Siapa Sanae Takaichi? Politikus Jepang yang Akan Jadi PM Perempuan Pertama
Minggu, 05 Oktober 2025 - 02:20 WIB
loading...
A
A
A
Namun, pertama-tama, ia harus memastikan bahwa LDP, yang telah memerintah hampir tanpa henti sejak 1955, dapat kembali menggalang dukungan pemilih.
Jepang harus "mempertimbangkan kembali kebijakan yang mengizinkan masuknya orang-orang dengan budaya dan latar belakang yang sangat berbeda", kata Takaichi.
Kekhawatiran seperti itu dari politisi arus utama jarang terjadi di Jepang, di mana orang yang lahir di luar negeri hanya berjumlah 3 persen dari populasi.
Baca Juga: Seorang Drummer dan Penggemar Heavy Metal Akan PM Jepang Perempuan Pertama, Siapa Dia?
Namun, ia melunakkan pendiriannya selama kampanye, dan pengunjung tetap kuil perang Yasukuni ini juga terdengar lebih moderat terhadap China.
Berasal dari sayap tradisionalis LDP, perayaan atas terpilihnya seorang perempuan sebagai pemimpin Jepang mungkin akan segera berubah menjadi kekecewaan.
Takaichi "tidak tertarik pada hak-hak perempuan atau kebijakan kesetaraan gender," ujar Yuki Tsuji, seorang profesor yang mengkhususkan diri dalam politik dan gender di Universitas Tokai, kepada kantor berita AFP.
Namun, banyak pemilih perempuan tidak menganggapnya sebagai pendukung kemajuan.
Siapa Sanae Takaichi? Politikus Jepang yang Akan Jadi PM Perempuan Pertama
1. Membawa Agenda Populis
Takaichi dalam kampanye LDP berusaha menarik pemilih yang tertarik dengan pesan Sanseito tentang orang asing, baik migran maupun kerumunan turis.Jepang harus "mempertimbangkan kembali kebijakan yang mengizinkan masuknya orang-orang dengan budaya dan latar belakang yang sangat berbeda", kata Takaichi.
Kekhawatiran seperti itu dari politisi arus utama jarang terjadi di Jepang, di mana orang yang lahir di luar negeri hanya berjumlah 3 persen dari populasi.
Baca Juga: Seorang Drummer dan Penggemar Heavy Metal Akan PM Jepang Perempuan Pertama, Siapa Dia?
2. Memiliki Pandangan Moderat
Melansir Al Jazeera, di bidang ekonomi, Takaichi sebelumnya mendukung pelonggaran moneter yang agresif dan pengeluaran fiskal yang besar, senada dengan mentornya, mantan perdana menteri Shinzo Abe.Namun, ia melunakkan pendiriannya selama kampanye, dan pengunjung tetap kuil perang Yasukuni ini juga terdengar lebih moderat terhadap China.
Berasal dari sayap tradisionalis LDP, perayaan atas terpilihnya seorang perempuan sebagai pemimpin Jepang mungkin akan segera berubah menjadi kekecewaan.
Takaichi "tidak tertarik pada hak-hak perempuan atau kebijakan kesetaraan gender," ujar Yuki Tsuji, seorang profesor yang mengkhususkan diri dalam politik dan gender di Universitas Tokai, kepada kantor berita AFP.
3. Sangat Mengidolakan Margaret Thatcher
Takaichi telah lama mengagumi perdana menteri perempuan pertama Inggris, Margaret Thatcher. Ia kini semakin dekat untuk mewujudkan ambisinya sebagai Wanita Besi.Namun, banyak pemilih perempuan tidak menganggapnya sebagai pendukung kemajuan.
Lihat Juga :