Demo Anti-Trump Guncang Seluruh AS, Lampiaskan Protes Kemarahan 'No Kings'
Minggu, 19 Oktober 2025 - 09:43 WIB
loading...
A
A
A
Sejauh ini, respons Trump terhadap demo besar tersebut masih bungkam. Namun, tim komunikasi politiknya mengunggah video yang dihasilkan AI di X, yang memperlihatkan presiden mengenakan pakaian kerajaan dan mahkota, melambai dari balkon.
“Mereka bilang mereka menyebut saya raja. Saya bukan raja,” katanya kepada acara Fox News Sunday Morning Futures.
Namun, para pendukungnya sedang dalam kondisi siap tempur, dengan Ketua DPR Mike Johnson mencemooh apa yang dia sebut sebagai “unjuk rasa benci Amerika”.
“Kalian akan menyatukan kaum Marxis, Sosialis, pendukung Antifa, kaum anarkis, dan sayap pro-Hamas dari Partai Demokrat sayap kiri,” katanya kepada para wartawan.
Para pengunjuk rasa merespons klaim itu dengan ejekan.
“Lihat sekeliling! Jika ini kebencian, maka seseorang harus kembali ke sekolah dasar," kata Paolo (63), saat kerumunan bersorak dan bernyanyi di sekelilingnya di Washington.
Yang lain mengisyaratkan polarisasi mendalam yang memecah belah politik Amerika. "Begini apa yang dikatakan kaum sayap kanan: Saya tidak peduli. Mereka membenci kami," kata Tony, seorang insinyur perangkat lunak berusia 34 tahun.
Di luar Amerika Serikat, gerakan "No Kings" mengorganisir berbagai acara di Kanada, dan protes kecil juga terjadi di Malaga, Spanyol, dan Malmö, Swedia.
Deirdre Schifeling dari American Civil Liberties Union mengatakan para pengunjuk rasa ingin menyampaikan bahwa "kita adalah negara yang setara".
"Kita adalah negara hukum yang berlaku untuk semua orang, negara hukum yang menjalankan proses hukum dan demokrasi. Kita tidak akan dibungkam," ujarnya kepada para wartawan, yang dilansir AFP, Minggu (19/10/2025) .
“Mereka bilang mereka menyebut saya raja. Saya bukan raja,” katanya kepada acara Fox News Sunday Morning Futures.
Namun, para pendukungnya sedang dalam kondisi siap tempur, dengan Ketua DPR Mike Johnson mencemooh apa yang dia sebut sebagai “unjuk rasa benci Amerika”.
“Kalian akan menyatukan kaum Marxis, Sosialis, pendukung Antifa, kaum anarkis, dan sayap pro-Hamas dari Partai Demokrat sayap kiri,” katanya kepada para wartawan.
Para pengunjuk rasa merespons klaim itu dengan ejekan.
“Lihat sekeliling! Jika ini kebencian, maka seseorang harus kembali ke sekolah dasar," kata Paolo (63), saat kerumunan bersorak dan bernyanyi di sekelilingnya di Washington.
Yang lain mengisyaratkan polarisasi mendalam yang memecah belah politik Amerika. "Begini apa yang dikatakan kaum sayap kanan: Saya tidak peduli. Mereka membenci kami," kata Tony, seorang insinyur perangkat lunak berusia 34 tahun.
Di luar Amerika Serikat, gerakan "No Kings" mengorganisir berbagai acara di Kanada, dan protes kecil juga terjadi di Malaga, Spanyol, dan Malmö, Swedia.
Deirdre Schifeling dari American Civil Liberties Union mengatakan para pengunjuk rasa ingin menyampaikan bahwa "kita adalah negara yang setara".
"Kita adalah negara hukum yang berlaku untuk semua orang, negara hukum yang menjalankan proses hukum dan demokrasi. Kita tidak akan dibungkam," ujarnya kepada para wartawan, yang dilansir AFP, Minggu (19/10/2025) .
Lihat Juga :