Terungkap, Google Dibayar Rp2,3 Triliun untuk Sebar Narasi Israel selama Genosida Gaza Berlangsung
Jum'at, 05 September 2025 - 13:42 WIB
loading...
A
A
A
Menurut catatan internal Israel, inisiatif ini dikoordinasikan melalui Badan Periklanan Pemerintah Israel (Lapam), sebuah departemen yang melapor langsung ke kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Sebagai bagian dari kampanye yang lebih luas, Israel juga menghabiskan USD3 juta untuk iklan dengan X, USD2,1 juta dengan platform Prancis-Israel Outbrain/Teads, dan jumlah yang tidak diungkapkan untuk mempromosikan konten yang berpihak pada Israel di seluruh platform Meta.
Iklan lain yang dipublikasikan berdasarkan kontrak tersebut menargetkan lembaga internasional dan LSM. Beberapa iklan berupaya mendelegitimasi Badan Bantuan dan Pekerjaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNRWA), menuduh badan pengungsi Palestina PBB itu melakukan "sabotase yang disengaja" terhadap pengiriman bantuan.
Iklan lainnya bertujuan untuk mencemarkan nama baik kelompok advokasi hukum pro-Palestina seperti Hind Rajab Foundation, menggambarkan mereka terkait dengan "ideologi ekstremis"—sebuah tuduhan yang tidak didukung oleh bukti yang kredibel.
Sementara itu, badan-badan PBB telah membunyikan peringatan tentang kondisi kelaparan di seluruh Gaza. The Integrated Food Security Phase Classification (IPC) atau Klasifikasi Fase Keamanan Pangan Terpadu mengumumkan bencana kelaparan di Gaza utara pada bulan Agustus, memperingatkan bahwa bencana tersebut akan segera menyebar ke wilayah lain.
Hingga bulan ini, setidaknya 367 warga Palestina, termasuk 131 anak-anak, telah meninggal dunia karena kelaparan dan malnutrisi, menurut Kementerian Kesehatan Gaza.
Meskipun demikian, Google terus menayangkan iklan pemerintah Israel yang menyangkal adanya kelaparan.
Dalam sidang dengar pendapat di Knesset [Parlemen] pada Maret 2025, para pejabat senior Israel ditekan bukan atas dasar kemanusiaan, melainkan atas kesiapan mereka untuk mengelola dampak dari isu hubungan masyarakat.
Sebagai bagian dari kampanye yang lebih luas, Israel juga menghabiskan USD3 juta untuk iklan dengan X, USD2,1 juta dengan platform Prancis-Israel Outbrain/Teads, dan jumlah yang tidak diungkapkan untuk mempromosikan konten yang berpihak pada Israel di seluruh platform Meta.
Iklan lain yang dipublikasikan berdasarkan kontrak tersebut menargetkan lembaga internasional dan LSM. Beberapa iklan berupaya mendelegitimasi Badan Bantuan dan Pekerjaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNRWA), menuduh badan pengungsi Palestina PBB itu melakukan "sabotase yang disengaja" terhadap pengiriman bantuan.
Iklan lainnya bertujuan untuk mencemarkan nama baik kelompok advokasi hukum pro-Palestina seperti Hind Rajab Foundation, menggambarkan mereka terkait dengan "ideologi ekstremis"—sebuah tuduhan yang tidak didukung oleh bukti yang kredibel.
Sementara itu, badan-badan PBB telah membunyikan peringatan tentang kondisi kelaparan di seluruh Gaza. The Integrated Food Security Phase Classification (IPC) atau Klasifikasi Fase Keamanan Pangan Terpadu mengumumkan bencana kelaparan di Gaza utara pada bulan Agustus, memperingatkan bahwa bencana tersebut akan segera menyebar ke wilayah lain.
Hingga bulan ini, setidaknya 367 warga Palestina, termasuk 131 anak-anak, telah meninggal dunia karena kelaparan dan malnutrisi, menurut Kementerian Kesehatan Gaza.
Meskipun demikian, Google terus menayangkan iklan pemerintah Israel yang menyangkal adanya kelaparan.
Dalam sidang dengar pendapat di Knesset [Parlemen] pada Maret 2025, para pejabat senior Israel ditekan bukan atas dasar kemanusiaan, melainkan atas kesiapan mereka untuk mengelola dampak dari isu hubungan masyarakat.
Lihat Juga :