Dari Dinasti Qing hingga Xi Jinping: Ambisi Panjang China atas Tibet

Rabu, 05 November 2025 - 08:36 WIB
loading...
Dari Dinasti Qing hingga...
Presiden Xi Jinping diniliai tak hanya ingin merebut kembali seluruh wilayah yang dulu menjadi bagian dari kekaisaran Qing, tetapi juga memaksakan karakteristik China pada wilayah-wilayah taklukannya. Foto/SCMP/Xinhua
A A A
JAKARTA - Ketika Presiden China Xi Jinping menunjuk sejarawan dan politisi Gao Xiang sebagai Sekretaris Komite Partai Komunis China serta Presiden di Chinese Academy of Social Sciences (CASS), sekaligus memimpin lembaga afiliasinya, Chinese Academy of History pada akhir 2022, keputusan itu dinilai mencerminkan kekagumannya pada kejayaan masa Dinasti Qing. Selama ini, Gao Xiang dikenal sebagai pakar sejarah Dinasti Qing.

CASS merupakan lembaga riset nasional tertinggi di China yang merumuskan ideologi dan memberikan masukan kebijakan bagi para pemimpin. Seperti disebutkan oleh media The Guardian dan dikutip Mekong News, Rabu (5/10/2025), promosi seorang sejarawan yang gencar merehabilitasi periode Qing itu telah menimbulkan spekulasi bahwa kejayaan Dinasti Qing kini dihidupkan kembali untuk memperkuat ambisi global Presiden Xi.

Pada puncak kejayaannya, Dinasti Qing merupakan salah satu kekuatan besar dunia, mencakup peradaban Asia Tengah, Mongolia, dan Tibet, serta dikenal dengan kemakmuran ekonomi dan kekuatan militernya.

Baca Juga: Pemerintah China Perketat Kontrol atas Kuil dan Reinkarnasi Tibet

Namun, Presiden Xi ingin membawa China modern melampaui pencapaian Dinasti Qing. Ia bukan hanya ingin merebut kembali seluruh wilayah yang dulu menjadi bagian dari kekaisaran Qing, tetapi juga memaksakan pada wilayah-wilayah taklukannya apa yang disebut “karakteristik China".

Karena itu, pada 2019, saat meluncurkan Chinese Academy of History, Presiden Xi menetapkan misinya untuk mendorong narasi sejarah dengan “karakteristik China".

Dengan kata lain, Xi ingin menerapkan pada rakyat di wilayah-wilayah taklukan bukan hanya pemerintahan China, tetapi juga bahasa, budaya, dan cara hidup China—yakni identitas mayoritas etnis Han.

Hal inilah yang menjelaskan mengapa pada masa Dinasti Qing tidak terjadi konflik dengan institusi Dalai Lama, sementara di bawah kepemimpinan Xi, pemerintah China berupaya menghapuskan institusi tersebut—atau setidaknya menempatkan Dalai Lama versi mereka di Lhasa setelah Dalai Lama ke-14, yang kini berusia 90 tahun, wafat.

Tibet dan Dalai Lama


Selama Dalai Lama masih ada, sulit bagi Beijing untuk melepaskan warga Tibet dari akar spiritual Vajrayana Buddhisme yang memberi identitas khas bagi mereka.

Kekuasaan Dinasti Qing, atau Dinasti Manchu, di China berlangsung dari 1644 hingga 1912, dengan wilayah kekaisaran yang tiga kali lebih luas dibandingkan Dinasti Ming sebelumnya.

“Tidak ada bukti bahwa Tibet berada di bawah kekuasaan Dinasti Manchu,” tulis sejarawan Melvyn C. Goldstein dalam karyanya A History of Modern Tibet.

Pengaruh China di pemerintahan Lhasa melalui komisaris Manchu disebut “marginal". Bahkan, pemilihan Dalai Lama ke-13 dilakukan tanpa sistem undian golden urn yang diperkenalkan oleh Kekaisaran Manchu tahun 1793.

Dengan kata lain, kontrol China saat itu bersifat longgar, yang oleh banyak sejarawan disebut sebagai “suzerainitas”—berbeda dengan klaim “kedaulatan penuh” yang diberlakukan China saat ini.

Sejak awal abad ke-18 hingga akhir pemerintahan Manchu pada 1912, enam Dalai Lama memimpin di Lhasa, dengan campur tangan Beijing yang lebih simbolik daripada nyata. Tibet menjalankan pemerintahannya sendiri, bahkan berperang melawan Dogra pada 1841, Nepal pada 1857, dan menghadapi invasi Inggris 1903–1904 tanpa bantuan dari China. Pada masa Dalai Lama ke-13, yang meninggal pada 1933, Tibet menikmati kedaulatan penuh hingga invasi oleh komunis China pada 1950.

Sejak pendudukan militer 1950 dan upaya penangkapan Dalai Lama ke-14 pada 1959, Beijing terus berupaya mengendalikan lembaga keagamaan Tibet, termasuk dengan menculik Panchen Lama ke-11 dan menggantinya dengan versi yang dikendalikan pemerintah. Namun pengaruh Dalai Lama dan Buddhisme tetap kuat di kalangan rakyat Tibet.

Urusan Keagamaan


Seperti rezim otoriter pada umumnya, elite Partai Komunis China memandang budaya yang berbeda dari budaya dominan, dalam hal ini budaya Han, sebagai ancaman bagi keberadaan mereka. Pemerintah China mendirikan sekolah berasrama bagi anak-anak Tibet, di mana mereka dididik dengan gaya hidup Han, menggunakan bahasa Mandarin, dan mengesampingkan bahasa Tibet.

Untuk melengkapi penaklukan terhadap rakyat Tibet, Presiden Xi memperkenalkan konsep “agama dengan karakteristik China,” sebuah eufemisme untuk menyiniskan agama. Dalam sebuah pertemuan Politbiro Partai Komunis China pada September lalu, Xi menyerukan lebih banyak peraturan dan penegakan hukum yang lebih ketat dalam mengatur urusan keagamaan.

“Mengatur urusan agama sesuai hukum adalah cara fundamental untuk menangani berbagai kontradiksi dan masalah di bidang agama,” katanya, dikutip oleh Xinhua melalui South China Morning Post.

Dalam konteks Tibet, pesan utama Xi adalah bahwa agama di China hanya dapat diwariskan dengan “akar dalam budaya China.” Namun agama di Tibet, terutama Buddhisme, justru berakar kuat pada tradisi Nalanda dari India—hal yang membuat Beijing terus berupaya menghapus pengaruh spiritual luar itu.

Karena itu, Presiden Xi bertekad mengendalikan sepenuhnya kehidupan warga Tibet, termasuk kebebasan mereka menentukan Dalai Lama sendiri. Aturan tentang reinkarnasi lama-lama bahkan telah diberlakukan sejak 2007 oleh Departemen Urusan Agama China.

Tidak heran jika Xi kini menegaskan bahwa seluruh urusan keagamaan di China harus tunduk pada hukum China.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
AS Kerahkan Sistem Rudal...
AS Kerahkan Sistem Rudal Canggih Typhon ke Jepang, Dapat Menargetkan China
Pertama Kalinya, China...
Pertama Kalinya, China Pamer Peluncuran Rudal Hipersonik Dongfeng-17 sebagai Pesan untuk AS
Studi: Surplus Ekspor...
Studi: Surplus Ekspor China Kian Tekan Peluang Industri Negara Berkembang
AS Berencana Bangun...
AS Berencana Bangun Persediaan Senjata Siap Tempur di Australia
Ini Alasan Trump Puji...
Ini Alasan Trump Puji Putin dan Xi Jinping atas Kesepakatan Damai AS-Iran
China Tangkap 2 Pemimpin...
China Tangkap 2 Pemimpin Gereja Bawah Tanah yang Berpengaruh, Apa Pemicunya?
Standar Keselamatan...
Standar Keselamatan Kendaraan Listrik Baru China Lebih Ketat!
Australia Beri Peringatan:...
Australia Beri Peringatan: El Nino Kali Ini Akan Jadi yang Terkuat dalam Tujuh Dekade
Mengejutkan! 92% Warga...
Mengejutkan! 92% Warga Israel Yakin Negaranya Kalah Perang Lawan Iran
Rekomendasi
Indonesia, Swiss, dan...
Indonesia, Swiss, dan UNDP Luncurkan Fase Baru Transformasi Lanskap Berkelanjutan di Indonesia
Gunakan MT Gamkonora,...
Gunakan MT Gamkonora, Pertamina Patra Niaga Tambah 450 Ribu Barel Minyak
Adhyaksa FC Pindah Homebase...
Adhyaksa FC Pindah Homebase ke Kalimantan Tengah, Buka Peluang Ganti Nama Jadi Kalteng FC
Berita Terkini
Hongaria Bersihkan Jaringan...
Hongaria Bersihkan Jaringan Viktor Orban, Ini 3 Alasan Rusia Akan Kehilangan Aliansi Utama
Rusia Tuding NATO Akan...
Rusia Tuding NATO Akan Gelar Operasi Barbarossa Hitler pada 2030, Apakah Akan Berhasil?
Siapa Ahmed Wishah?...
Siapa Ahmed Wishah? Jurnalis Al Jazeera yang Dibunuh Israel
Rusia Tembak Jatuh 80...
Rusia Tembak Jatuh 80 Drone Ukraina, Kremlin Luncurkan Rudal Balistik Iskander
6 PM dalam 10 Tahun...
6 PM dalam 10 Tahun 44 Hari, Seperti Apa Politik Antrean di Inggris?
Jepang Naikkan Biaya...
Jepang Naikkan Biaya Visa sebanyak Lima Kali Lipat, Apa Pemicunya?
Infografis
7 Perang Besar di Selat...
7 Perang Besar di Selat Malaka, dari Jalur Rempah hingga Medan Tempur Kekuatan Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved