Pengungsi Palestina Omar Yaghi Menjadi Ilmuwan Muslim yang Meraih Nobel Kimia
Rabu, 08 Oktober 2025 - 20:37 WIB
loading...
A
A
A
Penelitian Yaghi telah memberikan dampak global yang luar biasa, dengan lebih dari 300 makalah ilmiah yang diterbitkan, dikutip lebih dari 250.000 kali, dan indeks-H 190 — sebuah cerminan pengaruhnya yang luar biasa dalam kimia modern.
Ia memulai studinya di Hudson Valley Community College, kemudian meraih gelar sarjana dari University at Albany, dan gelar Ph.D. di bidang Kimia (1990) dari University of Illinois at Urbana–Champaign di bawah bimbingan Dr. Walter G. Klemperer. Ia kemudian melanjutkan penelitian pascadoktoral di Universitas Harvard di bawah bimbingan Dr. Richard H. Holm.
BacaJuga: Trump Tidak Mungkin Raih Hadiah Nobel Perdamaian, tapi Siapa Kandidat Pemenangnya?
Beliau kini memimpin beberapa lembaga ilmiah bergengsi, termasuk Berkeley Global Science Institute, yang bertujuan membangun pusat-pusat penelitian di negara-negara berkembang dan memberdayakan ilmuwan muda; Kavli Energy NanoSciences Institute, yang berfokus pada ilmu dasar konversi energi di tingkat molekuler; dan Bakar Institute of Digital Materials for the Planet, yang didedikasikan untuk menciptakan material berpori yang terjangkau dan mudah diterapkan seperti MOF dan COF untuk memitigasi perubahan iklim.
Selain Hadiah Nobel, Yaghi telah meraih berbagai penghargaan internasional, termasuk Wolf Prize dalam bidang Kimia (2018), King Faisal International Prize dalam bidang Sains (2015), Solvay Prize (2024), Tang Prize (2024), dan Balzan Prize (2024).
Pengungsi Palestina Omar Yaghi Menjadi Ilmuwan Muslim yang Meraih Nobel Kimia
1. Dari Akar Pengungsi hingga Pengakuan Global
Lahir di Amman, Yordania, pada tahun 1965 dari keluarga pengungsi Palestina, Dr. Yaghi tumbuh besar dengan akses terbatas terhadap listrik dan air bersih, tinggal di rumah dengan satu kamar. Terinspirasi oleh ayahnya, ia pindah ke Amerika Serikat pada usia 15 tahun, meskipun kemampuan bahasa Inggrisnya terbatas.Ia memulai studinya di Hudson Valley Community College, kemudian meraih gelar sarjana dari University at Albany, dan gelar Ph.D. di bidang Kimia (1990) dari University of Illinois at Urbana–Champaign di bawah bimbingan Dr. Walter G. Klemperer. Ia kemudian melanjutkan penelitian pascadoktoral di Universitas Harvard di bawah bimbingan Dr. Richard H. Holm.
BacaJuga: Trump Tidak Mungkin Raih Hadiah Nobel Perdamaian, tapi Siapa Kandidat Pemenangnya?
2. Dapat Kewarganegaraan Saudi dan Kepemimpinan Riset Global
Pada tahun 2021, Yaghi dianugerahi kewarganegaraan Arab Saudi sebagai pengakuan atas pencapaian ilmiahnya, sebagai bagian dari inisiatif Visi 2030 Arab Saudi untuk menarik talenta global.Beliau kini memimpin beberapa lembaga ilmiah bergengsi, termasuk Berkeley Global Science Institute, yang bertujuan membangun pusat-pusat penelitian di negara-negara berkembang dan memberdayakan ilmuwan muda; Kavli Energy NanoSciences Institute, yang berfokus pada ilmu dasar konversi energi di tingkat molekuler; dan Bakar Institute of Digital Materials for the Planet, yang didedikasikan untuk menciptakan material berpori yang terjangkau dan mudah diterapkan seperti MOF dan COF untuk memitigasi perubahan iklim.
Selain Hadiah Nobel, Yaghi telah meraih berbagai penghargaan internasional, termasuk Wolf Prize dalam bidang Kimia (2018), King Faisal International Prize dalam bidang Sains (2015), Solvay Prize (2024), Tang Prize (2024), dan Balzan Prize (2024).
(ahm)
Lihat Juga :