Mengapa Paspor Malaysia Jauh Lebih Kuat Dibanding Indonesia?
Jum'at, 07 November 2025 - 15:22 WIB
loading...
A
A
A
Malaysia, meskipun tidak sempurna, relatif lebih sukses meyakinkan beberapa mitra tentang kontrol perbatasannya dibanding persepsi beberapa mitra terhadap isu-isu tertentu di Indonesia seperti masalah pekerja migran, overstay, atau kasus kriminal yang mendapat sorotan.
Kepercayaan negara lain juga dibangun pada seberapa “aman” dokumen perjalanan yang diterbitkan, yang mencakup fitur biometrik, integritas registrasi, dan keandalan sistem administrasi kependudukan.
Paspor yang dilengkapi chip biometrik, sistem registrasi yang sulit dipalsukan, dan kerja sama data imigrasi (API/PNR data-sharing) meningkatkan tingkat kepercayaan negara tujuan.
Malaysia terus memodernkan dokumennya dan menonjolkan standar keamanan dokumen yang bisa jadi mempermudah diplomasi visa. Sementara Indonesia—meski sudah mengadopsi e-passport—masih menghadapi tantangan administratif dan persepsi implementasi di lapangan yang berdampak pada kepercayaan mitra.
Malaysia memanfaatkan posisi historis Persemakmuran, hubungan strategis dengan negara-negara Teluk, serta kemitraan perdagangan ASEAN yang intens untuk menegosiasikan akses.
Indonesia, meski berpopulasi besar dan geopolitik penting, kadang prioritas diplomasi diarahkan pada isu lain—misalnya kepemimpinan regional, kerja sama keamanan, masalah domestik—sehingga negosiasi visa tidak selalu jadi prioritas yang menghasilkan “quick wins”.
Selain itu, politik dalam negeri yang menimbulkan persepsi instabilitas sesaat bisa mempengaruhi keputusan negara lain memberikan akses bebas visa.
4. Keamanan Dokumen dan Teknologi Paspor
Kepercayaan negara lain juga dibangun pada seberapa “aman” dokumen perjalanan yang diterbitkan, yang mencakup fitur biometrik, integritas registrasi, dan keandalan sistem administrasi kependudukan. Paspor yang dilengkapi chip biometrik, sistem registrasi yang sulit dipalsukan, dan kerja sama data imigrasi (API/PNR data-sharing) meningkatkan tingkat kepercayaan negara tujuan.
Malaysia terus memodernkan dokumennya dan menonjolkan standar keamanan dokumen yang bisa jadi mempermudah diplomasi visa. Sementara Indonesia—meski sudah mengadopsi e-passport—masih menghadapi tantangan administratif dan persepsi implementasi di lapangan yang berdampak pada kepercayaan mitra.
5. Politik Luar Negeri, Blok Regional, dan "Soft Power"
Negara yang memiliki jaringan diplomatik luas—seperti perwakilan konsuler di banyak negara—, serta yang dikenal membentuk aliansi strategis yang stabil, sering kali mendapatkan akses timbal balik lebih mudah.Malaysia memanfaatkan posisi historis Persemakmuran, hubungan strategis dengan negara-negara Teluk, serta kemitraan perdagangan ASEAN yang intens untuk menegosiasikan akses.
Indonesia, meski berpopulasi besar dan geopolitik penting, kadang prioritas diplomasi diarahkan pada isu lain—misalnya kepemimpinan regional, kerja sama keamanan, masalah domestik—sehingga negosiasi visa tidak selalu jadi prioritas yang menghasilkan “quick wins”.
Selain itu, politik dalam negeri yang menimbulkan persepsi instabilitas sesaat bisa mempengaruhi keputusan negara lain memberikan akses bebas visa.
(mas)
Lihat Juga :