Apakah Mungkin Israel Mengakui Kemerdekaan Palestina?

Rabu, 24 September 2025 - 13:09 WIB
loading...
Apakah Mungkin Israel...
Bendera Palestina berkibar di tengah gedung yang hancur akibat serangan Israel di Jalur Gaza. Foto/anadolu
A A A
TEL AVIV - Konflik Israel dan Palestina telah berlangsung lebih dari tujuh dekade dan menjadi salah satu isu paling kompleks dalam politik internasional. Pertanyaan yang sering muncul adalah apakah Israel pada suatu saat akan mengakui kemerdekaan Palestina?

Jawaban atas pertanyaan ini tidak sederhana, sebab menyangkut sejarah panjang, faktor politik domestik, isu keamanan, serta dinamika geopolitik global. Berikut adalah poin-poin utama yang bisa menjelaskan kemungkinan tersebut.

1. Sejarah Konflik Israel-Palestina


Konflik Israel-Palestina berakar pada perebutan tanah yang sama, yaitu wilayah bersejarah Palestina. Pada tahun 1947, PBB mengusulkan pembagian wilayah itu menjadi dua negara: satu untuk orang Yahudi dan satu untuk orang Arab Palestina.

Israel menerima, tetapi pihak Arab menolak karena merasa hak mereka dilanggar. Setelah Israel mendeklarasikan kemerdekaannya pada 1948, perang besar meletus, ratusan ribu warga Palestina terusir, dan wilayah yang tersisa semakin menyempit.

Dari sinilah muncul luka sejarah yang hingga kini sulit disembuhkan.

Mengakui Palestina berarti Israel harus mengakui bangsa Palestina juga memiliki hak kedaulatan di tanah yang mereka klaim sebagai tanah leluhur Yahudi. Hal ini bukan hanya soal politik, tetapi juga menyangkut identitas dan narasi sejarah yang tertanam dalam kesadaran nasional Israel.

Bagi sebagian besar warga Israel, pengakuan semacam itu terasa seperti meniadakan perjuangan panjang yang mereka lalui untuk mendirikan negara.

2. Arti Penting Pengakuan Palestina


Jika Israel benar-benar mengakui Palestina, dampaknya akan sangat besar terhadap perdamaian kawasan. Pengakuan itu akan membuka jalan bagi solusi dua negara, yang selama ini dianggap sebagai opsi paling realistis untuk mengakhiri konflik.

Bagi Palestina, pengakuan tersebut akan melegitimasi perjuangan panjang mereka sekaligus memberikan akses penuh ke kedaulatan politik, ekonomi, dan hukum internasional.

Namun dari sudut pandang Israel, pengakuan semacam ini membawa konsekuensi besar. Israel harus bersedia berbagi Yerusalem, mengizinkan Palestina mengontrol perbatasannya, serta memberikan solusi atas isu pengungsi Palestina.

Semua hal itu bisa dianggap melemahkan posisi strategis Israel, sehingga mereka enggan melakukannya meskipun pengakuan itu berpotensi membawa stabilitas jangka panjang.

3. Politik Dalam Negeri Israel


Politik dalam negeri Israel sangat menentukan kemungkinan adanya pengakuan terhadap Palestina. Partai-partai sayap kanan, terutama Likud yang sering berkuasa, cenderung menolak keras gagasan negara Palestina.

Mereka berpendapat mendirikan negara Palestina hanya akan menciptakan ancaman baru di jantung Israel, apalagi dengan adanya serangan roket dari Gaza dan aksi serangan di masa lalu. Sikap ini membuat pemerintah Israel sulit untuk bernegosiasi secara terbuka.

Sebaliknya, kubu moderat dan kiri seperti Partai Buruh dan Meretz lebih mendukung solusi dua negara. Namun, dukungan publik terhadap mereka melemah seiring meningkatnya konflik.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Israel Marah setelah...
Israel Marah setelah Presiden Belarusia Samakan Pembantaian Gaza dengan Holocaust Nazi
Israel Danai Pemukim...
Israel Danai Pemukim Ekstremis, Bayar Rp34 Miliar Per Bulan
Hamas Sambut Baik Kesepakatan...
Hamas Sambut Baik Kesepakatan AS-Iran, Serukan Penghentian Serangan di Gaza dan Lebanon
Israel Tak Akan Mundur...
Israel Tak Akan Mundur dari Suriah, Gaza dan Lebanon
Apa Itu Front Kedelapan...
Apa Itu Front Kedelapan Israel? Propaganda Digital terhadap Politikus Pro-Palestina
Hamas Peringatkan Israel...
Hamas Peringatkan Israel Perluas Garis Kuning Gaza untuk Gagalkan Perundingan Gencatan Senjata
Prabowo-Macron Sepakat...
Prabowo-Macron Sepakat Dukung Solusi Dua Negara untuk Palestina
CDC: Wabah Ebola di...
CDC: Wabah Ebola di RD Kongo Bisa Menjadi yang Terburuk dalam Sejarah
Pulau Antartika Australia...
Pulau Antartika Australia Diserang Flu Burung, Ribuan Anak Anjing Laut Mati!
Rekomendasi
Muktamar NU Harus Jadi...
Muktamar NU Harus Jadi Momentum Pemurnian, Bukan Arena Perebutan Kekuasaan
APKB Dorong Penyempurnaan...
APKB Dorong Penyempurnaan Regulasi Kawasan Berikat: Menjaga Daya Saing Industri dan Investasi
OJK Rilis Daftar Direksi...
OJK Rilis Daftar Direksi BEI Baru, Ada 7 Direktur Terpilih
Berita Terkini
Mojtaba Khamenei: Iran...
Mojtaba Khamenei: Iran dan AS Capai Kesepakatan karena Trump Putus Asa
AS dan Iran Berdamai,...
AS dan Iran Berdamai, Wapres Amerika Berbalik Kecam Israel
AS Berencana Bangun...
AS Berencana Bangun Persediaan Senjata Siap Tempur di Australia
Pemimpin Hizbullah:...
Pemimpin Hizbullah: Perlawanan Gagalkan Proyek Israel Raya, Perlucutan Senjata Tak akan Disetujui
AS Siap Mulai Lagi Perang...
AS Siap Mulai Lagi Perang dan Terapkan Kembali Blokade Jika Iran Tidak Patuh
Trump Bela Kesepakatan...
Trump Bela Kesepakatan Iran: Orang-orang Dungu Itu Iri, Orang Jahat, atau Bodoh
Infografis
6 Strategi Iran Memperpanjang...
6 Strategi Iran Memperpanjang Durasi Perang dengan AS dan Israel
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved