AS Lakukan Serangan Ke-10 terhadap Kapal Diduga Penyelundup Narkoba di Karibia, 6 Tewas

Sabtu, 25 Oktober 2025 - 06:31 WIB
loading...
AS Lakukan Serangan...
Militer AS lakukan serangan ke-10 terhadap kapal yang diduga penyelundup narkoba di perairan Karibia. Serangan ini menewaskan enam orang ini. Foto/X @SecWar
A A A
WASHINGTON - Militer Amerika Serikat (AS) telah melakukan serangan ke-10 terhadap sebuah kapal yang diduga penyelundup narkoba di perairan Karibia. Serangan yang menewaskan enam orang ini diumumkan Menteri Pertahanan Pete Hegseth pada hari Jumat, yang menyebut geng Tren de Aragua sebagai operator kapal.

Dalam sebuah unggahan di media sosial, Hegseth mengatakan serangan itu terjadi pada malam hari, dan ini menandai kedua kalinya pemerintahan Presiden Donald Trump mengaitkan salah satu operasinya dengan geng tersebut, yang bermula dari sebuah penjara di Venezuela.

Intensitas serangan telah meningkat dalam beberapa hari terakhir, dari satu serangan setiap beberapa minggu di bulan September ketika pertama kali dimulai, menjadi tiga serangan minggu ini.

Baca Juga: Seiring Ketegangan dengan Venezuela, Trump Siapkan Perang Darat Melawan Narkoba

Dua serangan minggu ini dilakukan di Samudra Pasifik bagian timur, memperluas wilayah tempat militer Washington melancarkan serangan dan tempat sebagian besar kokain dari produsen terbesar dunia diselundupkan.

Dalam video hitam putih berdurasi 20 detik yang diunggah ke media sosial, sebuah kapal kecil terlihat diam tak bergerak di atas air ketika sebuah proyektil tipis dan panjang mendarat di atasnya, memicu ledakan. Video berakhir sebelum ledakan mereda sehingga sisa-sisa kapal dapat terlihat kembali.

Hegseth mengatakan serangan itu terjadi di perairan internasional dan membanggakan bahwa itu adalah serangan pertama yang dilakukan pada malam hari.

"Jika Anda seorang teroris narkotika yang menyelundupkan narkoba di belahan bumi kami, kami akan memperlakukan Anda seperti kami memperlakukan al-Qaeda," kata Hegseth dalam postingan tersebut.

"Siang atau malam, kami akan memetakan jaringan Anda, melacak orang-orang Anda, memburu Anda, dan membunuh Anda," lanjut dia, seperti dikutip dari AP, Sabtu (25/10/2025).

Serangan itu juga terjadi beberapa jam setelah militer AS menerbangkan sepasang pesawat pengebom supersonik berat B-1B ke pantai Venezuela pada hari Kamis. Penerbangan itu hanyalah langkah terbaru dalam penumpukan militer yang luar biasa besar di Laut Karibia dan perairan lepas pantai Venezuela yang telah menimbulkan spekulasi bahwa Presiden Donald Trump dapat mencoba menggulingkan Presiden Venezuela Nicolás Maduro.

Maduro sekarang ini menghadapi tuduhan narko-terorisme di AS.

Menteri Pertahanan Venezuela Vladimir Padrino telah memberi tahu para pemimpin militernya bahwa pemerintah AS tahu tuduhan perdagangan narkoba yang digunakan untuk mendukung tindakan baru-baru ini di Karibia adalah salah, dengan niat sebenarnya adalah untuk "memaksa perubahan rezim" di negara Amerika Selatan tersebut.

Pernyataan Hegseth seputar serangan baru-baru ini mulai menarik perbandingan langsung antara perang melawan terorisme yang dideklarasikan AS setelah serangan 11 September 2001 dan tindakan keras pemerintahan Trump terhadap pengedar narkoba.

Ketika para wartawan bertanya kepada Trump pada hari Kamis apakah dia akan meminta Kongres mengeluarkan deklarasi perang terhadap kartel-kartel narkoba tersebut, dia mengatakan bahwa itu bukanlah rencananya.

"Saya pikir kita hanya akan membunuh orang-orang yang membawa narkoba ke negara kita, oke? Kita akan membunuh mereka, tahu? Mereka akan seperti mati," kata Trump dalam sebuah diskusi meja bundar di Gedung Putih dengan para pejabat keamanan dalam negeri.

Anggota Parlemen dari kedua partai politik utama AS telah menyatakan kekhawatiran tentang Trump yang memerintahkan tindakan militer tanpa mendapatkan otorisasi dari Kongres atau memberikan banyak detail. Partai Demokrat bersikeras bahwa serangan tersebut melanggar hukum internasional.

Senator Richard Blumenthal, seorang anggota Demokrat dari Komite Angkatan Bersenjata Senat, mengatakan minggu ini: "Memperluas geografi hanya memperluas pelanggaran hukum dan kecerobohan dalam penggunaan militer Amerika tanpa pembenaran hukum atau praktis yang jelas."

Bulan ini, Trump menyatakan kartel narkoba sebagai kombatan yang melanggar hukum dan mengatakan bahwa AS berada dalam "konflik bersenjata" dengan mereka.

Meskipun ada kekhawatiran dari beberapa anggota Parlemen, Senat yang dikuasai Partai Republik telah menolak resolusi kewenangan perang yang disponsori Partai Demokrat yang mengharuskan presiden untuk meminta otorisasi dari Kongres sebelum melakukan serangan militer lebih lanjut.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Venezuela Umumkan Keadaan...
Venezuela Umumkan Keadaan Darurat setelah Diguncang 2 Gempa Dahsyat, 32 Orang Tewas
Rugi Besar Akibat Kalah...
Rugi Besar Akibat Kalah Perang, Trump Minta Tambahan Dana Rp1.572 Triliun
Demi Lindungi Negara-negara...
Demi Lindungi Negara-negara Arab, AS Janjikan Perdamaian Abadi dengan Iran
Seluruh WNI di Venezuela...
Seluruh WNI di Venezuela Aman, Gedung KBRI di Caracas Tidak Rusak
Badan Intelijen AS Kehilangan...
Badan Intelijen AS Kehilangan Akses ke Alat AI Mythos 5, Apa Pemicunya?
LineShine Jadi Superkomputer...
LineShine Jadi Superkomputer Tercepat di Dunia, China Mampu Kalahkan AS
Harga Bensin di AS Tetap...
Harga Bensin di AS Tetap Mahal meski Minyak Dunia Rontok, Trump Semprot Raksasa Energi
PM Inggris Keir Starmer...
PM Inggris Keir Starmer Umumkan Pengunduran Diri
PBB: Israel Hancurkan...
PBB: Israel Hancurkan RS Anak di Gaza, Bikin Bayi Cacat Seumur Hidup
Rekomendasi
Boni Hargens Sebut Presisi...
Boni Hargens Sebut Presisi Jadi Fondasi Transformasi Menyeluruh di Tubuh Polri
Ekuador vs Jerman: Der...
Ekuador vs Jerman: Der Panzer Bidik Rekor Sempurna
Menekraf Tegaskan AI...
Menekraf Tegaskan AI Hanya Asisten, Bukan Pengganti Kreator atau Musisi
Berita Terkini
Mengapa Negara-negara...
Mengapa Negara-negara Arab Khawatir Kesepakatan Iran Jadi Titik Balik yang Membawa Bencana?
Ketika Paris Lebih Panas...
Ketika Paris Lebih Panas dari Makkah, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Rugi Besar Akibat Kalah...
Rugi Besar Akibat Kalah Perang, Trump Minta Tambahan Dana Rp1.572 Triliun
Demi Lindungi Negara-negara...
Demi Lindungi Negara-negara Arab, AS Janjikan Perdamaian Abadi dengan Iran
Seluruh WNI di Venezuela...
Seluruh WNI di Venezuela Aman, Gedung KBRI di Caracas Tidak Rusak
Badan Intelijen AS Kehilangan...
Badan Intelijen AS Kehilangan Akses ke Alat AI Mythos 5, Apa Pemicunya?
Infografis
6 Pulau yang Jadi Target...
6 Pulau yang Jadi Target Invasi Darat AS di Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved