Hamas Terima Pengerahan Pasukan PBB di Gaza, Berikut 3 Alasannya

Senin, 27 Oktober 2025 - 18:20 WIB
loading...
Hamas Terima Pengerahan...
Hamas akan menerima pengerahan pasukan PBB di Gaza. Foto/X
A A A
GAZA - Hamas akan menerima pengerahan pasukan penjaga perdamaian PBB di Gaza, namun masih berdiskusi dengan faksi-faksi Palestina lainnya mengenai pelucutan senjata. Itu diungkapkan pemimpin Hamas di Gaza, Khalil al-Hayya.

Hamas Terima Pengerahan Pasukan PBB di Gaza, Berikut 3 Alasannya

1. Fokus Rekonstruksi Gaza

Berbicara kepada Al Jazeera, al-Hayya mengatakan Hamas telah mencapai konsensus dengan faksi-faksi Palestina lainnya mengenai kehadiran pasukan PBB, yang akan hadir untuk mengawasi gencatan senjata dan rekonstruksi Gaza.

Mengenai persenjataan kelompok tersebut, ia mengatakan bahwa masalah ini "terkait dengan keberadaan pendudukan dan agresi, dan jika pendudukan berakhir, persenjataan ini akan diserahkan kepada negara".

Para mediator telah mengadakan diskusi dalam beberapa hari terakhir mengenai fase kedua gencatan senjata Gaza, yang, menurut rencana 20 poin Presiden AS Donald Trump, akan mengharuskan Hamas melepaskan kendali atas Gaza dan meletakkan persenjataannya.

"Setelah semua sandera dikembalikan, anggota Hamas yang berkomitmen untuk hidup berdampingan secara damai dan menonaktifkan persenjataan mereka akan diberikan amnesti. Anggota Hamas yang ingin meninggalkan Gaza akan diberikan jalur aman ke negara-negara penerima," demikian bunyi rencana tersebut.

AS dan Israel telah mengancam akan melanjutkan aksi militer jika Hamas tidak melucuti senjatanya. Sementara itu, Israel juga telah mempersenjatai geng dan milisi anti-Hamas di dalam Gaza - beberapa di antaranya terkait dengan penjarahan bantuan ke wilayah kantong tersebut.

Mengenai tata kelola, rencana Trump menguraikan bahwa "tata kelola transisi sementara dari komite Palestina yang teknokratis dan apolitis" akan mengambil alih operasional harian Gaza. Namun, rencana tersebut menambahkan bahwa komite transisi akan diawasi oleh "Dewan Perdamaian" asing yang dipimpin oleh Trump sendiri, dan mencakup tokoh-tokoh kontroversial seperti mantan pemimpin Inggris Tony Blair.

Baca Juga: Kremlin Sebut Perang Ukraina Tak Bisa Diselesaikan dalam Semalam, Ini Alasan Utamanya

2. Ingin Memulihkan Persatuan Nasional

Dalam wawancaranya pada hari Sabtu, Al-Hayya mengatakan kelompoknya tidak keberatan jika seorang tokoh nasional yang tinggal di Gaza mengambil alih kendali tata kelola wilayah tersebut.

"Kami ingin bergerak menuju pemilu sebagai langkah awal untuk memulihkan persatuan nasional," kata al-Hayya.

Al-Hayya menyatakan keprihatinannya atas lambatnya bantuan yang masuk ke Jalur Gaza, di tengah hambatan Israel yang terus berlanjut. Ia mengatakan bahwa Israel mencegah masuknya beberapa material ke Gaza "seolah-olah kami masih berada di tengah perang".

“Gaza membutuhkan 6.000 truk bantuan per hari, bukan hanya 600,” kata al-Hayya.

3. Menolak Kehadiran Pasukan Israel di Palestina

Mengenai sisa-sisa tawanan Israel, al-Hayya mengatakan kelompoknya terus mencari mereka, dan memasuki wilayah baru pada hari Minggu sebagai bagian dari pencarian tersebut.

“Kami tidak akan memberi pendudukan [Israel] dalih untuk melanjutkan perang,” kata al-Hayya.

Ia juga menekankan bahwa upaya terus dilakukan untuk mengamankan pembebasan warga Palestina yang ditahan oleh Israel, menekankan bahwa "perjuangan para tawanan adalah isu nasional semata, dan kami berusaha untuk mengakhiri penderitaan mereka".

(ahm)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Siapa Ahmed Wishah?...
Siapa Ahmed Wishah? Jurnalis Al Jazeera yang Dibunuh Israel
Israel Bunuh Jurnalis...
Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera dalam Serangan Udara di Gaza, Menuduhnya Milisi Hamas
Komite Administrasi...
Komite Administrasi Gaza Ungkap Prioritas Rekonstruksi Sudah Ditetapkan, Siap Mulai Pekerjaan
Israel Marah setelah...
Israel Marah setelah Presiden Belarusia Samakan Pembantaian Gaza dengan Holocaust Nazi
Israel Danai Pemukim...
Israel Danai Pemukim Ekstremis, Bayar Rp34 Miliar Per Bulan
Hamas Sambut Baik Kesepakatan...
Hamas Sambut Baik Kesepakatan AS-Iran, Serukan Penghentian Serangan di Gaza dan Lebanon
Prabowo Terima Telepon...
Prabowo Terima Telepon Mahmoud Abbas, Tegaskan Indonesia Berdiri Bersama Palestina
AS: Selat Hormuz Terbuka...
AS: Selat Hormuz Terbuka untuk Dilalui Semua Kapal Tanpa Biaya Tol
Rekor! Polisi Australia...
Rekor! Polisi Australia Sita 3 Ton Kokain Senilai Rp10,2 Triliun
Rekomendasi
Kejagung Tolak Permohonan...
Kejagung Tolak Permohonan Justice Collaborator Sony Sonjaya Terkait Kasus Korupsi MBG
Motor Listrik Rp32 Juta...
Motor Listrik Rp32 Juta yang Tak Takut Jalan Rusak: Tyranno X Hadir di Jakarta Fair
Air Mata 2016, Sejarah...
Air Mata 2016, Sejarah 2026: Saat Dunia Tak Berhenti Bicarakan Messi
Berita Terkini
AS Mediasi Perundingan...
AS Mediasi Perundingan Lebanon-Israel, Bahas Kemungkinan Penarikan Zionis dari Lebanon Selatan
Tegang dengan NATO,...
Tegang dengan NATO, Pesawat Pengebom Nuklir Rusia Berkeliaran di Arktik
Iran Klaim 3 Poin Kemenangan...
Iran Klaim 3 Poin Kemenangan dalam Negosiasi dengan AS, Termasuk Aset Senilai Rp214 Triliun
Dosen Ini Donorkan Organnya...
Dosen Ini Donorkan Organnya untuk Selamatkan 5 Orang, Staf RS Berbaris Beri Penghormatan Terakhir
Siapa Andy Burnham?...
Siapa Andy Burnham? Kandidat Kuat PM Inggris yang Suka Bermain Bola
China Tuduh Militer...
China Tuduh Militer Jepang Mengganggu Latihan Tempur Kapal Induk Liaoning
Infografis
10 Pasukan Khusus Terganas...
10 Pasukan Khusus Terganas di Dunia, Indonesia Masuk?
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved