Dibela China, Taliban Tolak Serahkan Kembali Pangkalan Afghanistan kepada AS

Minggu, 21 September 2025 - 13:17 WIB
loading...
Dibela China, Taliban...
Taliban, sebagai penguasa Afghanistan, menolak menyerahkan kembali kendali Pangkalan Udara Bagram kepada militer AS sebagaimana yang diminta Presiden Donald Trump. Foto/Uzalendo News
A A A
KABUL - Taliban, sebagai penguasa Afghanistan, menolak menyerahkan kembali kendali Pangkalan Udara Bagram kepada militer Amerika Serikat (AS) sebagaimana yang diminta Presiden Donald Trump. Sikap Taliban ini didukung China.

Zakir Jalaly, seorang diplomat di Kementerian Luar Negeri Afghanistan, mengatakan bahwa rakyat negaranya akan menolak kembalinya pasukan AS.

Dia berpendapat bahwa Kabul dan Washington harus menjalin hubungan ekonomi dan politik yang saling menghormati. "Tanpa AS mempertahankan kehadiran militer di bagian mana pun di Afghanistan," katanya.

Pangkalan Udara Bagram awalnya dibangun Uni Soviet. AS membangunnya kembali lebih megah dan mengoperasikannya setelah menggulingkan rezim Taliban di Afghanistan pada 2001.

Baca Juga: Trump Ancam Afghanistan Jika Tak Serahkan Pangkalan Bagram ke AS: 'Hal Buruk Akan Terjadi!'

Pada 2021, Taliban bangkit dan merebut kembali pangkalan tersebut seiring dengan penarikan pasukan AS dan sekutu NATO-nya yang kecau dari Afghanistan. Trump menyebut penarikan pasukan tersebut, yang terjadi di bawah kepemimpinan pendahulunya, Joe Biden, sebagai "aib".

Trump juga menuduh bahwa China menggunakan pangkalan tersebut, tanpa memberikan bukti atas tuduhannya. Kabul juga membantah klaim Trump.

Trump mengeklaim sedang berunding dengan para pemimpin Afghanistan mengenai masalah ini, dengan alasan bahwa Washington membutuhkan pangkalan tersebut karena lokasinya yang dekat dengan beberapa infrastruktur nuklir utama China.

Sementara itu, China mendukung sikap Taliban yang menolak kembalinya pasukan AS ke Pangkalan Udara Bagram.

“China menghormati kemerdekaan, kedaulatan, dan integritas teritorial Afghanistan. Masa depan Afghanistan harus berada di tangan rakyat Afghanistan,” ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian.

“Menimbulkan ketegangan dan konfrontasi di kawasan tidak akan didukung,” imbuh dia.

Namun Trump mengancam Afghanistan jika menolak menyerahkan Pangkalan Udara Bagram kepada militer Washington. Dia mengisyaratkan akan ada "hukuman" kepada negara yang sekarang dikendalikan Taliban tersebut.

"Jika Afghanistan tidak mengembalikan Pangkalan Udara Bagram kepada mereka yang membangunnya, Amerika Serikat, HAL-HAL BURUK AKAN TERJADI!!!" tulis pemimpin berusia 79 tahun itu di platform Truth Social miliknya.

Trump sering menyesalkan hilangnya akses militer AS ke Pangkalan Udara Bagram, mengingat kedekatannya dengan China, tetapi hari Kamis adalah pertama kalinya dia mengumumkan bahwa dia sedang menangani masalah ini.

"Kami sedang berusaha untuk mendapatkan, ngomong-ngomong, itu bisa jadi berita besar. Kami berusaha mendapatkannya kembali karena mereka membutuhkan sesuatu dari kami," kata Trump dalam konferensi pers bersama Perdana Menteri Inggris Keir Starmer.

Kemudian pada hari Sabtu, presiden AS itu ditanya oleh wartawan di Gedung Putih apakah dia mempertimbangkan untuk mengirim pasukan AS untuk merebut kembali Bagram.

"Kami tidak akan membicarakan itu, tetapi kami sedang berbicara dengan Afghanistan, dan kami menginginkannya kembali dan kami menginginkannya kembali segera, segera," ujarnya.

"Dan jika mereka tidak melakukannya, kalian akan tahu apa yang akan saya lakukan," katanya lagi, seperti dikutip AFP, Minggu (21/9/2025).
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pembangkang China Ini...
Pembangkang China Ini Kabur ke Korea Selatan dengan Perahu Karet, Sekarang Muncul di Kanada
Iran Tuduh AS Khianati...
Iran Tuduh AS Khianati Perjanjian Damai saat Kedua Pihak Saling Serang
AS Serang 10 Target...
AS Serang 10 Target di Iran, IRGC Balas Bombardir Pangkalan Amerika di Kuwait dan Bahrain
6 Pesawat Pengebom Nuklir...
6 Pesawat Pengebom Nuklir China dan Rusia Manuver Gabungan Dekati Jepang
Xi Jinping dan Akhir...
Xi Jinping dan Akhir dari Narasi Kebangkitan Damai China
China Selidiki Insiden...
China Selidiki Insiden Pesawat Tabrak Gedung Tertinggi, Pilot Tewas, 13 Orang Luka
Timnas Iran Pulang Tanpa...
Timnas Iran Pulang Tanpa Kekalahan
Sengaja Targetkan Anak-Anak...
Sengaja Targetkan Anak-Anak Palestina, Penyelidik PBB Nyatakan Israel Lakukan Genosida di Gaza
AS Rilis Paspor Edisi...
AS Rilis Paspor Edisi Terbatas Bergambar Trump, Begini Wujudnya
Rekomendasi
Hadiri Pekan Olahraga...
Hadiri Pekan Olahraga Polri dan CFD, Kapolri: Momentum Perkuat Kedekatan dengan Masyarakat
Sempat Dilarang di Qatar...
Sempat Dilarang di Qatar 2022, Kenapa FIFA Izinkan Bendera LGBT Masuk Stadion Piala Dunia 2026?
Denny Sumargo Klarifikasi...
Denny Sumargo Klarifikasi Rumor Selingkuh, Tegaskan Momen di CCTV Hanya Syuting
Berita Terkini
8 Pangkalan Militer...
8 Pangkalan Militer AS Diserang Iran, IRGC: Selat Hormuz Milik Kita
AS dan Iran Saling Serang...
AS dan Iran Saling Serang Lagi, Apakah Masih Ada Harapan Perdamaian di Timur Tengah?
Pembangkang China Ini...
Pembangkang China Ini Kabur ke Korea Selatan dengan Perahu Karet, Sekarang Muncul di Kanada
Iran Tuduh AS Khianati...
Iran Tuduh AS Khianati Perjanjian Damai saat Kedua Pihak Saling Serang
AS Serang 10 Target...
AS Serang 10 Target di Iran, IRGC Balas Bombardir Pangkalan Amerika di Kuwait dan Bahrain
6 Teroris Ditembak Mati...
6 Teroris Ditembak Mati usai Serang Markas Rangers Pakistan, 4 Tentara Juga Tewas
Infografis
Apa Itu Dilema Malaka?...
Apa Itu Dilema Malaka? Strategi AS Cekik Minyak China, Berpotensi Seret Indonesia dalam Konflik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved