Tragedi Kelaparan Melanda El-Fasher usai Jadi Medan Pembantaian Massal RSF
Selasa, 04 November 2025 - 07:03 WIB
loading...
Kelompok paramiliter RSF telah melakukan pembantaian massal terhadap warga sipil di kota El-Fasher, Sudan. Sekarang, kota tersebut dilanda tragedi kelaparan. Foto/RSF
A
A
A
EL-FASHER - Sebuah lembaga pemantau kelaparan global mengonfirmasi tragedi kelaparan melanda El-Fasher, kota di Sudan yang jadi medan pembantaian massal warga sipil oleh kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF). Kota Kadugli juga mengalami nasib serupa.
Integrated Food Security Phase Classification (IPC) yang didukung PBB, untuk pertama kalinya, menetapkan bahwa dua kota tersebut mengalami kelaparan. Sebenarnya, kelaparan sudah melanda kamp-kamp pengungsi di El-Fasher, ibu kota Darfur Utara, pada Desember tahun lalu.
Perang saudara yang dimulai dua setengah tahun lalu antara RSF dan tentara militer Sudan telah menyebabkan kelaparan dan malnutrisi parah yang menyebar di seluruh Sudan, serta mengungsikan jutaan orang dan memicu gelombang kekerasan bernuansa etnis di Darfur.
Baca Juga: RSF Bantai 300 Perempuan dalam 2 Hari Pertama setelah Memasuki El-Fasher
Penilaian IPC menjadi standar yang diakui secara internasional untuk mengukur tingkat keparahan krisis kelaparan, dan temuannya telah memicu kritik dari pemerintah Sudan, yang didukung oleh tentara militer.
Keputusan pertama IPC mengenai kelaparan selama perang saudara tersebut adalah untuk kamp pengungsian Zamzam di selatan El-Fasher pada Agustus 2024.
El-Fasher menjadi sasaran serangan RSF dan dikepung selama sekitar 18 bulan sebelum jatuh akhir bulan lalu, memperdalam perpecahan geografis di Sudan.
Selama pengepungan, penduduk mengatakan pasokan makanan terputus, memaksa orang-orang untuk makan pakan ternak dan terkadang kulit binatang. Tempat-tempat di mana orang-orang berkumpul untuk makan di dapur umum menjadi sasaran serangan pesawat nirawak, kata mereka kepada Reuters.
Akibatnya, semua anak yang tiba di kota terdekat, Tawila, setelah melarikan diri dari El-Fasher, mengalami kekurangan gizi, kata koordinator proyek Dokter Lintas Batas (MSF), Sylvain Pennicaud, kepada Reuters pada hari Senin (3/11/2025), sementara orang dewasa tiba dalam keadaan kurus kering.
Jaksa Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) mengatakan pada hari Senin bahwa mereka sedang mengumpulkan bukti dugaan pembunuhan massal dan pemerkosaan setelah jatuhnya El-Fashir. Kepala Palang Merah mengatakan sejarah terulang kembali di Darfur.
Laporan IPC hari Senin, berdasarkan analisis untuk September 2025, menyebutkan bahwa Tawila, serta Mellit dan Tawisha, dua tujuan lain bagi orang-orang yang mengungsi dari El-Fashir, berisiko kelaparan.
IPC menyatakan bahwa jumlah keseluruhan warga Sudan yang menghadapi kerawanan pangan akut menurun sebesar 6% menjadi 21,2 juta orang—atau 45% dari total populasi—karena stabilisasi bertahap dan peningkatan akses di Sudan tengah, tempat tentara Sudan mengambil alih kendali pada awal tahun.
Namun, situasi memburuk di wilayah Darfur dan Kordofan karena pertempuran terkonsentrasi di sana, yang merampas mata pencaharian penduduk, meningkatkan harga, dan mendorong pengungsian, kata IPC.
Pemotongan bantuan global dan hambatan birokrasi yang menghambat kemampuan PBB dan lembaga bantuan lainnya untuk menyediakan makanan dan layanan lainnya telah meningkatkan tantangan kemanusiaan di Sudan.
Kadugli, ibu kota negara bagian Kordofan Selatan, telah dikepung oleh kelompok bersenjata SPLM-N yang bersekutu dengan RSF, meskipun kelaparan telah menyebar di sana sejak awal perang saudara.
Wilayah Kordofan yang lebih luas semakin menjadi fokus perang karena terletak di antara Darfur yang didominasi RSF dan wilayah lain di negara itu, tempat militer memegang kendali. IPC mengatakan kota al-Dalanj di dekatnya juga mungkin mengalami kelaparan, tetapi kurangnya data mencegah penentuan tersebut.
