Profil Sirikit Kitiyakara, Ibu Raja Thailand Maha Vajiralongkorn yang Kontroversial
Kamis, 09 Oktober 2025 - 08:23 WIB
loading...
A
A
A
Pada 28 April 1950, hanya seminggu sebelum penobatan Bhumibol sebagai Rama IX, mereka menikah di Istana Pathumwan. Pernikahan ini mengangkat status Sirikit dari bangsawan menjadi Ratu Thailand.
Berbeda dengan banyak permaisuri Asia pada era itu, Sirikit tampil sangat aktif dalam kehidupan publik. Dia sering mendampingi Raja Bhumibol dalam kunjungan resmi, baik dalam negeri maupun luar negeri.
Pada awal 1960-an, pasangan kerajaan ini melakukan tur dunia selama berbulan-bulan, dan Sirikit berhasil memikat perhatian publik internasional dengan busana elegan bergaya Eropa yang dipadukan nuansa tradisional Thailand.
Sirikit juga aktif dalam kegiatan sosial dan kebudayaan. Dia mendirikan Support Foundation (Foundation for the Promotion of Supplementary Occupations and Related Techniques), yang membantu memberdayakan perempuan pedesaan melalui kerajinan tangan dan tenun tradisional. Upaya ini membuatnya mendapat pujian sebagai pelindung seni budaya Thailand.
Meski secara formal monarki Thailand bersifat konstitusional, Sirikit dikenal memiliki pengaruh politik informal yang besar. Puncaknya terjadi pada krisis politik 1976, saat dia secara terbuka menunjukkan dukungan terhadap kelompok sayap kanan dan militer.
Kontroversi besar juga mencuat pada tahun 2008, ketika Sirikit menghadiri pemakaman seorang aktivis royalist yang tewas dalam bentrokan dengan kelompok pro-demokrasi. Kehadirannya dianggap sebagai dukungan terang-terangan terhadap kubu konservatif dan anti-demokrasi, sehingga membuat citranya di kalangan masyarakat muda merosot tajam.
Banyak pengamat menilai bahwa Sirikit—bersama jaringan istana dan elite militer—berperan dalam menjaga status quo politik Thailand di tengah berbagai krisis.
Berbeda dengan banyak permaisuri Asia pada era itu, Sirikit tampil sangat aktif dalam kehidupan publik. Dia sering mendampingi Raja Bhumibol dalam kunjungan resmi, baik dalam negeri maupun luar negeri.
Pada awal 1960-an, pasangan kerajaan ini melakukan tur dunia selama berbulan-bulan, dan Sirikit berhasil memikat perhatian publik internasional dengan busana elegan bergaya Eropa yang dipadukan nuansa tradisional Thailand.
Sirikit juga aktif dalam kegiatan sosial dan kebudayaan. Dia mendirikan Support Foundation (Foundation for the Promotion of Supplementary Occupations and Related Techniques), yang membantu memberdayakan perempuan pedesaan melalui kerajinan tangan dan tenun tradisional. Upaya ini membuatnya mendapat pujian sebagai pelindung seni budaya Thailand.
Pernah Jadi Ratu Kontroversial
Meski secara formal monarki Thailand bersifat konstitusional, Sirikit dikenal memiliki pengaruh politik informal yang besar. Puncaknya terjadi pada krisis politik 1976, saat dia secara terbuka menunjukkan dukungan terhadap kelompok sayap kanan dan militer.
Kontroversi besar juga mencuat pada tahun 2008, ketika Sirikit menghadiri pemakaman seorang aktivis royalist yang tewas dalam bentrokan dengan kelompok pro-demokrasi. Kehadirannya dianggap sebagai dukungan terang-terangan terhadap kubu konservatif dan anti-demokrasi, sehingga membuat citranya di kalangan masyarakat muda merosot tajam.
Banyak pengamat menilai bahwa Sirikit—bersama jaringan istana dan elite militer—berperan dalam menjaga status quo politik Thailand di tengah berbagai krisis.
Lihat Juga :