Gempa Magnitudo 6,9 Guncang Filipina, Korban Tewas 72 Orang
Kamis, 02 Oktober 2025 - 13:39 WIB
loading...
A
A
A
"Banyak rumah hancur dan banyak keluarga membutuhkan bantuan untuk pulih...Mereka membutuhkan bantuan, doa, dan dukungan kita," ujarnya di Facebook.
Presiden Ferdinand Marcos Jr dijadwalkan terbang ke Cebu bersama para ajudan seniornya pada hari Kamis untuk memeriksa kerusakan dan mengoordinasikan upaya bantuan.
Sebuah kapel desa kecil menjadi rumah pascagempa bagi Diane Madrigal, seorang warga Bogo berusia 18 tahun, dan 14 tetangganya setelah rumah mereka hancur. Pakaian dan makanan mereka berserakan di bangku-bangku kapel.
"Seluruh dinding (rumah saya) runtuh, jadi saya benar-benar tidak tahu bagaimana dan kapan kami bisa kembali lagi," kata Madrigal kepada AFP.
"Saya masih takut dengan gempa susulan hingga saat ini, rasanya kami harus berlari lagi," imbuh dia.
Lucille Ipil, seorang ibu empat anak, menambahkan wadah airnya ke deretan wadah air sepanjang 10 meter di sepanjang jalan di Bogo, tempat para penduduk dengan putus asa menunggu truk pemadam kebakaran yang dijadwalkan membawakan mereka air.
"Gempa bumi benar-benar menghancurkan hidup kami. Air penting bagi semua orang. Kami tidak bisa makan, minum, atau mandi dengan layak," katanya kepada AFP.
"Kami benar-benar ingin kembali ke kehidupan lama kami sebelum gempa, tetapi kami tidak tahu kapan itu akan terjadi...Pembangunan kembali membutuhkan waktu yang lama."
Banyak daerah masih tanpa listrik, dan puluhan pasien berlindung di tenda-tenda di luar rumah sakit provinsi Cebu yang rusak di Bogo.
Presiden Ferdinand Marcos Jr dijadwalkan terbang ke Cebu bersama para ajudan seniornya pada hari Kamis untuk memeriksa kerusakan dan mengoordinasikan upaya bantuan.
Sebuah kapel desa kecil menjadi rumah pascagempa bagi Diane Madrigal, seorang warga Bogo berusia 18 tahun, dan 14 tetangganya setelah rumah mereka hancur. Pakaian dan makanan mereka berserakan di bangku-bangku kapel.
"Seluruh dinding (rumah saya) runtuh, jadi saya benar-benar tidak tahu bagaimana dan kapan kami bisa kembali lagi," kata Madrigal kepada AFP.
"Saya masih takut dengan gempa susulan hingga saat ini, rasanya kami harus berlari lagi," imbuh dia.
Lucille Ipil, seorang ibu empat anak, menambahkan wadah airnya ke deretan wadah air sepanjang 10 meter di sepanjang jalan di Bogo, tempat para penduduk dengan putus asa menunggu truk pemadam kebakaran yang dijadwalkan membawakan mereka air.
"Gempa bumi benar-benar menghancurkan hidup kami. Air penting bagi semua orang. Kami tidak bisa makan, minum, atau mandi dengan layak," katanya kepada AFP.
"Kami benar-benar ingin kembali ke kehidupan lama kami sebelum gempa, tetapi kami tidak tahu kapan itu akan terjadi...Pembangunan kembali membutuhkan waktu yang lama."
Banyak daerah masih tanpa listrik, dan puluhan pasien berlindung di tenda-tenda di luar rumah sakit provinsi Cebu yang rusak di Bogo.
Lihat Juga :