Sosok Moneim Ramadan, Ilmuwan Atom Mesir Diduga Dihabisi Mossad karena Selidiki Nuklir Israel

Senin, 08 September 2025 - 15:03 WIB
loading...
Sosok Moneim Ramadan,...
Dr Abu Bakr Abdel Moneim Ramadan, ilmuwan atom Mesir yang diduga dibunuh Mossad karena menyelidiki nuklir Israel. Foto/sis.gov.eg
A A A
KAIRO - Enam tahun yang lalu, tepatnya pada 5 September 2019, rezim Zionis Israel, melalui badan intelijennya; Mossad, diduga melakukan pembunuhan terhadap ilmuwan atom Mesir di sebuah kamar hotel di Marrakesh, Maroko. Ilmuwan itu bernama Dr Abu Bakr Abdel Moneim Ramadan.

Dugaan pembunuhan Ramadan oleh Mossad bukanlah insiden yang terisolasi, melainkan sebuah babak pembunuhan yang terencana dalam sejarah panjang oleh Israel terhadap para ilmuwan paling cemerlang di dunia Muslim.

Siapakah Abu Bakar Ramadan?


Ramadan adalah seorang tokoh terkemuka dan dihormati dalam ilmu nuklir dan radiologi, seorang patriot yang karyanya memajukan keselamatan dan kemajuan teknologi Mesir.

Baca Juga: Iran Gantung Ilmuwan Nuklirnya karena Jadi Mata-mata Mossad

Dia menjabat sebagai profesor dan mengepalai Jaringan Observatorium Radiasi Nasional, sebuah divisi penting dalam Otoritas Regulasi Nuklir dan Radiologi Mesir (ENRRA), di mana keahliannya dalam pemantauan radiasi dan penilaian dampak lingkungan sangat berharga.

Ramadan mewakili Mesir dengan gemilang di panggung internasional, berinteraksi dengan para menteri lingkungan hidup Arab dan, khususnya, menerima tugas penting dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA) pada tahun 2015 untuk mempelajari potensi dampak lingkungan dari reaktor nuklir regional, termasuk reaktor Israel yang terlarang dan terkenal berbahaya di Dimona.

Karyanya merupakan fondasi bagi ambisi nuklir Mesir, khususnya proyek Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir El Dabaa, yang memastikan bahwa kemajuan yang dicapai mematuhi standar keselamatan dan keamanan internasional tertinggi.

Beroperasi dalam kerangka kerja IAEA yang ketat, Ramadan mewujudkan pengejaran pengetahuan untuk tujuan damai, sebuah komitmen yang menjadikannya target rezim Zionis Israel.

Dugaan Ramadan Dibunuh


Dugaan pembunuhan Ramadan dilakukan dengan presisi dingin yang menjadi ciri khas operasi Mossad, meninggalkan jejak kebingungan dan pertanyaan tak terjawab yang mengarah langsung pada kesalahan Israel.

Saat menghadiri lokakarya IAEA di Marrakesh, dia tiba-tiba jatuh sakit setelah mengonsumsi jus di kamar hotelnya. Dia mengalami sakit perut dan kram yang parah, sebuah tanda klasik keracunan yang dirancang untuk meniru penyebab alami.

Meskipun terdapat bukti awal dan pengiriman sampel darah ke laboratorium Casablanca untuk analisis toksikologi, tidak ada hasil konklusif yang pernah dirilis ke publik. Investigasi tersebut segera ditutup oleh otoritas Maroko dengan kesimpulan yang meragukan, yaitu serangan jantung.

Pemulangan jenazahnya yang terburu-buru dan tidak adanya penyelidikan internasional yang independen secara efektif mengubur bukti, sebuah upaya penyembunyian yang menguntungkan kepentingan Israel.

Dugaan motifnya adalah pekerjaan Ramadan yang diamanatkan IAEA mencakup penilaian dampak lingkungan dari fasilitas nuklir Dimona di wilayah Palestina yang diduduki Israel, sebuah lokasi rahasia yang dikenal sebagai pusat produksi persenjataan nuklir Israel yang tidak dideklarasikan.

Analisis ilmiahnya menimbulkan ancaman yang tidak dapat diterima terhadap kebijakan ambiguitas nuklir Israel dan dominasi militer strategis di wilayah tersebut.

Dugaan pembunuhan Ramadan harus dilihat dalam konteks kampanye teror sistematis yang telah berlangsung selama puluhan tahun yang dilancarkan oleh rezim Israel terhadap para ilmuwan Mesir, Arab, dan Muslim, sebuah strategi brutal yang dirancang untuk menghambat kemajuan intelektual dan mempertahankan kesenjangan teknologi yang melumpuhkan.

Perang terhadap kaum intelektual Muslim ini dimulai dengan pembunuhan Dr Sameera Moussa pada tahun 1952, seorang fisikawan nuklir perempuan perintis, yang tewas dalam kecelakaan mobil yang direkayasa di California setelah sebuah undangan misterius, dengan pengemudinya menghilang untuk melenyapkan satu-satunya saksi.

Peristiwa ini berlanjut dengan pembunuhan Dr Yahya al-Meshad pada tahun 1980 di sebuah hotel di Paris, seorang fisikawan nuklir Irak yang ditikam dan dipukuli hingga tewas, diikuti dengan pemusnahan saksi terakhir yang diketahui beberapa minggu kemudian.

Pada tahun 1989, Dr Said Bedair, seorang ilmuwan gelombang mikro, tewas di Alexandria setelah melaporkan adanya pengawasan dan penggeledahan apartemen; pihak berwenang menganggapnya sebagai bunuh diri.

Pola kecelakaan, peracunan, dan pembunuhan yang terencana ini, yang selalu dibantah dan segera ditutup, menunjukkan ketakutan yang mendalam terhadap pencapaian Muslim dan komitmen yang kejam untuk mempertahankan dominasi regional.

Serangan serupa telah menargetkan sejumlah ilmuwan nuklir Iran selama bertahun-tahun, yang mencerminkan pola terorisme yang lebih luas oleh Israel.

Menurut laporan media Iran, Press TV, badan-badan intelijen Barat, khususnya di Amerika Serikat dan Eropa, telah terlibat secara mendalam di dalamnya, memberikan intelijen, arahan strategis, dan perlindungan diplomatik kepada rezim Israel.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Apa Itu Front Kedelapan...
Apa Itu Front Kedelapan Israel? Propaganda Digital terhadap Politikus Pro-Palestina
Tiru Israel, Taiwan...
Tiru Israel, Taiwan Gunakan AI untuk Rekrut Informan dan Whistleblower China
Pemimpin Oposisi Zionis:...
Pemimpin Oposisi Zionis: Kesepakatan Damai AS-Iran Berarti Tak Satu Pun Tujuan Perang Israel Tercapai
Jenderal Jerman Duga...
Jenderal Jerman Duga Rusia Bakal Kerahkan Senjata Nuklir ke Luar Angkasa, Bisa Picu Kiamat Satelit
Profesor AS: Israel,...
Profesor AS: Israel, Bukan Iran, yang Jadi Ancaman Nuklir Utama di Timur Tengah
Koridor Dagang Ankara...
Koridor Dagang Ankara dan Riyadh Buat Israel Ketar-ketir, Ini 3 Pemicunya
Siaga di Selat Hormuz,...
Siaga di Selat Hormuz, AS Gunakan Perahu Canggih Tanpa Awak
Indonesia Perkuat Kerja...
Indonesia Perkuat Kerja Sama Sosial Ekonomi Perbatasan dengan Malaysia
Kisah Curacao Negara...
Kisah Curacao Negara Berpenduduk 150.000 Jiwa, Dulu Dikalahkan Timnas Indonesia Kini Tampil di Piala Dunia 2026
Rekomendasi
Huawei, Oppo, vivo,...
Huawei, Oppo, vivo, Xiaomi, dan Honor Dituduh Contek Teknologi iPhone
Jerman vs Curacao: Sang...
Jerman vs Curacao: Sang Debutan Jadi Ujian Perdana Die Mannschaft
Audisi Miss Indonesia...
Audisi Miss Indonesia 2026 Yogyakarta Hari Kedua Diserbu Talenta Muda Berprestasi
Berita Terkini
Perjanjian Damai Iran...
Perjanjian Damai Iran Jadi Kekalahan Paling Memalukan bagi AS, Ini 3 Alasannya
Setelah 4 Bulan Berperang,...
Setelah 4 Bulan Berperang, Ini 7 Hal yang Membuat Iran Lebih Kuat
Berlatih di Tijuana,...
Berlatih di Tijuana, Timnas Iran Dikawal 300 Pasukan Elite Meksiko
Jika Dicairkan, Aset...
Jika Dicairkan, Aset Beku Iran Jadi Oksigen Segar untuk Kebangkitan Ekonomi Iran
Militerisasi Jepang...
Militerisasi Jepang dan Bahaya Radiasi Radio Aktif
Drone Hizbullah Hantam...
Drone Hizbullah Hantam Israel, IDF Bombardir Lebanon
Infografis
Negara-negara Arab Dikecam...
Negara-negara Arab Dikecam karena Tak Berani Melawan Israel
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved