Profil Sirikit Kitiyakara, Ibu Raja Thailand Maha Vajiralongkorn yang Kontroversial
Kamis, 09 Oktober 2025 - 08:23 WIB
loading...
Sirikit Kitiyakara, ibu dari Raja Thailand Maha Vajiralongkorn. Janda mendiang Raja Bhumibol Adulyadej ini sekarang adalah Ibu Suri Kerajaan Thailand. Foto/The Royal Watcher
A
A
A
JAKARTA - Sirikit Kitiyakara merupakan ibu dari Raja Thailand Maha Vajiralongkorn (Rama X). Artinya, statusnya sekarang adalah Ibu Suri atau Ratu Ibu Kerajaan Thailand.
Janda dari mendiang Raja Bhumibol Adulyadej (Rama IX) ini dikenal memiliki pengaruh politik dan sosial yang begitu kuat di negara itu, bahkan hingga memasuki masa tuanya. Meski berpenampilan anggun, dia juga merupakan sosok kontroversial karena dukungan luar biasa terhadap kelompok royalist (setia pada monarki) yang anti-demokrasi.
Baca Juga: Karier Militer Mayjen Sineenat Wongvajirapakdi, Selir Resmi Raja Thailand Sepanjang Sejarah
Sirikit lahir pada 12 Agustus 1932 di Bangkok dengan nama lengkap Mom Rajawongse Sirikit Kitiyakara.
Gelar Mom Rajawongse menunjukkan bahwa dia berasal dari keluarga bangsawan, meski bukan keluarga inti kerajaan. Ayahnya, Pangeran Nakkhatra Mangkala Kitiyakara, adalah diplomat senior dan kemudian menjadi Duta Besar Thailand untuk Prancis. Ibunya, Mom Luang Bua Snidvongs, juga berasal dari keluarga aristokrat.
Pendidikan Sirikit berlangsung di sekolah-sekolah elite Thailand sebelum dia dibawa ke Prancis, Denmark, dan Inggris mengikuti tugas diplomatik ayahnya. Di sanalah, Sirikit muda mendapat paparan budaya Eropa dan mengasah kemampuan berbahasa asing—sebuah modal penting ketika kelak dia menjadi Ratu Thailand.
Pertemuan Sirikit dengan Raja Bhumibol Adulyadej terjadi pada akhir 1940-an saat keduanya berada di Prancis. Saat itu Bhumibol sedang menempuh pendidikan di Lausanne, Swiss. Hubungan mereka berkembang cepat dan mendapatkan restu dari keluarga kerajaan.
Pada 28 April 1950, hanya seminggu sebelum penobatan Bhumibol sebagai Rama IX, mereka menikah di Istana Pathumwan. Pernikahan ini mengangkat status Sirikit dari bangsawan menjadi Ratu Thailand.
Berbeda dengan banyak permaisuri Asia pada era itu, Sirikit tampil sangat aktif dalam kehidupan publik. Dia sering mendampingi Raja Bhumibol dalam kunjungan resmi, baik dalam negeri maupun luar negeri.
Pada awal 1960-an, pasangan kerajaan ini melakukan tur dunia selama berbulan-bulan, dan Sirikit berhasil memikat perhatian publik internasional dengan busana elegan bergaya Eropa yang dipadukan nuansa tradisional Thailand.
Sirikit juga aktif dalam kegiatan sosial dan kebudayaan. Dia mendirikan Support Foundation (Foundation for the Promotion of Supplementary Occupations and Related Techniques), yang membantu memberdayakan perempuan pedesaan melalui kerajinan tangan dan tenun tradisional. Upaya ini membuatnya mendapat pujian sebagai pelindung seni budaya Thailand.
Meski secara formal monarki Thailand bersifat konstitusional, Sirikit dikenal memiliki pengaruh politik informal yang besar. Puncaknya terjadi pada krisis politik 1976, saat dia secara terbuka menunjukkan dukungan terhadap kelompok sayap kanan dan militer.
Kontroversi besar juga mencuat pada tahun 2008, ketika Sirikit menghadiri pemakaman seorang aktivis royalist yang tewas dalam bentrokan dengan kelompok pro-demokrasi. Kehadirannya dianggap sebagai dukungan terang-terangan terhadap kubu konservatif dan anti-demokrasi, sehingga membuat citranya di kalangan masyarakat muda merosot tajam.
Banyak pengamat menilai bahwa Sirikit—bersama jaringan istana dan elite militer—berperan dalam menjaga status quo politik Thailand di tengah berbagai krisis.
Sirikit dan mendiang Raja Bhumibol dikaruniai empat anak: Putri Ubolratana Rajakanya (lahir 1951), Putri Maha Chakri Sirindhorn (lahir 1955), Putri Chulabhorn Walailak (lahir 1957), dan Pangeran Maha Vajiralongkorn (lahir 1952) yang kini menjadi Raja Rama X.
Menariknya, dalam pandangan publik, Sirikit dikenal lebih dekat dengan Vajiralongkorn dibandingkan dengan anak-anak perempuannya.
Dia sering mendampingi putranya dalam berbagai acara kenegaraan bahkan setelah wafatnya Raja Bhumibol pada 2016. Banyak analis percaya, dukungan Sirikit terhadap Vajiralongkorn menjadi faktor penting dalam transisi takhta yang relatif mulus, meskipun reputasi publik Vajiralongkorn cukup kontroversial—termasuk menikah empat kali, dan dilaporkan memiliki 20 selir termasuk selir resmi kerajaan.
Sirikit menderita stroke pada 2012, dan sejak itu semakin jarang tampil di depan umum. Namun, statusnya sebagai “Ratu Ibu” atau "Somdet Phra Nang Chao Sirikit Phra Borommarachininat" tetap dijaga dengan penuh kehormatan. Hari ulang tahunnya, 12 Agustus, juga diperingati sebagai Hari Ibu Nasional Thailand, sebuah simbol betapa kuatnya perannya dalam identitas negara.
•Tanggal lahir: 12 Agustus 1932.
•Menjadi Ratu: 1950–2016.
•Gelar kehormatan: Ratu Ibu (Ibu Suri) Thailand.
•Pendidikan: Prancis, Denmark, Inggris.
•Suami: mendiang Raja Bhumibol Adulyadej (Rama IX)
•Anak: 4, termasuk Raja Rama X.
•Kontroversi: Dugaan campur tangan politik dan dukungan pada kelompok konservatif.
Janda dari mendiang Raja Bhumibol Adulyadej (Rama IX) ini dikenal memiliki pengaruh politik dan sosial yang begitu kuat di negara itu, bahkan hingga memasuki masa tuanya. Meski berpenampilan anggun, dia juga merupakan sosok kontroversial karena dukungan luar biasa terhadap kelompok royalist (setia pada monarki) yang anti-demokrasi.
Baca Juga: Karier Militer Mayjen Sineenat Wongvajirapakdi, Selir Resmi Raja Thailand Sepanjang Sejarah
Profil Sirikit Kitiyakara
Sirikit lahir pada 12 Agustus 1932 di Bangkok dengan nama lengkap Mom Rajawongse Sirikit Kitiyakara.
Gelar Mom Rajawongse menunjukkan bahwa dia berasal dari keluarga bangsawan, meski bukan keluarga inti kerajaan. Ayahnya, Pangeran Nakkhatra Mangkala Kitiyakara, adalah diplomat senior dan kemudian menjadi Duta Besar Thailand untuk Prancis. Ibunya, Mom Luang Bua Snidvongs, juga berasal dari keluarga aristokrat.
Pendidikan Sirikit berlangsung di sekolah-sekolah elite Thailand sebelum dia dibawa ke Prancis, Denmark, dan Inggris mengikuti tugas diplomatik ayahnya. Di sanalah, Sirikit muda mendapat paparan budaya Eropa dan mengasah kemampuan berbahasa asing—sebuah modal penting ketika kelak dia menjadi Ratu Thailand.
Pertemuan Romantis dengan Raja Bhumibol
Pertemuan Sirikit dengan Raja Bhumibol Adulyadej terjadi pada akhir 1940-an saat keduanya berada di Prancis. Saat itu Bhumibol sedang menempuh pendidikan di Lausanne, Swiss. Hubungan mereka berkembang cepat dan mendapatkan restu dari keluarga kerajaan.
Pada 28 April 1950, hanya seminggu sebelum penobatan Bhumibol sebagai Rama IX, mereka menikah di Istana Pathumwan. Pernikahan ini mengangkat status Sirikit dari bangsawan menjadi Ratu Thailand.
Berbeda dengan banyak permaisuri Asia pada era itu, Sirikit tampil sangat aktif dalam kehidupan publik. Dia sering mendampingi Raja Bhumibol dalam kunjungan resmi, baik dalam negeri maupun luar negeri.
Pada awal 1960-an, pasangan kerajaan ini melakukan tur dunia selama berbulan-bulan, dan Sirikit berhasil memikat perhatian publik internasional dengan busana elegan bergaya Eropa yang dipadukan nuansa tradisional Thailand.
Sirikit juga aktif dalam kegiatan sosial dan kebudayaan. Dia mendirikan Support Foundation (Foundation for the Promotion of Supplementary Occupations and Related Techniques), yang membantu memberdayakan perempuan pedesaan melalui kerajinan tangan dan tenun tradisional. Upaya ini membuatnya mendapat pujian sebagai pelindung seni budaya Thailand.
Pernah Jadi Ratu Kontroversial
Meski secara formal monarki Thailand bersifat konstitusional, Sirikit dikenal memiliki pengaruh politik informal yang besar. Puncaknya terjadi pada krisis politik 1976, saat dia secara terbuka menunjukkan dukungan terhadap kelompok sayap kanan dan militer.
Kontroversi besar juga mencuat pada tahun 2008, ketika Sirikit menghadiri pemakaman seorang aktivis royalist yang tewas dalam bentrokan dengan kelompok pro-demokrasi. Kehadirannya dianggap sebagai dukungan terang-terangan terhadap kubu konservatif dan anti-demokrasi, sehingga membuat citranya di kalangan masyarakat muda merosot tajam.
Banyak pengamat menilai bahwa Sirikit—bersama jaringan istana dan elite militer—berperan dalam menjaga status quo politik Thailand di tengah berbagai krisis.
Sirikit dan mendiang Raja Bhumibol dikaruniai empat anak: Putri Ubolratana Rajakanya (lahir 1951), Putri Maha Chakri Sirindhorn (lahir 1955), Putri Chulabhorn Walailak (lahir 1957), dan Pangeran Maha Vajiralongkorn (lahir 1952) yang kini menjadi Raja Rama X.
Menariknya, dalam pandangan publik, Sirikit dikenal lebih dekat dengan Vajiralongkorn dibandingkan dengan anak-anak perempuannya.
Dia sering mendampingi putranya dalam berbagai acara kenegaraan bahkan setelah wafatnya Raja Bhumibol pada 2016. Banyak analis percaya, dukungan Sirikit terhadap Vajiralongkorn menjadi faktor penting dalam transisi takhta yang relatif mulus, meskipun reputasi publik Vajiralongkorn cukup kontroversial—termasuk menikah empat kali, dan dilaporkan memiliki 20 selir termasuk selir resmi kerajaan.
Sirikit menderita stroke pada 2012, dan sejak itu semakin jarang tampil di depan umum. Namun, statusnya sebagai “Ratu Ibu” atau "Somdet Phra Nang Chao Sirikit Phra Borommarachininat" tetap dijaga dengan penuh kehormatan. Hari ulang tahunnya, 12 Agustus, juga diperingati sebagai Hari Ibu Nasional Thailand, sebuah simbol betapa kuatnya perannya dalam identitas negara.
Fakta Singkat Sirikit Kitiyakara
•Nama lengkap: Mom Rajawongse Sirikit Kitiyakara.•Tanggal lahir: 12 Agustus 1932.
•Menjadi Ratu: 1950–2016.
•Gelar kehormatan: Ratu Ibu (Ibu Suri) Thailand.
•Pendidikan: Prancis, Denmark, Inggris.
•Suami: mendiang Raja Bhumibol Adulyadej (Rama IX)
•Anak: 4, termasuk Raja Rama X.
•Kontroversi: Dugaan campur tangan politik dan dukungan pada kelompok konservatif.
(mas)
Lihat Juga :