Houthi Merudal Kapal Tanker Israel usai PM dan Para Menterinya Dibunuh Zionis
Selasa, 02 September 2025 - 09:52 WIB
loading...
Houthi klaim rudalnya menghantam kapal tanker Scarlet Ray milik Israel. Serangan ini sebagai balasan setelah PM Houthi Ahmed Ghaleb al-Rahawi tewas dibombardir Israel. Foto/Daily Star
A
A
A
SANAA - Kelompok Houthi Yaman mengeklaim rudalnya telah menghantam sebuah kapal tanker milik Israel di Laut Merah. Ini sebagai pembalasan setelah serangan udara militer Zionis menewaskan perdana menteri (PM) dan para menteri kelompok tersebut.
Kelompok sekutu Iran itu mengatakan pada hari Senin bahwa rudal mereka menghantam langsung kapal Scarlet Ray berbendera Liberia. Menurut perusahaan keamanan maritim Ambrey, kapal itu milik Israel.
Namun, Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO), yang memantau kapal-kapal pengiriman di wilayah tersebut, membantah klaim Houthi. Menurut UKMTO, rudal Houthi meleset dari targetnya pada hari Minggu.
Baca Juga: PM Houthi dan Para Menterinya Tewas Dibombardir Jet Tempur Israel
"Awak kapal menyaksikan percikan proyektil tak dikenal di dekat kapal mereka dan mendengar ledakan keras," kata UKMTO, seraya menambahkan bahwa semua staf tidak terluka dan kapal tanker itu telah melanjutkan pelayarannya.
Serangan ini merupakan yang terbaru dari serangkaian operasi Houthi di Laut Merah. Kelompok tersebut telah menenggelamkan dua kapal tanker pada bulan Juli dan telah berjanji untuk terus menargetkan kapal-kapal yang terkait dengan Israel sebagai bagian dari dukungan yang dinyatakan untuk Palestina dan penentangan terhadap genosida Israel di Gaza.
Pada hari Sabtu, Houthi mengumumkan bahwa PM Ahmed Ghaleb al-Rahawi dan pejabat tinggi lainnya telah meninggal dalam serangan Israel pada hari Kamis. Pemakaman mereka dijadwalkan berlangsung pada hari Senin waktu setempat.
Pemimpin Houthi Abdel-Malik al-Houthi memuji mereka sebagai "martir seluruh Yaman" dan menuduh Israel melakukan kebiadaban terhadap warga sipil. "Kejahatan menargetkan menteri dan pejabat sipil menambah catatan kriminal musuh Israel di wilayah ini," katanya, seperti dikutip dari Al Jazeera, Selasa (2/9/2025).
Ketegangan semakin meningkat pada hari Minggu ketika pasukan Houthi menyerbu kantor-kantor PBB dan menahan setidaknya 11 staf, menuduh mereka melakukan spionase.
PBB telah menolak tuduhan tersebut dan menyerukan pembebasan segera dan tanpa syarat staf mereka. Kelompok tersebut telah menahan 23 staf PBB lainnya, beberapa di antaranya sejak tahun 2021.
Pada bulan Mei, Oman menjadi perantara gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Houthi, yang mendorong Washington untuk menghentikan kampanye pengeboman hariannya di Yaman. Namun, kepala negosiator Houthi, Mohammed Abdulsalam, mengatakan perjanjian tersebut tidak mencakup operasi Houthi melawan Israel.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah berjanji untuk membalas, memperingatkan Houthi bahwa mereka akan membayar mahal atas serangan terhadap wilayah Israel dan kapal-kapal pengiriman Israel.
Houthi, yang menguasai sebagian besar wilayah utara Yaman, telah melancarkan puluhan serangan pesawat nirawak dan rudal terhadap Israel dan sekutunya sejak Oktober, yang mengganggu perdagangan internasional melalui Laut Merah.
Kelompok sekutu Iran itu mengatakan pada hari Senin bahwa rudal mereka menghantam langsung kapal Scarlet Ray berbendera Liberia. Menurut perusahaan keamanan maritim Ambrey, kapal itu milik Israel.
Namun, Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO), yang memantau kapal-kapal pengiriman di wilayah tersebut, membantah klaim Houthi. Menurut UKMTO, rudal Houthi meleset dari targetnya pada hari Minggu.
Baca Juga: PM Houthi dan Para Menterinya Tewas Dibombardir Jet Tempur Israel
"Awak kapal menyaksikan percikan proyektil tak dikenal di dekat kapal mereka dan mendengar ledakan keras," kata UKMTO, seraya menambahkan bahwa semua staf tidak terluka dan kapal tanker itu telah melanjutkan pelayarannya.
Serangan ini merupakan yang terbaru dari serangkaian operasi Houthi di Laut Merah. Kelompok tersebut telah menenggelamkan dua kapal tanker pada bulan Juli dan telah berjanji untuk terus menargetkan kapal-kapal yang terkait dengan Israel sebagai bagian dari dukungan yang dinyatakan untuk Palestina dan penentangan terhadap genosida Israel di Gaza.
Pada hari Sabtu, Houthi mengumumkan bahwa PM Ahmed Ghaleb al-Rahawi dan pejabat tinggi lainnya telah meninggal dalam serangan Israel pada hari Kamis. Pemakaman mereka dijadwalkan berlangsung pada hari Senin waktu setempat.
Pemimpin Houthi Abdel-Malik al-Houthi memuji mereka sebagai "martir seluruh Yaman" dan menuduh Israel melakukan kebiadaban terhadap warga sipil. "Kejahatan menargetkan menteri dan pejabat sipil menambah catatan kriminal musuh Israel di wilayah ini," katanya, seperti dikutip dari Al Jazeera, Selasa (2/9/2025).
Ketegangan semakin meningkat pada hari Minggu ketika pasukan Houthi menyerbu kantor-kantor PBB dan menahan setidaknya 11 staf, menuduh mereka melakukan spionase.
PBB telah menolak tuduhan tersebut dan menyerukan pembebasan segera dan tanpa syarat staf mereka. Kelompok tersebut telah menahan 23 staf PBB lainnya, beberapa di antaranya sejak tahun 2021.
Pada bulan Mei, Oman menjadi perantara gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Houthi, yang mendorong Washington untuk menghentikan kampanye pengeboman hariannya di Yaman. Namun, kepala negosiator Houthi, Mohammed Abdulsalam, mengatakan perjanjian tersebut tidak mencakup operasi Houthi melawan Israel.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah berjanji untuk membalas, memperingatkan Houthi bahwa mereka akan membayar mahal atas serangan terhadap wilayah Israel dan kapal-kapal pengiriman Israel.
Houthi, yang menguasai sebagian besar wilayah utara Yaman, telah melancarkan puluhan serangan pesawat nirawak dan rudal terhadap Israel dan sekutunya sejak Oktober, yang mengganggu perdagangan internasional melalui Laut Merah.
(mas)
Lihat Juga :