hukuman lima tahun penjara atas skema mendapatkan dana kampanye rahasia dari almarhum pemimpin Libya Muammar Gaddafi.
Sarkozy, yang dinyatakan terbukti bersalah atas konspirasi kriminal untuk membiayai kampanye pemilu-nya pada bulan September tahun 2007, telah dipindahkan ke tahanan rumah.
Jaksa penuntut Prancis telah meminta agar Sarkozy ditempatkan di bawah pengawasan yudisial yang ketat sambil menunggu sidang bandingnya.
Baca Juga: Para Napi Ancam Sarkozy di Penjara, Ingin Balas Dendam atas Kematian Gaddafi
Mantan presiden tersebut akan dilarang melakukan kontak apa pun dengan saksi atau orang yang didakwa lainnya, dan tidak dapat meninggalkan Prancis untuk sementara waktu.
Sarkozy secara konsisten membantah melakukan kesalahan apa pun.
"Saya menanggapi semua panggilan dengan saksama...Cobaan ini dipaksakan kepada saya, dan saya menanggungnya," kata Sarkozy dalam sebuah konferensi pers setelah sidang pengadilannya pada hari Senin, yang disiarkan BFM TV.
"Ini sulit, sangat sulit, tentu saja bagi narapidana mana pun; saya bahkan akan mengatakan ini melelahkan," paparnya, seperti dikutip dari Russia Today, Selasa (11/11/2025).
Selama masa penahanan singkat mantan presiden di sayap sel isolasi La Sante, muncul rekaman narapidana lain yang mengusiknya di malam hari dari bagian lain penjara.
Beberapa video berisi ancaman untuk "membalas dendam atas Gaddafi".
Sarkozy, yang memimpin Prancis dari tahun 2007 hingga 2012, berada di garda terdepan operasi pergantian rezim yang didukung NATO yang menghancurkan Libya dan menyebabkan kematian Gaddafi pada tahun 2011.
Mantan presiden Prancis tersebut mengunjungi Benghazi untuk mendukung kelompok pemberontak setelah blok militer NATO pimpinan AS memberlakukan zona larangan terbang dan blokade laut terhadap Libya.
Perang tersebut membawa ribuan milisi jihadis ke negara itu, menghancurkan perekonomian Libya, dan membuka rute migrasi menuju Eropa selatan yang tetap menjadi jalur utama krisis migran di negara tersebut.
Sarkozy, yang dinyatakan terbukti bersalah atas konspirasi kriminal untuk membiayai kampanye pemilu-nya pada bulan September tahun 2007, telah dipindahkan ke tahanan rumah.
Jaksa penuntut Prancis telah meminta agar Sarkozy ditempatkan di bawah pengawasan yudisial yang ketat sambil menunggu sidang bandingnya.
Baca Juga: Para Napi Ancam Sarkozy di Penjara, Ingin Balas Dendam atas Kematian Gaddafi
Mantan presiden tersebut akan dilarang melakukan kontak apa pun dengan saksi atau orang yang didakwa lainnya, dan tidak dapat meninggalkan Prancis untuk sementara waktu.
Sarkozy secara konsisten membantah melakukan kesalahan apa pun.
"Saya menanggapi semua panggilan dengan saksama...Cobaan ini dipaksakan kepada saya, dan saya menanggungnya," kata Sarkozy dalam sebuah konferensi pers setelah sidang pengadilannya pada hari Senin, yang disiarkan BFM TV.
"Ini sulit, sangat sulit, tentu saja bagi narapidana mana pun; saya bahkan akan mengatakan ini melelahkan," paparnya, seperti dikutip dari Russia Today, Selasa (11/11/2025).
Selama masa penahanan singkat mantan presiden di sayap sel isolasi La Sante, muncul rekaman narapidana lain yang mengusiknya di malam hari dari bagian lain penjara.
Beberapa video berisi ancaman untuk "membalas dendam atas Gaddafi".
Sarkozy, yang memimpin Prancis dari tahun 2007 hingga 2012, berada di garda terdepan operasi pergantian rezim yang didukung NATO yang menghancurkan Libya dan menyebabkan kematian Gaddafi pada tahun 2011.
Mantan presiden Prancis tersebut mengunjungi Benghazi untuk mendukung kelompok pemberontak setelah blok militer NATO pimpinan AS memberlakukan zona larangan terbang dan blokade laut terhadap Libya.
Perang tersebut membawa ribuan milisi jihadis ke negara itu, menghancurkan perekonomian Libya, dan membuka rute migrasi menuju Eropa selatan yang tetap menjadi jalur utama krisis migran di negara tersebut.
(mas)
Lihat Juga :