Rusia Luncurkan Kapal Selam Baru Pembawa Drone Nuklir Poseidon
Minggu, 02 November 2025 - 08:12 WIB
loading...
Rusia resmikan kapal selam nuklir barunya, Khabarovsk. Kapal ini dirancang untuk mengangkut drone Poseidon bertenaga nuklir dan juga berkemampuan nuklir yang berbentuk torpedo besar. Foto/TASS
A
A
A
MOSKOW - Rusia telah mengadakan upacara peresmian kapal selam nuklir barunya, Khabarovsk, pada hari Sabtu. Kapal ini dirancang untuk mengangkut drone Poseidon bertenaga nuklir dan juga berkemampuan nuklir yang berbentuk torpedo besar.
Upacara tersebut berlangsung di Severodvinsk, dan dihadiri oleh Menteri Pertahanan Rusia Andrey Belousov dan sejumlah petinggi lainnya.
“Hari ini adalah peristiwa penting bagi kami: kapal penjelajah rudal berat bertenaga nuklir Khabarovsk diluncurkan dari slipway galangan kapal Sevmash yang terkenal,” kata Belousov.
Baca Juga: Putin Tes Poseidon Rusia, Drone Nuklir Bawah Laut yang Bisa Picu Tsunami Radioaktif 500 Meter
“Dengan membawa senjata bawah air dan sistem robotik, kapal ini akan memungkinkan kami untuk berhasil menyelesaikan misi-misi yang berkaitan dengan memastikan keamanan perbatasan maritim Rusia dan melindungi kepentingan nasionalnya di berbagai belahan samudra di dunia,” ujarnya.
Menteri Belousov menambahkan bahwa kapal selam tersebut masih harus menyelesaikan serangkaian uji coba laut, dan mendoakan keberhasilan lebih lanjut bagi awak dan pembuatnya.
"Khabarovsk dirancang dan dibangun khusus untuk Poseidon,” ujar mantan Kepala Staf Umum Angkatan Laut Rusia, Laksamana Viktor Kravchenko, kepada RIA Novosti, Minggu (2/11/2025).
Poseidon saat ini tidak dapat dicegat dengan cara apa pun, menurut Presiden Rusia Vladimir Putin. Para pejabat Rusia menggambarkan Poseidon sebagai torpedo nuklir yang bisa memicu tsunami radioaktif hingga 500 meter di pantai negara musuh.
Pekan lalu, Putin mengumumkan Rusia berhasil melakukan uji coba yang melibatkan drone bawah laut canggih tersebut, serta rudal jelajah Burevestnik dengan jangkauan tak terbatas.
Pengumuman Putin muncul di tengah kebuntuan dalam perundingan damai Ukraina, dan diskusi tentang potensi pasokan rudal Tomahawk Amerika Serikat (AS) ke Kyiv.
Presiden AS Donald Trump mengumumkan pada Kamis lalu bahwa dia telah menginstruksikan Departemen Perang untuk mulai menguji senjata nuklir, dengan alasan persaingan strategis dengan Rusia dan China.
"Namun, Rusia masih belum terlibat dalam perlombaan senjata dengan AS," ujar juru bicara Kremlin Dmitry Peskov, ketika diminta mengomentari perintah uji coba senjata nuklir AS oleh Trump.
Upacara tersebut berlangsung di Severodvinsk, dan dihadiri oleh Menteri Pertahanan Rusia Andrey Belousov dan sejumlah petinggi lainnya.
“Hari ini adalah peristiwa penting bagi kami: kapal penjelajah rudal berat bertenaga nuklir Khabarovsk diluncurkan dari slipway galangan kapal Sevmash yang terkenal,” kata Belousov.
Baca Juga: Putin Tes Poseidon Rusia, Drone Nuklir Bawah Laut yang Bisa Picu Tsunami Radioaktif 500 Meter
“Dengan membawa senjata bawah air dan sistem robotik, kapal ini akan memungkinkan kami untuk berhasil menyelesaikan misi-misi yang berkaitan dengan memastikan keamanan perbatasan maritim Rusia dan melindungi kepentingan nasionalnya di berbagai belahan samudra di dunia,” ujarnya.
Menteri Belousov menambahkan bahwa kapal selam tersebut masih harus menyelesaikan serangkaian uji coba laut, dan mendoakan keberhasilan lebih lanjut bagi awak dan pembuatnya.
"Khabarovsk dirancang dan dibangun khusus untuk Poseidon,” ujar mantan Kepala Staf Umum Angkatan Laut Rusia, Laksamana Viktor Kravchenko, kepada RIA Novosti, Minggu (2/11/2025).
Poseidon saat ini tidak dapat dicegat dengan cara apa pun, menurut Presiden Rusia Vladimir Putin. Para pejabat Rusia menggambarkan Poseidon sebagai torpedo nuklir yang bisa memicu tsunami radioaktif hingga 500 meter di pantai negara musuh.
Pekan lalu, Putin mengumumkan Rusia berhasil melakukan uji coba yang melibatkan drone bawah laut canggih tersebut, serta rudal jelajah Burevestnik dengan jangkauan tak terbatas.
Pengumuman Putin muncul di tengah kebuntuan dalam perundingan damai Ukraina, dan diskusi tentang potensi pasokan rudal Tomahawk Amerika Serikat (AS) ke Kyiv.
Presiden AS Donald Trump mengumumkan pada Kamis lalu bahwa dia telah menginstruksikan Departemen Perang untuk mulai menguji senjata nuklir, dengan alasan persaingan strategis dengan Rusia dan China.
"Namun, Rusia masih belum terlibat dalam perlombaan senjata dengan AS," ujar juru bicara Kremlin Dmitry Peskov, ketika diminta mengomentari perintah uji coba senjata nuklir AS oleh Trump.
(mas)
Lihat Juga :