Khamenei Ledek Trump yang Klaim 14 Bom AS Lenyapkan Situs Nuklir Iran: Teruslah Bermimpi!
Selasa, 21 Oktober 2025 - 07:00 WIB
loading...
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei meledek Presiden AS Donald Trump yang klaim 14 bom Amerika telah lenyapkan situs-situs nuklir Iran. Foto/Khamenei.ir
A
A
A
TEHERAN - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengeklaim sebanyak 14 bom Amerika telah melenyapkan situs-situs nuklir utama Iran pada Juni lalu. Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menepis klaim tersebut, dengan meledek Trump agar "terus bermimpi".
Pada pertengahan Juni, Israel melancarkan serangan udara yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap Iran. AS ikut serta dengan menyerang fasilitas-fasilitas nuklir utama Iran.
Pekan lalu, dalam pidato di Knesset Israel, Trump menegaskan kembali bahwa AS mengonfirmasi telah melenyapkan situs-situs nuklir Iran selama serangan tersebut.
Baca Juga: Iran Dipasok Jet Tempur MiG-29 dan Sistem Rudal S-400 Rusia, Musuh Israel Itu Kini Bangkit
"Jadi kami menjatuhkan 14 bom di fasilitas-fasilitas nuklir utama Iran. Benar-benar, seperti yang saya katakan sebelumnya, melenyapkannya, dan itu telah dikonfirmasi," katanya.
Dalam wawancara hari Minggu dengan Fox News, Trump juga mengatakan: "Iran tidak lagi menjadi pengganggu Timur Tengah setelah serangan AS yang menghancurkan kemampuan nuklir mereka."
Dia lebih lanjut menyebut serangan itu sebagai "operasi militer yang paling indah".
Namun, Khamenei pada hari Senin membantah klaim Trump tersebut. Dalam sebuah pernyataan di situs web resminya, Khamenei meminta Trump untuk "terus bermimpi" atas komentar-komentar tentang penghancuran situs-situs nuklir Iran.
"Pernyataan Trump tidak pantas, salah, dan merupakan bentuk intimidasi," katanya, seperti dikutip AFP, Selasa (21/10/2025).
Dia mempertanyakan hak presiden AS untuk menentukan apa yang seharusnya atau tidak seharusnya dimiliki suatu negara jika ia memiliki industri nuklir.
Dampak sebenarnya dari serangan AS terhadap situs-situs nuklir Iran masih belum diketahui.
Pentagon menyatakan bahwa serangan tersebut menunda program nuklir Iran antara satu hingga dua tahun, bertentangan dengan laporan intelijen rahasia AS awal yang, menurut media AS, menemukan bahwa penundaan tersebut hanya beberapa bulan.
Perang 12 hari pada bulan Juni antara Iran dengan Israel terjadi dua hari menjelang putaran keenam perundingan nuklir yang direncanakan antara Teheran dan Washington, yang telah dimulai pada bulan April.
Perundingan nuklir telah terhenti sejak Iran menyatakan bahwa mereka hanya terbuka untuk perundingan jika AS memberikan jaminan tidak akan ada aksi militer.
Pada pertengahan Juni, Israel melancarkan serangan udara yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap Iran. AS ikut serta dengan menyerang fasilitas-fasilitas nuklir utama Iran.
Pekan lalu, dalam pidato di Knesset Israel, Trump menegaskan kembali bahwa AS mengonfirmasi telah melenyapkan situs-situs nuklir Iran selama serangan tersebut.
Baca Juga: Iran Dipasok Jet Tempur MiG-29 dan Sistem Rudal S-400 Rusia, Musuh Israel Itu Kini Bangkit
"Jadi kami menjatuhkan 14 bom di fasilitas-fasilitas nuklir utama Iran. Benar-benar, seperti yang saya katakan sebelumnya, melenyapkannya, dan itu telah dikonfirmasi," katanya.
Dalam wawancara hari Minggu dengan Fox News, Trump juga mengatakan: "Iran tidak lagi menjadi pengganggu Timur Tengah setelah serangan AS yang menghancurkan kemampuan nuklir mereka."
Dia lebih lanjut menyebut serangan itu sebagai "operasi militer yang paling indah".
Namun, Khamenei pada hari Senin membantah klaim Trump tersebut. Dalam sebuah pernyataan di situs web resminya, Khamenei meminta Trump untuk "terus bermimpi" atas komentar-komentar tentang penghancuran situs-situs nuklir Iran.
"Pernyataan Trump tidak pantas, salah, dan merupakan bentuk intimidasi," katanya, seperti dikutip AFP, Selasa (21/10/2025).
Dia mempertanyakan hak presiden AS untuk menentukan apa yang seharusnya atau tidak seharusnya dimiliki suatu negara jika ia memiliki industri nuklir.
Dampak sebenarnya dari serangan AS terhadap situs-situs nuklir Iran masih belum diketahui.
Pentagon menyatakan bahwa serangan tersebut menunda program nuklir Iran antara satu hingga dua tahun, bertentangan dengan laporan intelijen rahasia AS awal yang, menurut media AS, menemukan bahwa penundaan tersebut hanya beberapa bulan.
Perang 12 hari pada bulan Juni antara Iran dengan Israel terjadi dua hari menjelang putaran keenam perundingan nuklir yang direncanakan antara Teheran dan Washington, yang telah dimulai pada bulan April.
Perundingan nuklir telah terhenti sejak Iran menyatakan bahwa mereka hanya terbuka untuk perundingan jika AS memberikan jaminan tidak akan ada aksi militer.
(mas)
Lihat Juga :