China Tolak Ajakan AS Kurangi Senjata Nuklir, Anggap Tak Masuk Akal
Kamis, 28 Agustus 2025 - 07:02 WIB
loading...
China menolak ajakan AS untuk mengurangi senjata nuklir bersama dengan Rusia. Alasannya, jumlah senjata nuklirnya paling sedikit. Foto/PLA via USNI
A
A
A
BEIJING - China menolak ajakan Amerika Serikat (AS) untuk mengurangi senjata nuklir bersama dengan Rusia. Beijing menyebut ajakan itu tidak masuk akal karena jumlah persenjataan atomnya yang terkecil.
Pemerintah China pada hari Rabu mengatakan pihaknya tidak akan berpartisipasi dalam denuklirisasi dengan Washington dan Moskow. Berdalih bahwa persenjataan nuklirnya sangat sedikit untuk pertahanan nasional, Beijing menyatakan gagasan denuklirisasi bersama itu tidak realistis.
Penolakan itu disampaikan juru bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun sebagai respons atas seruan Presiden AS Donald Trump agar Beijing bergabung dalam inisiatif tersebut. Menurut Guo, Beijing dan Washington tidak memiliki kemampuan nuklir yang setara.
Baca Juga: Trump Klaim Senjata Nuklir AS Terbanyak Sejagat, Faktanya Kalah dari Rusia
"Negara yang memiliki persenjataan nuklir terbesar di dunia harus sungguh-sungguh memenuhi tanggung jawab khusus dan utamanya untuk pelucutan senjata nuklir," ujarnya, merujuk pada AS.
Gou menekankan bahwa Beijing mengikuti kebijakan "bukan pengguna pertama senjata nuklir" yang ketat dan menjaga persediaan senjatanya pada tingkat minimum yang diperlukan untuk keamanan nasional.
"China tidak pernah terlibat dalam perlombaan senjata dengan siapa pun," ujarnya."Tidak masuk akal maupun realistis untuk meminta China bergabung," paparnya, seperti dikutip dari Russia Today, Kamis (28/8/2025).
Trump pada hari Senin mengungkapkan bahwa dia telah membahas pengurangan senjata nuklir dengan Presiden Rusia Vladimir Putin selama pertemuan mereka di Alaska.
"Kita sedang membahas pembatasan senjata nuklir, kita akan melibatkan China. Kita punya paling banyak, Rusia kedua terbanyak, dan China ketiga. Tapi China jauh tertinggal, tetapi mereka akan menyusul kita dalam lima tahun," ujarnya.
Moskow belum mengomentari pernyataan Trump.
Klaim Trump perihal jumlah senjata nuklir terbanyak di dunia berbeda dengan data lembaga independen internasional. Menurut Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), Rusia menyimpan sekitar 2.591 hulu ledak nuklir dan telah mengerahkan 1.718, sementara AS menyimpan 1.930 hulu ledak nuklir dan mengerahkan 1.770.
Sedangkan China memiliki 576 hulu ledak nuklir yang disimpan dan 24 telah dikerahkan. Inggris dan Prancis mempertahankan 120 dan 280 hulu ledak yang telah dikerahkan.
Perjanjian pengendalian senjata terakhir antara Washington dan Moskow, perjanjian New START, membatasi hulu ledak nuklir strategis yang dikerahkan pada 1.550—tingkat terendah dalam beberapa dekade.
Ditandatangani pada tahun 2010 dan akan berakhir pada tahun 2021, perjanjian ini diperpanjang selama lima tahun hingga tahun 2026.
Rusia secara resmi menangguhkan partisipasinya dalam perjanjian tersebut pada tahun 2023 karena bantuan militer AS ke Ukraina, tetapi menyatakan akan terus mematuhi batasan yang ditetapkan dalam perjanjian tersebut.
Pemerintah China pada hari Rabu mengatakan pihaknya tidak akan berpartisipasi dalam denuklirisasi dengan Washington dan Moskow. Berdalih bahwa persenjataan nuklirnya sangat sedikit untuk pertahanan nasional, Beijing menyatakan gagasan denuklirisasi bersama itu tidak realistis.
Penolakan itu disampaikan juru bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun sebagai respons atas seruan Presiden AS Donald Trump agar Beijing bergabung dalam inisiatif tersebut. Menurut Guo, Beijing dan Washington tidak memiliki kemampuan nuklir yang setara.
Baca Juga: Trump Klaim Senjata Nuklir AS Terbanyak Sejagat, Faktanya Kalah dari Rusia
"Negara yang memiliki persenjataan nuklir terbesar di dunia harus sungguh-sungguh memenuhi tanggung jawab khusus dan utamanya untuk pelucutan senjata nuklir," ujarnya, merujuk pada AS.
Gou menekankan bahwa Beijing mengikuti kebijakan "bukan pengguna pertama senjata nuklir" yang ketat dan menjaga persediaan senjatanya pada tingkat minimum yang diperlukan untuk keamanan nasional.
"China tidak pernah terlibat dalam perlombaan senjata dengan siapa pun," ujarnya."Tidak masuk akal maupun realistis untuk meminta China bergabung," paparnya, seperti dikutip dari Russia Today, Kamis (28/8/2025).
Trump pada hari Senin mengungkapkan bahwa dia telah membahas pengurangan senjata nuklir dengan Presiden Rusia Vladimir Putin selama pertemuan mereka di Alaska.
"Kita sedang membahas pembatasan senjata nuklir, kita akan melibatkan China. Kita punya paling banyak, Rusia kedua terbanyak, dan China ketiga. Tapi China jauh tertinggal, tetapi mereka akan menyusul kita dalam lima tahun," ujarnya.
Moskow belum mengomentari pernyataan Trump.
Klaim Trump perihal jumlah senjata nuklir terbanyak di dunia berbeda dengan data lembaga independen internasional. Menurut Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), Rusia menyimpan sekitar 2.591 hulu ledak nuklir dan telah mengerahkan 1.718, sementara AS menyimpan 1.930 hulu ledak nuklir dan mengerahkan 1.770.
Sedangkan China memiliki 576 hulu ledak nuklir yang disimpan dan 24 telah dikerahkan. Inggris dan Prancis mempertahankan 120 dan 280 hulu ledak yang telah dikerahkan.
Perjanjian pengendalian senjata terakhir antara Washington dan Moskow, perjanjian New START, membatasi hulu ledak nuklir strategis yang dikerahkan pada 1.550—tingkat terendah dalam beberapa dekade.
Ditandatangani pada tahun 2010 dan akan berakhir pada tahun 2021, perjanjian ini diperpanjang selama lima tahun hingga tahun 2026.
Rusia secara resmi menangguhkan partisipasinya dalam perjanjian tersebut pada tahun 2023 karena bantuan militer AS ke Ukraina, tetapi menyatakan akan terus mematuhi batasan yang ditetapkan dalam perjanjian tersebut.
(mas)
Lihat Juga :