Wapres AS Vance: Israel dan Hamas Hormati Gencatan Senjata Sejauh Ini
Kamis, 23 Oktober 2025 - 19:33 WIB
loading...
Wakil Presiden AS JD Vance. Foto/anadolu
A
A
A
TEL AVIV - Wakil Presiden (Wapres) Amerika Serikat (AS) JD Vance memberikan komentar kepada media dalam wawancara informal di Israel, di mana ia mengatakan gencatan senjata tersebut kuat. Komentar itu muncul meskipun Israel telah melakukan sejumlah pelanggaran sejak gencatan itu berlaku di Gaza.
“Kita dapat mengatakan dengan yakin bahwa Israel menghormati gencatan senjata, Hamas menghormati gencatan senjata. Ada pengecualian, hanya ada sedikit… ledakan di sana-sini, itu wajar mengingat kedua pihak ini telah berperang selama dua tahun, tetapi sejauh ini, gencatan senjata masih berlaku,” ujarnya.
Israel telah melanggar gencatan senjata puluhan kali, yang menyebabkan tewasnya puluhan warga Palestina.
Ketika ditanya tentang rencana rekonstruksi, Vance menyebutkan satu wilayah yang tidak disebutkan namanya di bagian selatan Jalur Gaza yang dihuni 100.000-200.000 warga Palestina yang ia anggap “pada dasarnya bebas dari Hamas”.
“Wilayah ini dapat direkonstruksi dengan cepat,” katanya.
Dia mengatakan ini adalah rencana untuk meringankan penderitaan di wilayah kantong tersebut.
"Harapannya adalah membangun kembali Rafah dalam dua hingga tiga tahun ke depan, dan secara teoritis bisa menampung setengah juta orang di Rafah yang telah dibangun kembali," ujarnya.
Ia juga menegaskan kembali bahwa pemerintah Israel, menurutnya, berkomitmen pada gencatan senjata, sejalan dengan kebijakan AS terkait hal ini.
Vance adalah pejabat paling senior di antara beberapa pejabat AS yang mengunjungi Israel selama seminggu terakhir, yang oleh banyak orang dianggap sebagai upaya menegaskan kepada Israel keinginan Amerika untuk tetap berpegang pada rencana perdamaian.
Ia juga mengatakan kebijakan Presiden Donald Trump tetap sama, yaitu Tepi Barat yang diduduki tidak akan dianeksasi oleh Israel, dan menyebut pemungutan suara parlemen kemarin yang mendukung aneksasi sebagai "aksi politik yang sangat bodoh" yang "secara pribadi" ia anggap sebagai hinaan.
Baca juga: Juru Bicara Baru Brigade Al-Quds Abu Hamza: Kami Tak akan Pernah Serahkan Senjata
“Kita dapat mengatakan dengan yakin bahwa Israel menghormati gencatan senjata, Hamas menghormati gencatan senjata. Ada pengecualian, hanya ada sedikit… ledakan di sana-sini, itu wajar mengingat kedua pihak ini telah berperang selama dua tahun, tetapi sejauh ini, gencatan senjata masih berlaku,” ujarnya.
Israel telah melanggar gencatan senjata puluhan kali, yang menyebabkan tewasnya puluhan warga Palestina.
Ketika ditanya tentang rencana rekonstruksi, Vance menyebutkan satu wilayah yang tidak disebutkan namanya di bagian selatan Jalur Gaza yang dihuni 100.000-200.000 warga Palestina yang ia anggap “pada dasarnya bebas dari Hamas”.
“Wilayah ini dapat direkonstruksi dengan cepat,” katanya.
Dia mengatakan ini adalah rencana untuk meringankan penderitaan di wilayah kantong tersebut.
"Harapannya adalah membangun kembali Rafah dalam dua hingga tiga tahun ke depan, dan secara teoritis bisa menampung setengah juta orang di Rafah yang telah dibangun kembali," ujarnya.
Ia juga menegaskan kembali bahwa pemerintah Israel, menurutnya, berkomitmen pada gencatan senjata, sejalan dengan kebijakan AS terkait hal ini.
Vance adalah pejabat paling senior di antara beberapa pejabat AS yang mengunjungi Israel selama seminggu terakhir, yang oleh banyak orang dianggap sebagai upaya menegaskan kepada Israel keinginan Amerika untuk tetap berpegang pada rencana perdamaian.
Ia juga mengatakan kebijakan Presiden Donald Trump tetap sama, yaitu Tepi Barat yang diduduki tidak akan dianeksasi oleh Israel, dan menyebut pemungutan suara parlemen kemarin yang mendukung aneksasi sebagai "aksi politik yang sangat bodoh" yang "secara pribadi" ia anggap sebagai hinaan.
Baca juga: Juru Bicara Baru Brigade Al-Quds Abu Hamza: Kami Tak akan Pernah Serahkan Senjata
(sya)
Lihat Juga :