Pada hari Senin, seorang pejabat Bulan Sabit Merah mengatakan tiga sukarelawan di sebuah kota di negara bagian Kordofan Utara yang diambil alih oleh RSF, yang terlihat dipukuli dalam sebuah klip video, kemudian tewas.
RSF telah membantah bertanggung jawab atas dugaan eksekusi singkat tersebut.
Integrated Food Security Phase Classification (IPC) yang didukung PBB, untuk pertama kalinya, menetapkan bahwa dua kota tersebut mengalami kelaparan. Sebenarnya, kelaparan sudah melanda kamp-kamp pengungsi di El-Fasher, ibu kota Darfur Utara, pada Desember tahun lalu.
Perang saudara yang dimulai dua setengah tahun lalu antara RSF dan tentara militer Sudan telah menyebabkan kelaparan dan malnutrisi parah yang menyebar di seluruh Sudan, serta mengungsikan jutaan orang dan memicu gelombang kekerasan bernuansa etnis di Darfur.
Baca Juga: RSF Bantai 300 Perempuan dalam 2 Hari Pertama setelah Memasuki El-Fasher
Penilaian IPC menjadi standar yang diakui secara internasional untuk mengukur tingkat keparahan krisis kelaparan, dan temuannya telah memicu kritik dari pemerintah Sudan, yang didukung oleh tentara militer.
Keputusan pertama IPC mengenai kelaparan selama perang saudara tersebut adalah untuk kamp pengungsian Zamzam di selatan El-Fasher pada Agustus 2024.
El-Fasher menjadi sasaran serangan RSF dan dikepung selama sekitar 18 bulan sebelum jatuh akhir bulan lalu, memperdalam perpecahan geografis di Sudan.
Selama pengepungan, penduduk mengatakan pasokan makanan terputus, memaksa orang-orang untuk makan pakan ternak dan terkadang kulit binatang. Tempat-tempat di mana orang-orang berkumpul untuk makan di dapur umum menjadi sasaran serangan pesawat nirawak, kata mereka kepada Reuters.
Akibatnya, semua anak yang tiba di kota terdekat, Tawila, setelah melarikan diri dari El-Fasher, mengalami kekurangan gizi, kata koordinator proyek Dokter Lintas Batas (MSF), Sylvain Pennicaud, kepada Reuters pada hari Senin (3/11/2025), sementara orang dewasa tiba dalam keadaan kurus kering.
Jaksa Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) mengatakan pada hari Senin bahwa mereka sedang mengumpulkan bukti dugaan pembunuhan massal dan pemerkosaan setelah jatuhnya El-Fashir. Kepala Palang Merah mengatakan sejarah terulang kembali di Darfur.
Laporan IPC hari Senin, berdasarkan analisis untuk September 2025, menyebutkan bahwa Tawila, serta Mellit dan Tawisha, dua tujuan lain bagi orang-orang yang mengungsi dari El-Fashir, berisiko kelaparan.
IPC menyatakan bahwa jumlah keseluruhan warga Sudan yang menghadapi kerawanan pangan akut menurun sebesar 6% menjadi 21,2 juta orang—atau 45% dari total populasi—karena stabilisasi bertahap dan peningkatan akses di Sudan tengah, tempat tentara Sudan mengambil alih kendali pada awal tahun.
Namun, situasi memburuk di wilayah Darfur dan Kordofan karena pertempuran terkonsentrasi di sana, yang merampas mata pencaharian penduduk, meningkatkan harga, dan mendorong pengungsian, kata IPC.
Pemotongan bantuan global dan hambatan birokrasi yang menghambat kemampuan PBB dan lembaga bantuan lainnya untuk menyediakan makanan dan layanan lainnya telah meningkatkan tantangan kemanusiaan di Sudan.
Kadugli, ibu kota negara bagian Kordofan Selatan, telah dikepung oleh kelompok bersenjata SPLM-N yang bersekutu dengan RSF, meskipun kelaparan telah menyebar di sana sejak awal perang saudara.
Wilayah Kordofan yang lebih luas semakin menjadi fokus perang karena terletak di antara Darfur yang didominasi RSF dan wilayah lain di negara itu, tempat militer memegang kendali. IPC mengatakan kota al-Dalanj di dekatnya juga mungkin mengalami kelaparan, tetapi kurangnya data mencegah penentuan tersebut.
Pada hari Senin, seorang pejabat Bulan Sabit Merah mengatakan tiga sukarelawan di sebuah kota di negara bagian Kordofan Utara yang diambil alih oleh RSF, yang terlihat dipukuli dalam sebuah klip video, kemudian tewas.
RSF telah membantah bertanggung jawab atas dugaan eksekusi singkat tersebut.
(mas)
Lihat Juga :