Influencer Nepal Tuding Banyak Perempuan Diperkosa karena Ikut Demonstrasi

Rabu, 10 September 2025 - 21:12 WIB
loading...
Influencer Nepal Tuding...
Influencer Nepal tuding banyak perempuan diperkosa karena ikut aksi demonstrasi. Foto/X/Nepal Times
A A A
KATHMANDU - Upaya brutal negara untuk meredam pemberontakan massal, yang dipimpin oleh Generasi Z, menyebabkan hilangnya sedikitnya 19 nyawa dan ratusan lainnya luka-luka. Menurut para influencer media sosial Nepal , beberapa korban tewas adalah siswa berseragam sekolah dan terjadi pemerkosaan massal.

"Siswa berseragam sekolah, bahkan anak di bawah umur, ditembak," kata Miss Nepal Earth 2022, Sareesha Shrestha, dalam sebuah video TikTok, dilansir NDTV. Ia mengklaim bahwa petugas penegak hukum memasuki rumah sakit tempat para korban luka dirawat dan menyerang mereka.

"Sesuatu yang dimulai sebagai demonstrasi damai di seluruh negeri akhirnya menjadi tragedi yang memilukan bagi seluruh bangsa," katanya.

Ruth Khadka, seorang influencer media sosial dari Nepal, juga mengklaim bahwa beberapa siswa berseragam sekolah menjadi sasaran aparat penegak hukum.

"Para demonstran damai, kebanyakan siswa berseragam, tewas. Perempuan dan anak perempuan diperkosa di rumah mereka sendiri karena mereka menentang korupsi... Orang-orang menghadapi kekerasan oleh mereka yang seharusnya menjaga mereka... Peluru yang ditembakkan seharusnya peluru karet, tetapi ternyata bukan. Polisi seharusnya melindungi warga, bukan membunuh mereka," ujarnya.

Baca Juga: Generasi Z Nepal Tuntut Pengunduran Diri Massal Pejabat Pemerintah

Menurut Drishti Adhikari, seorang TikToker dari Nepal, sebagian besar demonstran tidak bersenjata dan damai, tetapi "pemerintah membalas kami dengan gas air mata, peluru karet, dan kemudian tembakan langsung."

"Di antara korban tewas, salah satunya adalah seorang siswa berseragam sekolah, terlihat tewas di jalan. Prinsip dasar PBB tentang penggunaan kekuatan dan senjata api menyatakan bahwa kekuatan mematikan hanya dapat digunakan sebagai upaya terakhir, semata-mata untuk menyelamatkan nyawa dan tidak pernah untuk membubarkan kerumunan bersenjata atau di tempat yang terdapat anak-anak," katanya.

"Apa yang terjadi tidak sesuai hukum dan merupakan pelanggaran hak asasi manusia internasional."

Sebuah video juga viral dari Nepal, di mana seorang perempuan, yang tampaknya seorang dokter, mengklaim bahwa petugas polisi memasuki rumah sakit dan menembak pasien di sana.

"Bagaimana mungkin mereka menembak di dalam rumah sakit? Rumah sakit adalah tempat yang damai, tempat yang aman, bagaimana mungkin mereka menembak di dalam rumah sakit?" katanya, seraya menambahkan bahwa seluruh bangsa telah bergabung dengan Gen Z dalam gerakan mereka.

Para pengunjuk rasa membakar rumah beberapa pemimpin politik terkemuka Nepal sebagai bentuk protes terhadap larangan media sosial yang dicabut Selasa pagi, sehari setelah protes anti-pemerintah yang mematikan. Laporan dan video lokal yang dibagikan di media sosial menunjukkan para pengunjuk rasa menyerang kediaman para pemimpin politik terkemuka di dan sekitar Kathmandu. Jam malam diberlakukan di ibu kota dan kota-kota lain, dan sekolah-sekolah di Kathmandu ditutup.

Rumah-rumah yang dibakar termasuk rumah Sher Bahadur Deuba, pemimpin partai terbesar Kongres Nepal, Presiden Ram Chandra Poudel, Menteri Dalam Negeri Ramesh Lekhak, dan pemimpin Partai Komunis Nepal, Pushpa Kamal Dahal. Sebuah sekolah swasta milik istri Deuba, Arzu Deuba Rana, yang saat ini menjabat sebagai menteri luar negeri, juga dibakar.

Protes dan serangan massal terhadap parlemen pada hari Senin berawal dari penolakan terhadap larangan platform media sosial, tetapi dipicu oleh meningkatnya rasa frustrasi dan ketidakpuasan terhadap partai-partai politik di antara masyarakat yang menyalahkan mereka atas korupsi.
(ahm)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Tuntut Menteri Pendidikan...
Tuntut Menteri Pendidikan Mundur, Pendukung Partai Kecoa Berkemah di Jalanan
India Gempar, Seorang...
India Gempar, Seorang Ibu Diperkosa Beramai-ramai di Depan Anaknya
Demo Anti-Pemerintah...
Demo Anti-Pemerintah Digelar selama 50 Hari, Bolivia Deklarasikan Status Darurat
Media Asing Soroti Aksi...
Media Asing Soroti Aksi Demo Mahasiswa terhadap Kebijakan Pemerintah Indonesia
4 Fakta Memalukan Keluarga...
4 Fakta Memalukan Keluarga Kerajaan Norwegia Divonis 4 Tahun Penjara karena Pemerkosaan
4 Pemicu Kerusuhan di...
4 Pemicu Kerusuhan di Irlandia Utara, dari Agitator Sayap Kanan Picu hingga Warisan Sejarah
Di Tengah Piala Dunia...
Di Tengah Piala Dunia 2026, Kapten Timnas Cape Verde Diselidiki Polisi atas Dugaan Pemerkosaan
Sengaja Targetkan Anak-Anak...
Sengaja Targetkan Anak-Anak Palestina, Penyelidik PBB Nyatakan Israel Lakukan Genosida di Gaza
Venezuela Masih Mencekam...
Venezuela Masih Mencekam Diguncang Gempa Susulan, Korban Tewas dan Hilang Terus Bertambah
Rekomendasi
Genderang Perang Dagang,...
Genderang Perang Dagang, Trump Ancam Tarif 100% yang Berani Pajaki Google, Meta, dan Apple!
Silaturahmi di Lampung,...
Silaturahmi di Lampung, Jokowi: Aku Masih Seperti yang Dulu
AEF/MANTENA Cup 2026...
AEF/MANTENA Cup 2026 Dorong Prestasi Berkuda dan Sport Tourism Indonesia
Berita Terkini
Iran: Sifat Dasar AS...
Iran: Sifat Dasar AS Adalah Mengingkari Janji!
5 Fakta Kim Jong-un...
5 Fakta Kim Jong-un Enggan Berbicara tentang Ibunya, Dijuluki Anak Haram dari Seorang Selir
Ancaman Nyata Zionis...
Ancaman Nyata Zionis Bukan Iran, Industri Militer Israel Berlomba Melawan Drone Hizbullah
3 Alasan Iran Serang...
3 Alasan Iran Serang Kuwait dan Bahrain, Ada Pergerakan Membantu Militer AS
7 Pemimpin yang Mengubah...
7 Pemimpin yang Mengubah Dunia, Fatima al Fihri yang Mendirikan Kampus Pertama di Dunia
Iran Buat Senjata yang...
Iran Buat Senjata yang Lebih Canggih selama Perang dengan AS-Israel, Ini Bocorannya
Infografis
10 Negara Menaikkan...
10 Negara Menaikkan Harga BBM Akibat Perang AS-Iran, Banyak Tetangga RI
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved