10 Negara yang Tidak Pernah Dijajah di Dunia, Sebagian Ada di Asia
Rabu, 03 September 2025 - 13:15 WIB
loading...
Angkatan Laut Jepang mengibarkan Bendera Matahari Terbit. Foto/japan-forward.com
A
A
A
TOKYO - Sejarah dunia modern sebagian besar ditandai oleh kolonialisme. Sejak abad ke-15, bangsa Eropa berlomba-lomba menjelajahi dunia, menguasai wilayah baru, dan mengeksploitasi sumber daya.
Hampir semua kawasan di Asia, Afrika, Amerika, hingga Pasifik pernah merasakan masa penjajahan. Namun, ada beberapa negara yang berhasil mempertahankan kemerdekaannya sepanjang sejarah modern.
Meski sebagian di antaranya pernah menghadapi tekanan militer, ancaman politik, atau intervensi ekonomi, mereka tidak pernah sepenuhnya jatuh di bawah kekuasaan kolonial asing. Negara-negara ini kerap menjadi simbol kedaulatan dan ketahanan budaya.
Jepang adalah salah satu contoh paling terkenal dari negara yang tidak pernah dijajah. Sejak zaman feodal, Jepang mengadopsi kebijakan sakoku (isolasi nasional) pada abad ke-17 hingga pertengahan abad ke-19, yang menutup diri dari pengaruh asing kecuali hubungan terbatas dengan Belanda dan China.
Meskipun sempat ditekan oleh Amerika Serikat melalui “Kapal Hitam” Komodor Perry pada 1853, Jepang tidak dijajah.
Sebaliknya, Jepang segera melakukan modernisasi besar-besaran melalui Restorasi Meiji (1868). Modernisasi ini memungkinkan Jepang membangun militer modern yang kuat, sehingga bukan hanya terhindar dari kolonialisme, tetapi juga menjadi kekuatan kolonial baru di Asia.
Jepang bahkan berhasil mengalahkan Rusia dalam Perang Rusia-Jepang (1904–1905), menjadikannya satu-satunya negara Asia yang mampu menundukkan kekuatan Eropa kala itu.
Thailand adalah satu-satunya negara di Asia Tenggara yang tidak pernah dijajah. Kunci keberhasilan Thailand terletak pada diplomasi cerdas para rajanya, terutama Raja Mongkut (Rama IV) dan Raja Chulalongkorn (Rama V).
Ketika Inggris menjajah Burma (Myanmar) dan Perancis menguasai Indochina (Vietnam, Laos, Kamboja), Thailand berada di antara dua kekuatan kolonial besar.
Untuk menghindari penjajahan, Thailand rela memberikan sebagian wilayah perbatasan kepada Inggris dan Prancis sebagai konsesi politik. Dengan demikian, Thailand menjadi semacam “zona penyangga” antara kekuasaan Inggris dan Perancis.
Selain itu, Raja Chulalongkorn melakukan modernisasi sistem hukum, pendidikan, dan militer sehingga Thailand dipandang sebagai negara yang beradab dan tidak mudah dijajah. Hingga kini, Thailand bangga menyebut dirinya sebagai negara yang selalu merdeka.
Liberia, di Afrika Barat, memiliki sejarah unik. Negara ini didirikan pada tahun 1822 oleh organisasi Amerika Serikat yang dikenal sebagai American Colonization Society.
Organisasi ini memindahkan budak-budak kulit hitam yang dibebaskan dari Amerika untuk “kembali” ke Afrika. Pada tahun 1847, Liberia memproklamasikan kemerdekaannya, menjadikannya salah satu republik modern pertama di Afrika.
Meski tidak pernah secara resmi dijajah oleh bangsa Eropa, Liberia berada di bawah pengaruh kuat Amerika Serikat, terutama dari segi politik dan ekonomi.
Namun, statusnya sebagai negara merdeka tetap dipertahankan, sehingga Liberia dianggap sebagai salah satu dari sedikit negara Afrika yang tidak pernah dijajah secara langsung.
Ethiopia adalah salah satu negara Afrika yang terkenal karena berhasil mempertahankan kemerdekaannya dari kolonialisme Eropa.
Upaya penjajahan terbesar datang dari Italia. Pada tahun 1896, Italia mencoba menaklukkan Ethiopia, tetapi dikalahkan dalam Pertempuran Adwa, kemenangan bersejarah yang menjadikan Ethiopia simbol perlawanan Afrika terhadap kolonialisme.
Namun, pada tahun 1936, Italia di bawah Benito Mussolini berhasil menduduki Ethiopia selama sekitar lima tahun dalam periode Perang Dunia II.
Meski demikian, banyak sejarawan menilai pendudukan ini lebih sebagai invasi sementara, bukan kolonialisasi penuh. Setelah pasukan Sekutu mengusir Italia pada 1941, Ethiopia kembali merdeka di bawah Kaisar Haile Selassie.
Karena sejarah panjangnya mempertahankan kedaulatan, Ethiopia sering dipandang sebagai salah satu negara Afrika yang benar-benar tidak pernah dijajah dalam arti tradisional.
Nepal, negara pegunungan di Himalaya, juga tidak pernah dijajah. Meski terjepit di antara dua raksasa—India (dulu koloni Inggris) dan China—Nepal berhasil mempertahankan kemerdekaannya.
Pada abad ke-19, Inggris sempat mencoba menaklukkan Nepal dalam Perang Anglo-Nepal (1814–1816). Namun, pasukan Gurkha yang terkenal tangguh memberikan perlawanan keras.
Meski akhirnya Nepal harus menyerahkan sebagian wilayah melalui Perjanjian Sugauli (1816), Inggris tidak pernah berhasil menjadikan Nepal sebagai koloni.
Sebaliknya, Inggris kemudian merekrut tentara Gurkha untuk dinas militer mereka, yang hingga kini menjadi bagian penting dari angkatan bersenjata Inggris dan India.
Kemandirian politik Nepal tetap terjaga, menjadikannya salah satu negara Asia Selatan yang tidak pernah dijajah.
Bhutan, tetangga kecil Nepal di Himalaya, juga tidak pernah dijajah. Negara ini berhasil mempertahankan kemerdekaannya berkat kombinasi geografis yang sulit dijangkau dan diplomasi yang hati-hati.
Inggris sempat mencoba menguasai Bhutan melalui Perang Inggris-Bhutan pada 1864–1865. Meski Bhutan kalah dan kehilangan beberapa wilayah, Inggris tidak melanjutkan kolonialisasi penuh.
Sebaliknya, Bhutan tetap mempertahankan kedaulatannya, meski berada dalam pengaruh Inggris dalam urusan luar negeri.
Setelah India merdeka pada 1947, Bhutan menjalin hubungan baik dengan India dan mempertahankan kemerdekaannya hingga kini.
Iran, yang dahulu dikenal sebagai Persia, juga tidak pernah benar-benar dijajah. Meski menghadapi tekanan besar dari Inggris dan Rusia pada abad ke-19 dan ke-20, Iran berhasil mempertahankan status kemerdekaannya.
Kedua kekuatan asing itu sering melakukan intervensi politik dan ekonomi, bahkan membagi wilayah pengaruh di Iran melalui Konvensi Anglo-Rusia 1907. Namun, Iran tetap memiliki pemerintahan sendiri dan tidak pernah secara resmi menjadi koloni.
Meski begitu, kedaulatan Iran sering terganggu oleh kudeta dan intervensi asing, termasuk peran Inggris dan Amerika Serikat dalam menggulingkan Perdana Menteri Mohammad Mossadegh pada 1953. Walaupun begitu, Iran tetap dianggap tidak pernah dijajah secara langsung.
Afghanistan dikenal sebagai “kuburan imperium” karena sejarah panjangnya yang menolak dominasi asing.
Inggris tiga kali mencoba menguasai Afghanistan dalam Perang Anglo-Afghanistan (1839–1842, 1878–1880, dan 1919), tetapi tidak pernah berhasil menguasai penuh negara tersebut.
Pada akhirnya, melalui Perjanjian Rawalpindi 1919, Afghanistan diakui kemerdekaannya. Meski sering menjadi ajang perebutan pengaruh antara kekuatan besar (Inggris, Uni Soviet, Amerika Serikat), Afghanistan tidak pernah menjadi koloni resmi.
Arab Saudi, sebelum terbentuk sebagai kerajaan modern pada 1932, adalah wilayah suku-suku Arab yang relatif bebas dari penjajahan langsung.
Meski Kesultanan Utsmaniyah (Turki) sempat memiliki pengaruh besar di Hijaz (Mekah dan Madinah), wilayah Arab Saudi tidak pernah sepenuhnya dijajah oleh kekuatan asing.
Setelah penyatuan oleh Raja Abdulaziz Ibn Saud, Arab Saudi menjadi negara merdeka yang berdaulat. Keberadaan Mekah dan Madinah sebagai pusat spiritual umat Islam juga membuat wilayah ini sulit dijadikan koloni oleh bangsa Eropa.
Turki modern adalah penerus Kesultanan Utsmaniyah, salah satu kekaisaran terbesar dalam sejarah yang justru pernah menjajah banyak wilayah di tiga benua. Karena statusnya sebagai penjajah, wilayah inti Turki sendiri tidak pernah dijajah.
Setelah Kekaisaran Utsmaniyah runtuh usai Perang Dunia I, sebagian wilayahnya sempat diduduki oleh Sekutu.
Namun, Mustafa Kemal Atatürk memimpin Perang Kemerdekaan Turki (1919–1923) yang berhasil mengusir kekuatan asing dan mendirikan Republik Turki. Dengan demikian, Turki tetap mempertahankan kedaulatannya dan tidak pernah menjadi koloni bangsa asing.
Baca juga: Putri Dubai yang Ceraikan Suami Lewat Instagram Temukan Cinta Lagi, Pamer Cincin Tunangan Rp18 Miliar
Hampir semua kawasan di Asia, Afrika, Amerika, hingga Pasifik pernah merasakan masa penjajahan. Namun, ada beberapa negara yang berhasil mempertahankan kemerdekaannya sepanjang sejarah modern.
Meski sebagian di antaranya pernah menghadapi tekanan militer, ancaman politik, atau intervensi ekonomi, mereka tidak pernah sepenuhnya jatuh di bawah kekuasaan kolonial asing. Negara-negara ini kerap menjadi simbol kedaulatan dan ketahanan budaya.
1. Jepang
Jepang adalah salah satu contoh paling terkenal dari negara yang tidak pernah dijajah. Sejak zaman feodal, Jepang mengadopsi kebijakan sakoku (isolasi nasional) pada abad ke-17 hingga pertengahan abad ke-19, yang menutup diri dari pengaruh asing kecuali hubungan terbatas dengan Belanda dan China.
Meskipun sempat ditekan oleh Amerika Serikat melalui “Kapal Hitam” Komodor Perry pada 1853, Jepang tidak dijajah.
Sebaliknya, Jepang segera melakukan modernisasi besar-besaran melalui Restorasi Meiji (1868). Modernisasi ini memungkinkan Jepang membangun militer modern yang kuat, sehingga bukan hanya terhindar dari kolonialisme, tetapi juga menjadi kekuatan kolonial baru di Asia.
Jepang bahkan berhasil mengalahkan Rusia dalam Perang Rusia-Jepang (1904–1905), menjadikannya satu-satunya negara Asia yang mampu menundukkan kekuatan Eropa kala itu.
2. Thailand (Siam)
Thailand adalah satu-satunya negara di Asia Tenggara yang tidak pernah dijajah. Kunci keberhasilan Thailand terletak pada diplomasi cerdas para rajanya, terutama Raja Mongkut (Rama IV) dan Raja Chulalongkorn (Rama V).
Ketika Inggris menjajah Burma (Myanmar) dan Perancis menguasai Indochina (Vietnam, Laos, Kamboja), Thailand berada di antara dua kekuatan kolonial besar.
Untuk menghindari penjajahan, Thailand rela memberikan sebagian wilayah perbatasan kepada Inggris dan Prancis sebagai konsesi politik. Dengan demikian, Thailand menjadi semacam “zona penyangga” antara kekuasaan Inggris dan Perancis.
Selain itu, Raja Chulalongkorn melakukan modernisasi sistem hukum, pendidikan, dan militer sehingga Thailand dipandang sebagai negara yang beradab dan tidak mudah dijajah. Hingga kini, Thailand bangga menyebut dirinya sebagai negara yang selalu merdeka.
3. Liberia
Liberia, di Afrika Barat, memiliki sejarah unik. Negara ini didirikan pada tahun 1822 oleh organisasi Amerika Serikat yang dikenal sebagai American Colonization Society.
Organisasi ini memindahkan budak-budak kulit hitam yang dibebaskan dari Amerika untuk “kembali” ke Afrika. Pada tahun 1847, Liberia memproklamasikan kemerdekaannya, menjadikannya salah satu republik modern pertama di Afrika.
Meski tidak pernah secara resmi dijajah oleh bangsa Eropa, Liberia berada di bawah pengaruh kuat Amerika Serikat, terutama dari segi politik dan ekonomi.
Namun, statusnya sebagai negara merdeka tetap dipertahankan, sehingga Liberia dianggap sebagai salah satu dari sedikit negara Afrika yang tidak pernah dijajah secara langsung.
4. Ethiopia (Abyssinia)
Ethiopia adalah salah satu negara Afrika yang terkenal karena berhasil mempertahankan kemerdekaannya dari kolonialisme Eropa.
Upaya penjajahan terbesar datang dari Italia. Pada tahun 1896, Italia mencoba menaklukkan Ethiopia, tetapi dikalahkan dalam Pertempuran Adwa, kemenangan bersejarah yang menjadikan Ethiopia simbol perlawanan Afrika terhadap kolonialisme.
Namun, pada tahun 1936, Italia di bawah Benito Mussolini berhasil menduduki Ethiopia selama sekitar lima tahun dalam periode Perang Dunia II.
Meski demikian, banyak sejarawan menilai pendudukan ini lebih sebagai invasi sementara, bukan kolonialisasi penuh. Setelah pasukan Sekutu mengusir Italia pada 1941, Ethiopia kembali merdeka di bawah Kaisar Haile Selassie.
Karena sejarah panjangnya mempertahankan kedaulatan, Ethiopia sering dipandang sebagai salah satu negara Afrika yang benar-benar tidak pernah dijajah dalam arti tradisional.
5. Nepal
Nepal, negara pegunungan di Himalaya, juga tidak pernah dijajah. Meski terjepit di antara dua raksasa—India (dulu koloni Inggris) dan China—Nepal berhasil mempertahankan kemerdekaannya.
Pada abad ke-19, Inggris sempat mencoba menaklukkan Nepal dalam Perang Anglo-Nepal (1814–1816). Namun, pasukan Gurkha yang terkenal tangguh memberikan perlawanan keras.
Meski akhirnya Nepal harus menyerahkan sebagian wilayah melalui Perjanjian Sugauli (1816), Inggris tidak pernah berhasil menjadikan Nepal sebagai koloni.
Sebaliknya, Inggris kemudian merekrut tentara Gurkha untuk dinas militer mereka, yang hingga kini menjadi bagian penting dari angkatan bersenjata Inggris dan India.
Kemandirian politik Nepal tetap terjaga, menjadikannya salah satu negara Asia Selatan yang tidak pernah dijajah.
6. Bhutan
Bhutan, tetangga kecil Nepal di Himalaya, juga tidak pernah dijajah. Negara ini berhasil mempertahankan kemerdekaannya berkat kombinasi geografis yang sulit dijangkau dan diplomasi yang hati-hati.
Inggris sempat mencoba menguasai Bhutan melalui Perang Inggris-Bhutan pada 1864–1865. Meski Bhutan kalah dan kehilangan beberapa wilayah, Inggris tidak melanjutkan kolonialisasi penuh.
Sebaliknya, Bhutan tetap mempertahankan kedaulatannya, meski berada dalam pengaruh Inggris dalam urusan luar negeri.
Setelah India merdeka pada 1947, Bhutan menjalin hubungan baik dengan India dan mempertahankan kemerdekaannya hingga kini.
7. Iran (Persia)
Iran, yang dahulu dikenal sebagai Persia, juga tidak pernah benar-benar dijajah. Meski menghadapi tekanan besar dari Inggris dan Rusia pada abad ke-19 dan ke-20, Iran berhasil mempertahankan status kemerdekaannya.
Kedua kekuatan asing itu sering melakukan intervensi politik dan ekonomi, bahkan membagi wilayah pengaruh di Iran melalui Konvensi Anglo-Rusia 1907. Namun, Iran tetap memiliki pemerintahan sendiri dan tidak pernah secara resmi menjadi koloni.
Meski begitu, kedaulatan Iran sering terganggu oleh kudeta dan intervensi asing, termasuk peran Inggris dan Amerika Serikat dalam menggulingkan Perdana Menteri Mohammad Mossadegh pada 1953. Walaupun begitu, Iran tetap dianggap tidak pernah dijajah secara langsung.
8. Afghanistan
Afghanistan dikenal sebagai “kuburan imperium” karena sejarah panjangnya yang menolak dominasi asing.
Inggris tiga kali mencoba menguasai Afghanistan dalam Perang Anglo-Afghanistan (1839–1842, 1878–1880, dan 1919), tetapi tidak pernah berhasil menguasai penuh negara tersebut.
Pada akhirnya, melalui Perjanjian Rawalpindi 1919, Afghanistan diakui kemerdekaannya. Meski sering menjadi ajang perebutan pengaruh antara kekuatan besar (Inggris, Uni Soviet, Amerika Serikat), Afghanistan tidak pernah menjadi koloni resmi.
9. Arab Saudi
Arab Saudi, sebelum terbentuk sebagai kerajaan modern pada 1932, adalah wilayah suku-suku Arab yang relatif bebas dari penjajahan langsung.
Meski Kesultanan Utsmaniyah (Turki) sempat memiliki pengaruh besar di Hijaz (Mekah dan Madinah), wilayah Arab Saudi tidak pernah sepenuhnya dijajah oleh kekuatan asing.
Setelah penyatuan oleh Raja Abdulaziz Ibn Saud, Arab Saudi menjadi negara merdeka yang berdaulat. Keberadaan Mekah dan Madinah sebagai pusat spiritual umat Islam juga membuat wilayah ini sulit dijadikan koloni oleh bangsa Eropa.
10. Turki
Turki modern adalah penerus Kesultanan Utsmaniyah, salah satu kekaisaran terbesar dalam sejarah yang justru pernah menjajah banyak wilayah di tiga benua. Karena statusnya sebagai penjajah, wilayah inti Turki sendiri tidak pernah dijajah.
Setelah Kekaisaran Utsmaniyah runtuh usai Perang Dunia I, sebagian wilayahnya sempat diduduki oleh Sekutu.
Namun, Mustafa Kemal Atatürk memimpin Perang Kemerdekaan Turki (1919–1923) yang berhasil mengusir kekuatan asing dan mendirikan Republik Turki. Dengan demikian, Turki tetap mempertahankan kedaulatannya dan tidak pernah menjadi koloni bangsa asing.
Baca juga: Putri Dubai yang Ceraikan Suami Lewat Instagram Temukan Cinta Lagi, Pamer Cincin Tunangan Rp18 Miliar
(sya)
Lihat Juga :