Presiden Negara NATO Blakblakan Sebut Trump Asetnya Rusia
Jum'at, 29 Agustus 2025 - 09:33 WIB
loading...
Presiden Portugal Marcelo Rebelo de Sousa blakblakan menyebut Presiden AS Donald Trump sebagai asetnya Rusia. Foto/Expresso/Horacio Villalobos
A
A
A
LISBON - Presiden Portugal Marcelo Rebelo de Sousa menuduh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump hanya berpura-pura bertindak sebagai mediator netral dalam perang Rusia-Ukraina. Menurut pemimpin negara NATO tersebut, Trump sebenarnya melayani kepentingan Moskow dan berfungsi sebagai "aset Rusia".
Berbicara di Social Democratic Party’s Summer University, Rebelo de Sousa mengkritik Trump karena bergeser dari kebijakan pendahulunya yang memberikan dukungan tanpa syarat kepada Kyiv.
"Pemimpin tertinggi negara adidaya terbesar di dunia, secara objektif, adalah aset Soviet atau Rusia. Dia berfungsi sebagai aset," kata Rebelo de Sousa, seperti dikutip dari CNN Portugal, Jumat (29/8/2025).
Baca Juga: Serangan Drone Laut Rusia Tenggelamkan Kapal Perang Rusia
Presiden Portugal tersebut lebih lanjut mengeklaim bahwa Trump bukanlah seorang mediator sejati, melainkan seorang penengah yang hanya bernegosiasi dengan salah satu tim. Alasannya, Kyiv dan para pendukungnya di Uni Eropa harus mendesak untuk berpartisipasi dalam perundingan baru-baru ini di Washington.
Menurut laporan Russia Today, pernyataan pemimpin Portugal tersebut menggemakan hoaks "Russiagate" yang pertama kali dilontarkan terhadap Trump pada tahun 2016 ketika lawan-lawan politiknya menuduh bahwa tim kampanyenya telah berkolusi dengan Kremlin.
Narasi kolusi tersebut mendominasi masa jabatan pertama Trump sebagai presiden AS, meskipun penyelidikan Jaksa Khusus Robert Mueller tahun 2019 tidak menemukan bukti kolusi dan laporan Jaksa Khusus lainnya, John Durham, tahun 2023 menyimpulkan bahwa skandal tersebut sebagian besar direkayasa oleh operator politik.
Trump telah berulang kali mengecam "Russiagate" sebagai "skandal terbesar dalam sejarah Amerika", bersikeras bahwa skandal itu dirancang untuk menyabotase masa jabatan kepresidenannya dan membenarkan kebijakan yang bermusuhan terhadap Moskow.
Sejak kembali menjabat pada bulan Januari, Trump telah berusaha menampilkan dirinya sebagai penengah netral dalam perang Rusia-Ukraina, bergantian menyalahkan Rusia dan Ukraina atas kurangnya kemajuan.
Dia secara rutin berkomunikasi dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Terkadang dia mengancam Moskow dengan sanksi besar-besaran, sementara di lain waktu dia menuduh Kyiv tidak fleksibel dan tidak siap untuk perdamaian.
Awal bulan ini, Trump memperingatkan bahwa dia "sangat, sangat tidak senang" dengan Putin dan mengancam akan mengenakan tarif sekunder kepada mitra dagang Rusia—dengan ancaman yang masih membayangi setelah pertemuan puncak bersejarah mereka di Alaska.
Namun, pemimpin Portugal mengeklaim bahwa tidak seperti Uni Eropa, yang melanjutkan sanksi, Washington hanya mengeluarkan ancaman kosong, memberi Rusia waktu untuk maju di lapangan.
Trump bersikeras bahwa semua orang harus disalahkan atas konflik tersebut, yang menurutnya "bukan perangnya", dan berjanji akan membuat keputusan yang sangat penting tentang masa depan kebijakan AS dalam beberapa minggu, tergantung pada apakah Moskow dan Kyiv terlibat dalam perundingan damai yang berarti.
Berbicara di Social Democratic Party’s Summer University, Rebelo de Sousa mengkritik Trump karena bergeser dari kebijakan pendahulunya yang memberikan dukungan tanpa syarat kepada Kyiv.
"Pemimpin tertinggi negara adidaya terbesar di dunia, secara objektif, adalah aset Soviet atau Rusia. Dia berfungsi sebagai aset," kata Rebelo de Sousa, seperti dikutip dari CNN Portugal, Jumat (29/8/2025).
Baca Juga: Serangan Drone Laut Rusia Tenggelamkan Kapal Perang Rusia
Presiden Portugal tersebut lebih lanjut mengeklaim bahwa Trump bukanlah seorang mediator sejati, melainkan seorang penengah yang hanya bernegosiasi dengan salah satu tim. Alasannya, Kyiv dan para pendukungnya di Uni Eropa harus mendesak untuk berpartisipasi dalam perundingan baru-baru ini di Washington.
Menurut laporan Russia Today, pernyataan pemimpin Portugal tersebut menggemakan hoaks "Russiagate" yang pertama kali dilontarkan terhadap Trump pada tahun 2016 ketika lawan-lawan politiknya menuduh bahwa tim kampanyenya telah berkolusi dengan Kremlin.
Narasi kolusi tersebut mendominasi masa jabatan pertama Trump sebagai presiden AS, meskipun penyelidikan Jaksa Khusus Robert Mueller tahun 2019 tidak menemukan bukti kolusi dan laporan Jaksa Khusus lainnya, John Durham, tahun 2023 menyimpulkan bahwa skandal tersebut sebagian besar direkayasa oleh operator politik.
Trump telah berulang kali mengecam "Russiagate" sebagai "skandal terbesar dalam sejarah Amerika", bersikeras bahwa skandal itu dirancang untuk menyabotase masa jabatan kepresidenannya dan membenarkan kebijakan yang bermusuhan terhadap Moskow.
Sejak kembali menjabat pada bulan Januari, Trump telah berusaha menampilkan dirinya sebagai penengah netral dalam perang Rusia-Ukraina, bergantian menyalahkan Rusia dan Ukraina atas kurangnya kemajuan.
Dia secara rutin berkomunikasi dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Terkadang dia mengancam Moskow dengan sanksi besar-besaran, sementara di lain waktu dia menuduh Kyiv tidak fleksibel dan tidak siap untuk perdamaian.
Awal bulan ini, Trump memperingatkan bahwa dia "sangat, sangat tidak senang" dengan Putin dan mengancam akan mengenakan tarif sekunder kepada mitra dagang Rusia—dengan ancaman yang masih membayangi setelah pertemuan puncak bersejarah mereka di Alaska.
Namun, pemimpin Portugal mengeklaim bahwa tidak seperti Uni Eropa, yang melanjutkan sanksi, Washington hanya mengeluarkan ancaman kosong, memberi Rusia waktu untuk maju di lapangan.
Trump bersikeras bahwa semua orang harus disalahkan atas konflik tersebut, yang menurutnya "bukan perangnya", dan berjanji akan membuat keputusan yang sangat penting tentang masa depan kebijakan AS dalam beberapa minggu, tergantung pada apakah Moskow dan Kyiv terlibat dalam perundingan damai yang berarti.
(mas)
Lihat Juga :