Apakah Mungkin Israel Mengakui Kemerdekaan Palestina?

Rabu, 24 September 2025 - 13:09 WIB
loading...
A A A
Hal ini membuat suara kompromi semakin tenggelam. Dengan dominasi politik kanan, peluang Israel mengakui Palestina semakin mengecil, kecuali terjadi perubahan besar dalam lanskap politik domestik mereka.

4. Faktor Keamanan


Isu keamanan menjadi alasan utama Israel menolak pengakuan Palestina. Israel khawatir negara Palestina berdaulat bisa menjadi basis bagi kelompok pejuang seperti Hamas untuk melancarkan serangan yang lebih terorganisasi.

Pengalaman pahit Israel menarik diri dari Gaza pada tahun 2005 menjadi contoh yang terus membayangi. Setelah penarikan itu, justru serangan roket ke wilayah Israel semakin meningkat.

Dari perspektif Israel, menerima Palestina sebagai negara berarti membuka potensi ancaman di perbatasan yang sangat dekat dengan kota-kota besar Israel.

Mereka menuntut jaminan keamanan yang konkret, seperti demiliterisasi negara Palestina atau pengawasan internasional. Tanpa jaminan itu, hampir mustahil Israel mau memberikan pengakuan resmi karena mempertaruhkan keselamatan rakyatnya.

5. Faktor Eksternal: Amerika Serikat dan Dunia Arab


Amerika Serikat adalah sekutu utama Israel dan memiliki pengaruh sangat besar dalam kebijakan luar negeri mereka.

Selama AS tetap mendukung Israel tanpa syarat, tekanan internasional terhadap Israel untuk mengakui Palestina relatif lemah. AS sering memveto resolusi PBB yang menguntungkan Palestina, sehingga Israel merasa memiliki “tameng” kuat di panggung internasional.

Di sisi lain, negara-negara Arab historis mendukung Palestina, tetapi situasi mulai berubah. Beberapa negara Arab telah menormalisasi hubungan dengan Israel melalui Abraham Accords.

Hal ini melemahkan solidaritas Arab dan mengurangi tekanan kolektif terhadap Israel. Dengan kondisi seperti ini, Israel merasa tidak perlu terburu-buru mengakui Palestina karena ancaman diplomatik dan ekonominya tidak terlalu besar.

6. Perpecahan Internal Palestina


Persatuan internal Palestina juga sangat memengaruhi peluang pengakuan dari Israel. Fatah, yang menguasai Tepi Barat, dan Hamas, yang menguasai Gaza, memiliki perbedaan ideologi dan strategi yang tajam. Fatah lebih cenderung diplomatis, sedangkan Hamas lebih militan dan menolak eksistensi Israel. Perpecahan ini membuat Israel beralasan bahwa tidak ada satu otoritas sah yang bisa mewakili seluruh rakyat Palestina.

Israel dapat menggunakan perpecahan ini sebagai argumen untuk menolak negosiasi. Mereka bisa mengatakan, “Dengan siapa kami harus berbicara? Hamas atau Fatah?”

Selama Palestina belum bersatu di bawah satu pemerintahan yang legitimate, peluang Israel untuk mengakui negara Palestina akan sangat kecil karena dianggap tidak ada mitra yang kredibel untuk membuat perjanjian damai.

7. Solusi Dua Negara dan Hambatan Implementasi


Secara teori, solusi dua negara dianggap jalan terbaik untuk menyelesaikan konflik. Namun, hambatan implementasinya sangat besar.

Pertama, pemukiman Yahudi di Tepi Barat terus berkembang, sehingga wilayah yang seharusnya untuk Palestina semakin terpecah-pecah.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Israel Bunuh Jurnalis...
Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera dalam Serangan Udara di Gaza, Menuduhnya Milisi Hamas
Pasukan Israel Gagal...
Pasukan Israel Gagal Ambil Tank Komandan yang Gugur di Lebanon Selatan
4 Tentara Israel Tewas,...
4 Tentara Israel Tewas, Menteri-menteri Ekstremis Ancam Bakar Seluruh Lebanon, Buka Gerbang Neraka
Hizbullah Peringatkan...
Hizbullah Peringatkan Israel Punya Waktu 60 hari untuk Mundur dari Lebanon
Komite Administrasi...
Komite Administrasi Gaza Ungkap Prioritas Rekonstruksi Sudah Ditetapkan, Siap Mulai Pekerjaan
Israel Marah setelah...
Israel Marah setelah Presiden Belarusia Samakan Pembantaian Gaza dengan Holocaust Nazi
Prabowo-Macron Sepakat...
Prabowo-Macron Sepakat Dukung Solusi Dua Negara untuk Palestina
CDC: Wabah Ebola di...
CDC: Wabah Ebola di RD Kongo Bisa Menjadi yang Terburuk dalam Sejarah
Perwira Militer Israel...
Perwira Militer Israel yang Tewas Dibom di Lebanon Ternyata Pembunuh Bocah Gaza Hind Rajab
Rekomendasi
Prabowo Panggil Rosan...
Prabowo Panggil Rosan Roeslani ke Kertanegara Minggu Malam, Ada Apa?
Hadiri Musprov POBSI...
Hadiri Musprov POBSI Sumut, Ketua Harian: Membangun Biliar Lebih Besar demi Hasilkan Atlet Terbaik 
PWN 2026 Resmi Digelar...
PWN 2026 Resmi Digelar di JICC, Diikuti 15 Ribu Peserta dari Seluruh Indonesia
Berita Terkini
5 Fakta Iran Mampu Memecah...
5 Fakta Iran Mampu Memecah Aliansi Abadi AS dan Israel, Lebanon Jadi Alat Utamanya
3 Alasan PM Inggris...
3 Alasan PM Inggris Starmer Akan Mundur, Popularitasnya Terus Menurun
Iran dan AS Berdamai,...
Iran dan AS Berdamai, Negara-negara Arab Bisa Bernapas Lega
Gelar Serangan Balasan,...
Gelar Serangan Balasan, Rusia Hancurkan Fasilitas Energi di Seluruh Ukraina
JD Vance: Iran dan AS...
JD Vance: Iran dan AS Bekerja Sama Mewujudkan Perdamaian dan Kemakmuran di Timur Tengah
Iran Gunakan Senjata...
Iran Gunakan Senjata Ampuh dalam Negosiasi di Swiss, Apa Itu?
Infografis
6 Strategi Iran Memperpanjang...
6 Strategi Iran Memperpanjang Durasi Perang dengan AS dan Israel
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved