Iran Dipasok Jet Tempur MiG-29 dan Sistem Rudal S-400 Rusia, Musuh Israel Itu Kini Bangkit
Kamis, 25 September 2025 - 11:57 WIB
loading...
Iran dipasok jet tempur MiG-29 dan sistem pertahanan rudal S-400 oleh Rusia, menandai kebangkitan militer Teheran setelah perang 12 hari melawan Israel. Foto/Donat Sorokin/TASS
A
A
A
TEHERAN - Iran telah dipasok sejumlah jet tempur MiG-29 dan sistem pertahanan rudal S-400 Rusia. Ini menandai kebangkitan baru militer Teheran setelah perang 12 hari melawan Israel pada Juni lalu.
Abolfazl Zohrevand, anggota Komite Keamanan Nasional Parlemen Iran, mengatakan pasokan jet-jet tempur MiG-29 dari Rusia telah mendarat di Iran. Menurutnya, MiG-29 hanyalah "solusi jangka pendek" sambil menunggu pasokan jet tempur Su-35 yang lebih canggih dari Moskow.
"Setelah sistem ini sepenuhnya terpasang, musuh kita akan memahami bahasa kekuatan," ujar Zohrevand kepada media lokal, menyoroti tekad Teheran untuk memproyeksikan kekuatan di tengah pengawasan ketat kekuatan regional dan global.
Baca Juga: Iran Aktifkan Sistem Rudal Canggih S-400 Rusia setelah Situs Nuklirnya Dibom AS
Perang 12 hari dengan Israel pada Juni lalu mengungkap kelemahan Angkatan Udara dan jaringan pertahanan Iran yang menua. Serangan Israel saat itu menargetkan situs-situs nuklir dan militer Iran, menyoroti kerentanan yang kini sedang ditangani Teheran.
“Jet tempur MiG-29 Rusia telah tiba di Iran dan ditempatkan di Shiraz, sementara jet Sukhoi Su-35 juga sedang dalam perjalanan,” kata Zohrevand, yang dilansir Newsweek, Kamis (25/9/2025).
Dia menambahkan, sistem pertahanan udara HQ-9 China dan sistem S-400 Rusia juga telah dipasok ke Iran dalam jumlah yang signifikan.
Iran telah lama berjuang untuk memodernisasi Angkatan Udara-nya, yang masih sangat bergantung pada jet tempur buatan AS yang dibeli sebelum revolusi 1979, ditambah dengan sejumlah kecil pesawat Rusia dan platform yang di-upgrade di dalam negeri.
Kerentanan negara itu terungkap ketika serangan Israel menghancurkan sistem pertahanan udara S-300 terakhir yang dipasok Rusia, yang diperoleh Teheran pada tahun 2016, meninggalkan celah yang signifikan dalam jaringan perlindungannya.
Sebagai kompensasinya, Iran telah memperkuat pertahanan udara dalam negerinya dengan mengembangkan sistem rudal darat-ke-udara jarak jauh Bavar-373, sistem rudal Khordad dan Sayyad, sistem pertahanan rudal anti-balistik jarak jauh Arman, dan sistem rudal darat-ke-udara jarak jauh S-200 Ghareh.
Selain pengembangan militernya, Iran berupaya untuk memanfaatkan kapabilitasnya yang terus berkembang secara diplomatis.
Merujuk pada perjanjian Kairo yang ditandatangani awal tahun ini dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Zohrevand menggambarkan akuisisi baru-baru ini sebagai "kartu kemenangan" di saat kekuatan-kekuatan Eropa sedang mempertimbangkan untuk menerapkan kembali sanksi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terhadap Iran.
"Kita tidak boleh memandang ini secara negatif; ini memperkuat posisi kita," tegasnya, seraya mengisyaratkan bahwa Teheran memandang peningkatan kemampuan udara dan rudalnya sebagai pencegah sekaligus alat untuk memperkuat posisinya dalam negosiasi internasional.
Negara Islam itu juga dilaporkan mulai membangun kembali situs-situs rudal yang jadi target serangan Israel Juni lalu.
Abolfazl Zohrevand, anggota Komite Keamanan Nasional Parlemen Iran, mengatakan pasokan jet-jet tempur MiG-29 dari Rusia telah mendarat di Iran. Menurutnya, MiG-29 hanyalah "solusi jangka pendek" sambil menunggu pasokan jet tempur Su-35 yang lebih canggih dari Moskow.
"Setelah sistem ini sepenuhnya terpasang, musuh kita akan memahami bahasa kekuatan," ujar Zohrevand kepada media lokal, menyoroti tekad Teheran untuk memproyeksikan kekuatan di tengah pengawasan ketat kekuatan regional dan global.
Baca Juga: Iran Aktifkan Sistem Rudal Canggih S-400 Rusia setelah Situs Nuklirnya Dibom AS
Perang 12 hari dengan Israel pada Juni lalu mengungkap kelemahan Angkatan Udara dan jaringan pertahanan Iran yang menua. Serangan Israel saat itu menargetkan situs-situs nuklir dan militer Iran, menyoroti kerentanan yang kini sedang ditangani Teheran.
“Jet tempur MiG-29 Rusia telah tiba di Iran dan ditempatkan di Shiraz, sementara jet Sukhoi Su-35 juga sedang dalam perjalanan,” kata Zohrevand, yang dilansir Newsweek, Kamis (25/9/2025).
Dia menambahkan, sistem pertahanan udara HQ-9 China dan sistem S-400 Rusia juga telah dipasok ke Iran dalam jumlah yang signifikan.
Iran telah lama berjuang untuk memodernisasi Angkatan Udara-nya, yang masih sangat bergantung pada jet tempur buatan AS yang dibeli sebelum revolusi 1979, ditambah dengan sejumlah kecil pesawat Rusia dan platform yang di-upgrade di dalam negeri.
Kerentanan negara itu terungkap ketika serangan Israel menghancurkan sistem pertahanan udara S-300 terakhir yang dipasok Rusia, yang diperoleh Teheran pada tahun 2016, meninggalkan celah yang signifikan dalam jaringan perlindungannya.
Sebagai kompensasinya, Iran telah memperkuat pertahanan udara dalam negerinya dengan mengembangkan sistem rudal darat-ke-udara jarak jauh Bavar-373, sistem rudal Khordad dan Sayyad, sistem pertahanan rudal anti-balistik jarak jauh Arman, dan sistem rudal darat-ke-udara jarak jauh S-200 Ghareh.
Selain pengembangan militernya, Iran berupaya untuk memanfaatkan kapabilitasnya yang terus berkembang secara diplomatis.
Merujuk pada perjanjian Kairo yang ditandatangani awal tahun ini dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Zohrevand menggambarkan akuisisi baru-baru ini sebagai "kartu kemenangan" di saat kekuatan-kekuatan Eropa sedang mempertimbangkan untuk menerapkan kembali sanksi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terhadap Iran.
"Kita tidak boleh memandang ini secara negatif; ini memperkuat posisi kita," tegasnya, seraya mengisyaratkan bahwa Teheran memandang peningkatan kemampuan udara dan rudalnya sebagai pencegah sekaligus alat untuk memperkuat posisinya dalam negosiasi internasional.
Negara Islam itu juga dilaporkan mulai membangun kembali situs-situs rudal yang jadi target serangan Israel Juni lalu.
(mas)
Lihat Juga :