Presiden Petro Marah usai AS Mengebom Kapal Kolombia: Skenario Perang Telah Terbuka!

Kamis, 09 Oktober 2025 - 10:50 WIB
loading...
Presiden Petro Marah...
Presiden Kolombia Gustavo Petro sebut skenario perang baru telah terbuka di Karibia setelah AS mengebom kapal milik Kolombia yang juga membawa warga Kolombia. Foto/Truth Social/@realDonaldTrump
A A A
BOGOTA - Presiden Kolombia Gustavo Petro marah setelah Amerika Serikat (AS) mengebom kapal di Karibia baru-baru ini. Kapal itu milik Kolombia dan juga membawa warga negara Kolombia.

Pemerintah Presiden AS Donald Trump telah mengerahkan aset-aset tempur ke perairan Karibia sejak bulan lalu dengan dalih memerangi kartel narkoba. Namun, langkah itu ditentang keras oleh Venzuela dan Kolombia.

Petro menuduh Washington melancarkan "perang demi minyak". Dia menyerukan negara-negara Amerika Latin dan komunitas internasional untuk campur tangan dan menghentikan apa yang dia sebut sebagai "agresi AS".

Baca Juga: Venezuela: 5 Jet Tempur Siluman F-35 AS Mendekat, Ini Provokasi!

Petro membagikan posting-an Senator Partai Demokrat AS; Adam Schiff, mengenai rencananya untuk memberikan suara mendukung rancangan undang-undang (RUU) yang akan mengekang kemampuan Trump dalam menggunakan kekuatan militer yang mematikan terhadap kartel narkoba.

Kubu Partai Demokrat dan setidaknya satu politisi Partai Republik, Senator Rand Paul, berupaya untuk melawan pernyataan luar biasa pemerintah Trump tentang kekuatan perang presiden untuk menghancurkan kapal-kapal di Karibia yang dituduh membawa narkoba.

"Senator Adam Schiff benar. Sekarang saya sedang dalam pertemuan dengan pemerintah-pemerintah Eropa dan saya akan mengatakan hal yang sama. Skenario perang baru telah terbuka: Karibia," tulis Petro di X, seperti dikutip dari Newsweek, Kamis (9/10/2025).

"Indikasi menunjukkan bahwa kapal terakhir yang dibom adalah milik Kolombia dengan warga negara Kolombia di dalamnya. Saya harap keluarga mereka maju dan melaporkannya. Tidak ada perang melawan penyelundupan; yang ada adalah perang demi minyak dan itu harus dihentikan oleh dunia. Agresi ini ditujukan terhadap seluruh Amerika Latin dan Karibia," paparnya.

Departemen Luar Negeri AS baru-baru ini mengumumkan akan mencabut visa Petro, dengan mengatakan bahwa dia mendesak tentara AS untuk melanggar perintah dan menghasut kekerasan saat berada di New York City.

Ketika dihubungi untuk memberikan komentar terkait pernyataan Petro, Pentagon merujuk Newsweek ke Gedung Putih.

Schiff, dalam sebuah pernyataan bulan lalu, mengatakan: “Kongres sendirilah yang memegang wewenang untuk menyatakan perang. Dan meskipun kami memiliki kepentingan yang sama dengan cabang eksekutif untuk mencegah dan menghalangi narkoba mencapai pantai kami, meledakkan kapal tanpa pembenaran hukum berisiko menyeret Amerika Serikat ke dalam perang lain dan memprovokasi permusuhan yang tidak dapat dibenarkan terhadap warga negara kami sendiri. Kongres harus diberi pengarahan lengkap tentang operasi ini dan jika pemerintah yakin ada alasan untuk mengajukan otorisasi perang—mereka harus melakukannya. Namun, penggunaan militer kami yang tidak sah dan ilegal ini harus dihentikan.”

Senator Partai Demokrat Tim Kaine, juga dalam sebuah pernyataan bulan lalu, mengatakan: "Presiden Trump tidak memiliki wewenang hukum untuk melancarkan serangan atau menggunakan kekuatan militer di Karibia atau di tempat lain di Belahan Bumi Barat. Pemerintah telah menolak memberikan informasi dasar kepada Kongres tentang berbagai serangan yang telah dilakukannya, termasuk siapa yang tewas, mengapa perlu membahayakan nyawa anggota militer, dan mengapa operasi interdiksi standar tidak dilakukan."

"Kongres tidak bisa membiarkan dirinya bersikap kaku sementara Pemerintah ini terus mengabaikan hukum. Itulah sebabnya kami mengajukan undang-undang ini untuk mewajibkan debat dan pemungutan suara mengenai apakah AS harus melakukan serangan ini tanpa persetujuan Kongres," imbuh dia.

Menteri Pertahanan Pete Hegseth, baru-baru ini mengumumkan di X: "Pagi ini, atas perintah Presiden Trump, saya memerintahkan serangan kinetik yang mematikan terhadap kapal penyelundup narkotika yang berafiliasi dengan Organisasi Teroris Tertunjuk di wilayah tanggung jawab USSOUTHCOM. Empat pria teroris narkotika di atas kapal tewas dalam serangan tersebut, dan tidak ada pasukan AS yang terluka dalam operasi tersebut."

"Serangan itu dilakukan di perairan internasional di lepas pantai Venezuela saat kapal tersebut mengangkut narkotika dalam jumlah besar—bertujuan ke Amerika untuk meracuni rakyat kami. Intelijen kami, tanpa ragu, mengonfirmasi bahwa kapal ini menyelundupkan narkotika, orang-orang di dalamnya adalah teroris narkotika, dan mereka beroperasi di rute transit perdagangan narkotika yang sudah diketahui. Serangan ini akan terus berlanjut hingga serangan terhadap rakyat Amerika berakhir!!!!" imbuh Hegseth.

Senat diperkirakan akan segera memberikan suara pada RUU yang dipelopori oleh Partai Demokrat untuk mengekang kemampuan pemerintahan Trump dalam menggunakan kekuatan mematikan di Karibia tanpa persetujuan Kongres.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Iran Bisa Terima Rp894...
Iran Bisa Terima Rp894 Triliun dalam Bentuk Keringanan Sanksi sesuai Kesepakatan Akhir
AS Mediasi Perundingan...
AS Mediasi Perundingan Lebanon-Israel, Bahas Kemungkinan Penarikan Zionis dari Lebanon Selatan
China Tuduh Militer...
China Tuduh Militer Jepang Mengganggu Latihan Tempur Kapal Induk Liaoning
Wanita Ini Dihujat karena...
Wanita Ini Dihujat karena Sebut Islam Organisasi Teroris, Sekarang Malah Dapat Donasi Rp2,5 Miliar
Trump Ancam Tak Tolong...
Trump Ancam Tak Tolong Negara-negara NATO karena Tolak Bantu AS Melawan Iran
Tuduh AS Biang Kisruh,...
Tuduh AS Biang Kisruh, Kim Jong-un: Korut Akan Jalankan Posisinya sebagai Negara Nuklir
Timnas Iran Tinggalkan...
Timnas Iran Tinggalkan Surat Tulisan Tangan di Ruang Ganti Piala Dunia 2026
Suami Divonis 4 Tahun...
Suami Divonis 4 Tahun Penjara karena Paksa Istri Berhubungan Seks dengan 120 Pria
Gedung Pusat Animasi...
Gedung Pusat Animasi Terbakar Tewaskan 15 Orang, Sebagian Besar Pelajar
Rekomendasi
Ketua Posko Wilayah...
Ketua Posko Wilayah PRR Aceh Apresiasi BPBD dan DLHK Atasi Masalah Sanitasi di Huntara
Kisah Kombes Agustinus...
Kisah Kombes Agustinus Christmas, dari Mengajar Mahasiswa hingga Dijuluki Jenderal Kopi
Jokowi Respons Penangguhan...
Jokowi Respons Penangguhan Penahanan Roy Suryo dan Tifa: Itu Kewenangan Kejaksaan
Berita Terkini
Iran Bisa Terima Rp894...
Iran Bisa Terima Rp894 Triliun dalam Bentuk Keringanan Sanksi sesuai Kesepakatan Akhir
AS Mediasi Perundingan...
AS Mediasi Perundingan Lebanon-Israel, Bahas Kemungkinan Penarikan Zionis dari Lebanon Selatan
Tegang dengan NATO,...
Tegang dengan NATO, Pesawat Pengebom Nuklir Rusia Berkeliaran di Arktik
Iran Klaim 3 Poin Kemenangan...
Iran Klaim 3 Poin Kemenangan dalam Negosiasi dengan AS, Termasuk Aset Senilai Rp214 Triliun
Dosen Ini Donorkan Organnya...
Dosen Ini Donorkan Organnya untuk Selamatkan 5 Orang, Staf RS Berbaris Beri Penghormatan Terakhir
Siapa Andy Burnham?...
Siapa Andy Burnham? Kandidat Kuat PM Inggris yang Suka Bermain Bola
Infografis
5 Kapal Perang Paling...
5 Kapal Perang Paling Canggih di ASEAN
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved