Profil Presiden Venezuela Nicolas Maduro: Dulu Sopir Bus, Kini Musuh AS yang Kepalanya Dihargai Rp820 Triliun
Minggu, 07 September 2025 - 11:34 WIB
loading...
A
A
A
Kemampuannya berpolitik makin berkembang saat dia aktif mendukung pembebasan Hugo Chávez—pemimpin sosialis dan presiden Venezuela pendahulu Maduro—dari penjara pada 1992.
Setelah itu, dia tinggal setahun di Kuba untuk menimba ilmu politik, sebelum kembali ke Venezuela untuk merintis karier di Parlemen dan pemerintahan, menjadi anggota Konstituante pada 1999, kemudian menjadi ketua Parlemen pada 2005), lalu menjabat Menteri Luar Negeri pada 2006 hingga 2012, menjadi wakil presiden (wapres) pada 2012 hingga 2013, dan akhirnya presiden sejak 2013 hingga sekarang.
Setelah terpilih menggantikan Chávez pada 2013, pemerintahan Maduro ditandai dengan gejolak ekonomi di Venezuela: hiperinflasi, kelangkaan pangan dan obat, serta anjloknya nilai mata uang bolívar, sebagian besar akibat korupsi dan salah urus pemerintahan.
Pada 2018 dan 2024, Maduro kembali memenangkan pemilu; namun kontestasinya dinilai curang dan otoriter, memicu penolakan dari berbagai pemerintah termasuk AS.
Tahun 2019, pemimpin oposisi Juan Guaidó mendeklarasikan diri sebagai presiden sementara, namun hingga kini Maduro tetap memegang kendali kekuasaan.
Pada Maret 2020, pemerintahan AS di bawah Presiden Donald Trump melayangkan tuduhan "narco-terrorism" terhadap Maduro, menawarkan hadiah awal USD15 juta untuk informan yang membantu penangkapannya.
Nilai itu kemudian naik menjadi USD25 juta di era Presiden Joe Biden Biden dan kini, di era pemeritahan kedua Trump, melonjak ke angka fantastis USD50 juta (Rp820 triliun).
Setelah itu, dia tinggal setahun di Kuba untuk menimba ilmu politik, sebelum kembali ke Venezuela untuk merintis karier di Parlemen dan pemerintahan, menjadi anggota Konstituante pada 1999, kemudian menjadi ketua Parlemen pada 2005), lalu menjabat Menteri Luar Negeri pada 2006 hingga 2012, menjadi wakil presiden (wapres) pada 2012 hingga 2013, dan akhirnya presiden sejak 2013 hingga sekarang.
Setelah terpilih menggantikan Chávez pada 2013, pemerintahan Maduro ditandai dengan gejolak ekonomi di Venezuela: hiperinflasi, kelangkaan pangan dan obat, serta anjloknya nilai mata uang bolívar, sebagian besar akibat korupsi dan salah urus pemerintahan.
Pada 2018 dan 2024, Maduro kembali memenangkan pemilu; namun kontestasinya dinilai curang dan otoriter, memicu penolakan dari berbagai pemerintah termasuk AS.
Tahun 2019, pemimpin oposisi Juan Guaidó mendeklarasikan diri sebagai presiden sementara, namun hingga kini Maduro tetap memegang kendali kekuasaan.
Diburu AS dengan Hadiah Rp820 Triliun
Pada Maret 2020, pemerintahan AS di bawah Presiden Donald Trump melayangkan tuduhan "narco-terrorism" terhadap Maduro, menawarkan hadiah awal USD15 juta untuk informan yang membantu penangkapannya.
Nilai itu kemudian naik menjadi USD25 juta di era Presiden Joe Biden Biden dan kini, di era pemeritahan kedua Trump, melonjak ke angka fantastis USD50 juta (Rp820 triliun).
Lihat Juga :