Trump Perintahkan AS Uji Senjata Nuklir, Tak Mau Kalah dengan Rusia
Kamis, 30 Oktober 2025 - 09:24 WIB
loading...
Presiden AS Donald Trump perintahkan Pentagon menguji coba senjata nuklir. Trump tak ingin AS kalah dalam persaingan dengan Rusia dan China. Foto/White House
A
A
A
BUSAN - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah memerintahkan Pentagon untuk melanjutkan uji coba senjata nuklir. Trump tidak ingin Washington kalah dalam persaingan strategis dengan Moskow dan Beijing.
Trump membuat pengumuman tersebut menjelang pertemuannya dengan Presiden China Xi Jinping di Busan, Korea Selatan, pada hari Kamis (30/10/2025), waktu setempat.
"Amerika Serikat memiliki lebih banyak senjata nuklir daripada negara lain mana pun. Ini telah dicapai, termasuk pembaruan dan renovasi total senjata yang ada, selama masa jabatan pertama saya. Karena daya rusaknya yang luar biasa, saya sangat tidak suka melakukannya, tetapi tidak punya pilihan!" tulis Trump di platform Truth Social miliknya.
Baca Juga: Putin Tes Poseidon Rusia, Drone Nuklir Bawah Laut yang Bisa Picu Tsunami Radioktif 500 Meter
"Rusia berada di posisi kedua, dan China di posisi ketiga, tetapi akan sama dalam 5 tahun. Karena negara-negara lain sedang menguji program, saya telah menginstruksikan Departemen Perang untuk mulai menguji senjata nuklir kami secara setara. Proses itu akan segera dimulai," imbuh dia.
AS menghentikan uji coba senjata nuklir pada tahun 1992 di bawah moratorium yang diamanatkan Kongres.
Namun, anggota kabinet Trump dilaporkan membahas pembatalan moratorium selama masa jabatan pertamanya setelah AS menuduh China dan Rusia diam-diam melakukan uji coba senjata nuklir bawah tanah berkekuatan rendah—sebuah klaim yang dibantah Beijing dan Moskow.
Meski Trump mengeklaim senjata nuklir AS terbanyak di dunia, namun data perkiraan terbaru dari Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) menyebutkan AS memiliki 5.177 hulu ledak nuklir, Rusia memiliki 5.459, dan China diproyeksikan memiliki 1.500 hulu ledak nuklir pada 2035.
AS menguji coba rudal balistik antarbenua Minuteman III yang tidak bersenjata dan berkemampuan nuklir pada bulan Februari dan meluncurkan empat rudal Trident II dari sebuah kapal selam pada bulan September.
Perintah Trump muncul setelah Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan bahwa pasukannya telah berhasil menguji coba Poseidon, drone nuklir bawah laut yang diklaim para pakar dapat memicu tsunami radioaktif hingga 500 meter di negara musuh.
Pengumuman uji Poseidon ini hanya berselang beberapa hari setelah Putin mengumumkan keberhasilan menguji coba rudal jelajah bertenaga nuklir dan berkemampuan nuklir Burevestnik. Putin mengatakan rudal Burevestnik adalah satu-satunya di dunia dengan jangkauan tak terbatas.
Trump membuat pengumuman tersebut menjelang pertemuannya dengan Presiden China Xi Jinping di Busan, Korea Selatan, pada hari Kamis (30/10/2025), waktu setempat.
"Amerika Serikat memiliki lebih banyak senjata nuklir daripada negara lain mana pun. Ini telah dicapai, termasuk pembaruan dan renovasi total senjata yang ada, selama masa jabatan pertama saya. Karena daya rusaknya yang luar biasa, saya sangat tidak suka melakukannya, tetapi tidak punya pilihan!" tulis Trump di platform Truth Social miliknya.
Baca Juga: Putin Tes Poseidon Rusia, Drone Nuklir Bawah Laut yang Bisa Picu Tsunami Radioktif 500 Meter
"Rusia berada di posisi kedua, dan China di posisi ketiga, tetapi akan sama dalam 5 tahun. Karena negara-negara lain sedang menguji program, saya telah menginstruksikan Departemen Perang untuk mulai menguji senjata nuklir kami secara setara. Proses itu akan segera dimulai," imbuh dia.
AS menghentikan uji coba senjata nuklir pada tahun 1992 di bawah moratorium yang diamanatkan Kongres.
Namun, anggota kabinet Trump dilaporkan membahas pembatalan moratorium selama masa jabatan pertamanya setelah AS menuduh China dan Rusia diam-diam melakukan uji coba senjata nuklir bawah tanah berkekuatan rendah—sebuah klaim yang dibantah Beijing dan Moskow.
Meski Trump mengeklaim senjata nuklir AS terbanyak di dunia, namun data perkiraan terbaru dari Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) menyebutkan AS memiliki 5.177 hulu ledak nuklir, Rusia memiliki 5.459, dan China diproyeksikan memiliki 1.500 hulu ledak nuklir pada 2035.
AS menguji coba rudal balistik antarbenua Minuteman III yang tidak bersenjata dan berkemampuan nuklir pada bulan Februari dan meluncurkan empat rudal Trident II dari sebuah kapal selam pada bulan September.
Perintah Trump muncul setelah Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan bahwa pasukannya telah berhasil menguji coba Poseidon, drone nuklir bawah laut yang diklaim para pakar dapat memicu tsunami radioaktif hingga 500 meter di negara musuh.
Pengumuman uji Poseidon ini hanya berselang beberapa hari setelah Putin mengumumkan keberhasilan menguji coba rudal jelajah bertenaga nuklir dan berkemampuan nuklir Burevestnik. Putin mengatakan rudal Burevestnik adalah satu-satunya di dunia dengan jangkauan tak terbatas.
(mas)
Lihat Juga :