Prancis Resmi Akui Negara Palestina, Israel Makin Murka

Selasa, 23 September 2025 - 07:10 WIB
loading...
Prancis Resmi Akui Negara...
Presiden Emmanuel Macron umumkan pengakuan Prancis atas Negara Palestina di New York. Prancis susul langkah serupa oleh Kanada, Inggris, Australia, dan Portugal yang membuat Israel semakin marah. Foto/The New York Times/Dave Sanders
A A A
NEW YORK - Prancis resmi mengakui Negara Palestina pada hari Senin waktu New York. Langkah Paris ini—yang membuat Israel semakin marah—menyusul pengakuan serupa oleh empat negara Barat lainnya; Inggris, Kanada, Australia, dan Portugal pada hari Minggu.

Pengakuan dari Prancis disampaikan Presiden Emmanuel Macron. Dialah memimpin pertemuan puncak PBB yang telah mendorong sejumlah pemerintah Barat membuat pengakuan untuk Negara Palestina.

"Waktunya perdamaian telah tiba, karena kita hanya beberapa saat lagi tidak dapat meraihnya lagi," ujar Macron dalam pertemuan puncak tersebut.

Baca Juga: Inggris, Kanada, dan Australia Resmi Akui Negara Palestina dalam Langkah Bersejarah

"Waktunya telah tiba untuk membebaskan 48 sandera yang ditawan Hamas. Waktunya telah tiba untuk menghentikan perang, pengeboman Gaza, pembantaian, dan pengungsian," katanya lagi.

Langkah lima negara Barat ini telah meningkatkan tekanan terhadap Israel yang tengah mengintensifkan perang brutalnya di Gaza yang telah menewaskan puluhan ribu orang.

Macron sebelumnya mengatakan bahwa dia akan menjadikan pembebasan sandera yang ditawan Hamas dalam serangannya terhadap Israel pada 7 Oktober 2023 sebagai prasyarat untuk membuka Kedutaan Besar Prancis di Negara Palestina.

Rezim Zionis Israel semakin marah dengan bergabungnya Prancis dalam daftar negara Barat yang mengakui Negara Palestina. Para menteri sayap kanan Israel terus mendesak Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk mencaplok Tepi Barat, yang membuat pendirian Negara Palestina menjadi mustahil.

Duta Besar Israel untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Danny Danon, memperingatkan, "Kami akan mengambil tindakan."

"Lebih mudah datang ke sini dan berpidato, berfoto, merasa mereka sedang melakukan sesuatu. Tapi mereka tidak mempromosikan perdamaian. Mereka mendukung terorisme," ujarnya kepada para wartawan.

Amerika Serikat, pendukung diplomatik dan militer penting Israel, telah gagal mendesak sekutu-sekutunya untuk membatalkan rencana pengakuan Negara Palestina, di mana Presiden Donald Trump mengatakan bahwa sebuah negara hanya dapat terwujud melalui negosiasi.

"Terus terang, dia yakin ini adalah hadiah bagi Hamas," kata Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt tentang pengakuan Negara Palestina.

"Jadi dia yakin keputusan-keputusan ini hanyalah omong kosong belaka dan belum cukup tindakan dari beberapa teman dan sekutu kita," ujarnya kepada para wartawan di Washington.

Jerman, meskipun lebih kritis daripada Washington terhadap tindakan Israel di Gaza, juga menjauhkan diri dari langkah Prancis dan Inggris dan tidak akan mengakui Negara Palestina.

Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul mengatakan,"Solusi dua negara yang dinegosiasikan adalah jalan yang memungkinkan warga Israel dan Palestina hidup dalam damai, aman, dan bermartabat."

Agenda Utama PBB


Lebih dari 140 pemimpin dunia akan hadir di New York, tetapi tidak termasuk Presiden Palestina Mahmoud Abbas, yang ditolak visanya oleh otoritas AS, sehingga terpaksa hadir secara virtual.

Israel mengatakan akan melewatkan pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB soal Gaza pada hari Selasa karena Tahun Baru Yahudi, dan menyebut waktu tersebut "disesalkan".

Netanyahu pada hari Minggu menegaskan kembali posisinya bahwa tidak akan ada Negara Palestina dan berjanji untuk mempercepat pembangunan permukiman baru di Tepi Barat yang diduduki.

Dua menteri sayap kanan Israel, Itamar Ben Gvir dan Bezalel Smotrich, melangkah lebih jauh, menyerukan aneksasi atau pencaplokan Tepi Barat.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan kepada AFP pada Jumat pekan lalu, "Kita tidak perlu merasa terintimidasi oleh risiko pembalasan."

Macron telah menyuarakan kekesalannya atas serangan Israel yang berkepanjangan ketika dia memutuskan untuk mengakui Negara Palestina.

Inggris, yang lebih dari seabad lalu menyatakan dukungannya terhadap Tanah Air Yahudi, membuka kemungkinan untuk menarik kembali pengakuan Negara Palestina jika Israel menyetujui gencatan senjata di Gaza.

Namun, langkah bersejarah ini juga kemungkinan besar tidak akan berdampak banyak di lapangan.

"Kecuali didukung oleh langkah-langkah konkret, mengakui Palestina sebagai negara berisiko mengalihkan perhatian dari kenyataan, yaitu semakin terhapusnya kehidupan Palestina di tanah air mereka," kata Max Rodenbeck, direktur proyek Israel-Palestina di International Crisis Group.

Serangan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023 mengakibatkan kematian 1.219 warga Israel, sebagian besar warga sipil, menurut data resmi Zionis Israel.

Operasi brutal militer Israel sejak saat itu telah menewaskan 65.062 warga Palestina, sebagian besar warga sipil, menurut Kementerian Kesehatan yang dikelola Hamas, angka yang dianggap PBB kredibel.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Netanyahu Ingin Israel...
Netanyahu Ingin Israel Bebaskan Diri dari Ketergantungan Persenjataan pada AS
Gelombang Panas Sengat...
Gelombang Panas Sengat Eropa, 18 Orang Tewas di Prancis
Aktivis Zionis: 15 Tahun...
Aktivis Zionis: 15 Tahun Lagi, Israel Akan Perang dengan Mesir
Menteri Zionis Tolak...
Menteri Zionis Tolak Gencatan Senjata: Lebanon Seharusnya Jadi Arena Bermain Israel
Penembakan Guncang Lingkungan...
Penembakan Guncang Lingkungan Yahudi Montreal, 3 Orang Tewas, Termasuk Pelaku
Iran Dapat Rp5.360 Triliun...
Iran Dapat Rp5.360 Triliun Jadi Inti Kesepakatan dengan AS, tapi Siapa yang Bayar?
Prancis Naik Pitam!...
Prancis Naik Pitam! Siap Jegal Iran soal Tarif Tol di Selat Hormuz
Israel Bom Lebanon,...
Israel Bom Lebanon, Iran Murka Bakal Kembali Tutup Selat Hormuz
Hampir Setengah Warga...
Hampir Setengah Warga Israel Dukung Serangan ke Lebanon meski Harus Melawan Trump
Rekomendasi
Bacaan Niat Puasa Asyura...
Bacaan Niat Puasa Asyura dan Keistimewaannya, Puasa Sehari Penghapus Dosa Setahun
Pemain Inggris Tolak...
Pemain Inggris Tolak Jabat Tangan Thomas Partey di Piala Dunia 2026
Pasar Modal RI Terancam...
Pasar Modal RI Terancam Turun Kasta ke Frontier Market, MSCI Ultimatum hingga November 2026
Berita Terkini
Trump: Produsen Mobil...
Trump: Produsen Mobil AS Bisa Produksi Rudal
Oman dan Iran Bentuk...
Oman dan Iran Bentuk Kelompok Kerja Bersama untuk Bahas Pengelolaan Selat Hormuz
Trump Batasi Israel...
Trump Batasi Israel di Berbagai Bidang, Tak Hanya di Lebanon
Iran akan Bangun Saluran...
Iran akan Bangun Saluran Komunikasi Langsung Hormuz dengan AS
Putin: Negara-negara...
Putin: Negara-negara Barat Secara Terbuka Mengatakan Mereka Bersiap Perangi Rusia
PM Pakistan: AS dan...
PM Pakistan: AS dan Iran akan Bahas Program Rudal Balistik dan Isu Nuklir dalam 60 Hari ke Depan
Infografis
15 Negara dengan Militer...
15 Negara dengan Militer Terkuat di Dunia 2025, Indonesia Ungguli Israel
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved