Siapa Yossi Cohen? Mantan Kepala Mossad yang Menantang Netanyahu
Selasa, 02 September 2025 - 12:38 WIB
loading...
A
A
A
Ini adalah pertama kalinya seorang mantan kepala Mossad mencalonkan diri sebagai perdana menteri, kata Shehadeh.
Meskipun kehadiran Cohen di media dan pencapaian diplomatiknya memperkuat citra publiknya, faktor-faktor ini saja “tidak cukup” bagi Cohen untuk bersaing dengan Netanyahu, tambah Shehadeh.
“Cohen, bersama Dermer, dianggap sebagai salah satu dari dua tokoh yang dilaporkan dipandang oleh Netanyahu sebagai calon penerus,” kata Batu, dilansir TRT World.
Namun, pergeseran politik baru-baru ini, termasuk rumor keluarnya Dermer dari dunia politik, menunjukkan adanya “kekosongan politik” yang sedang diposisikan Cohen untuk diisi, tambah Batu.
Cohen menampilkan dirinya sebagai tokoh alternatif dalam ranah “keamanan dan kohesi sosial”, ujarnya.
Namun, Shehadeh justru melihat hubungan Cohen dengan Netanyahu sebagai potensi kelemahan.
“Sementara kubu sayap kanan dan sayap kanan jauh menginginkan sosok kuat yang mirip dengan Netanyahu, lawan-lawan PM tidak menginginkan seseorang yang terkait atau dekat dengannya,” ujarnya.
Cohen telah berusaha menjauhkan diri dari Netanyahu, terutama sejak rencana perombakan peradilan yang kontroversial pada tahun 2023 dan kegagalan keamanan pada 7 Oktober 2023.
“Dia berusaha membedakan dirinya dan menampilkan identitas yang independen,” kata Shehadeh.
Batu mengatakan bahwa janji elektoral Cohen untuk mencapai persatuan tampaknya sarat tantangan. Isu-isu seperti membatalkan reformasi peradilan, menyeimbangkan pengaruh partai-partai sayap kanan, dan menangani isu kontroversial tentang wajib militer Yahudi ultra-ortodoks ke dalam militer kemungkinan akan "memicu perpecahan dan krisis lebih lanjut", kata Batu.
Lebih lanjut, retorika persatuan Cohen "meluas ke sangat sedikit kelompok etnis selain Druze," sehingga menimbulkan pertanyaan tentang inklusivitasnya.
Meskipun kehadiran Cohen di media dan pencapaian diplomatiknya memperkuat citra publiknya, faktor-faktor ini saja “tidak cukup” bagi Cohen untuk bersaing dengan Netanyahu, tambah Shehadeh.
4. Pemimpin Alternatif
Hubungan historis Cohen dengan Netanyahu mempersulit pencalonannya. Cohen yang pernah dianggap sebagai calon penerus di Partai Likud pimpinan Netanyahu, bersama anggota kabinet seperti Ron Dermer yang memimpin negosiasi pembebasan sandera, kini menghadapi tugas rumit untuk membangun identitas independen.“Cohen, bersama Dermer, dianggap sebagai salah satu dari dua tokoh yang dilaporkan dipandang oleh Netanyahu sebagai calon penerus,” kata Batu, dilansir TRT World.
Namun, pergeseran politik baru-baru ini, termasuk rumor keluarnya Dermer dari dunia politik, menunjukkan adanya “kekosongan politik” yang sedang diposisikan Cohen untuk diisi, tambah Batu.
Cohen menampilkan dirinya sebagai tokoh alternatif dalam ranah “keamanan dan kohesi sosial”, ujarnya.
Namun, Shehadeh justru melihat hubungan Cohen dengan Netanyahu sebagai potensi kelemahan.
“Sementara kubu sayap kanan dan sayap kanan jauh menginginkan sosok kuat yang mirip dengan Netanyahu, lawan-lawan PM tidak menginginkan seseorang yang terkait atau dekat dengannya,” ujarnya.
Cohen telah berusaha menjauhkan diri dari Netanyahu, terutama sejak rencana perombakan peradilan yang kontroversial pada tahun 2023 dan kegagalan keamanan pada 7 Oktober 2023.
“Dia berusaha membedakan dirinya dan menampilkan identitas yang independen,” kata Shehadeh.
5. Mengusung Persatuan dan Keamanan
Slogan kampanye Cohen, “persatuan dan keamanan”, memanfaatkan dua isu Israel yang paling mendesak: polarisasi nasional pascaperombakan peradilan 2023 dan kerentanan keamanan yang terungkap akibat serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.Batu mengatakan bahwa janji elektoral Cohen untuk mencapai persatuan tampaknya sarat tantangan. Isu-isu seperti membatalkan reformasi peradilan, menyeimbangkan pengaruh partai-partai sayap kanan, dan menangani isu kontroversial tentang wajib militer Yahudi ultra-ortodoks ke dalam militer kemungkinan akan "memicu perpecahan dan krisis lebih lanjut", kata Batu.
Lebih lanjut, retorika persatuan Cohen "meluas ke sangat sedikit kelompok etnis selain Druze," sehingga menimbulkan pertanyaan tentang inklusivitasnya.
Lihat Juga :