8 Efek Mata Uang Baru BRICS terhadap Dollar AS jika Sudah Berlaku
Rabu, 27 Agustus 2025 - 12:00 WIB
loading...
A
A
A
Jika BRICS berhasil dengan mata uangnya, akan menjadi preseden kuat bagi blok-blok regional lain seperti ASEAN, Afrika, atau Amerika Latin untuk mengeksplorasi solusi serupa.
Meskipun gagasannya ambisius, pembentukan mata uang bersama menghadapi banyak kendala dalam PR teknis dan politik.
Variasi ekonomi yang drastis antar anggota—dari China yang besar hingga Afrika Selatan yang kecil—menyulitkan penyatuan kebijakan moneter.
Ada juga risiko dominasi ekonomi oleh negara terbesar (China, terutama) yang bisa menimbulkan ketidakpercayaan dari anggota lainnya.
Selain itu, belum ada kesepakatan waktu atau metodologi yang jelas untuk peluncuran currency bersama, sehingga banyak pengamat masih skeptis bahwa negara-negara BRICS bisa mencapai itu dalam jangka pendek.
Di samping mata uang baru, BRICS juga sedang membangun infrastruktur finansial yang mandiri, seperti Contingent Reserve Arrangement (CRA) yang menyediakan likuiditas dan jaring pengaman fiskal antar anggota BRICS.
Selain itu, sistem SWIFT alternatif seperti BRICS Pay dan inisiatif blockchain (BRICS Bridge) mendukung interoperabilitas cross-border tanpa melalui lembaga Barat.
Ini mencerminkan kemauan BRICS untuk mengurangi ketergantungan pada sistem keuangan global yang selama ini didominasi Amerika dan Eropa.
Secara garis besar, dampak potensial dari mata uang baru BRICS terhadap dolar AS adalah nyata dan menantang: dari melemahnya status cadangan, berkurangnya efektivitas sanksi finansial, hingga tekanan domestik AS berupa inflasi dan gelombang proteksionisme.
Namun, keberhasilan inisiatif ini bergantung pada sejauh mana BRICS bisa membangun kepercayaan internal, sistem infrastruktur keuangan yang solid, dan adopsi luas baik di dalam maupun luar blok.
Ke depan, dunia mungkin bergerak menuju sistem moneter multipolar yang lebih adil dan terdiversifikasi—temu yang tidak bisa dibendung oleh satu ekonomi besar manapun.
Namun, transisinya penuh risiko, ketidakseimbangan, dan ketegangan geopolitik, menjadikannya salah satu isu paling menarik dalam dinamika pasar global saat ini.
Baca juga: Kian Merajalela, Pasukan Israel Hancurkan 1.000 Bangunan di Kota Gaza
7. Tantangan Internal BRICS
Meskipun gagasannya ambisius, pembentukan mata uang bersama menghadapi banyak kendala dalam PR teknis dan politik.
Variasi ekonomi yang drastis antar anggota—dari China yang besar hingga Afrika Selatan yang kecil—menyulitkan penyatuan kebijakan moneter.
Ada juga risiko dominasi ekonomi oleh negara terbesar (China, terutama) yang bisa menimbulkan ketidakpercayaan dari anggota lainnya.
Selain itu, belum ada kesepakatan waktu atau metodologi yang jelas untuk peluncuran currency bersama, sehingga banyak pengamat masih skeptis bahwa negara-negara BRICS bisa mencapai itu dalam jangka pendek.
8. Diversifikasi Sistem Perbankan Internasional
Di samping mata uang baru, BRICS juga sedang membangun infrastruktur finansial yang mandiri, seperti Contingent Reserve Arrangement (CRA) yang menyediakan likuiditas dan jaring pengaman fiskal antar anggota BRICS.
Selain itu, sistem SWIFT alternatif seperti BRICS Pay dan inisiatif blockchain (BRICS Bridge) mendukung interoperabilitas cross-border tanpa melalui lembaga Barat.
Ini mencerminkan kemauan BRICS untuk mengurangi ketergantungan pada sistem keuangan global yang selama ini didominasi Amerika dan Eropa.
Secara garis besar, dampak potensial dari mata uang baru BRICS terhadap dolar AS adalah nyata dan menantang: dari melemahnya status cadangan, berkurangnya efektivitas sanksi finansial, hingga tekanan domestik AS berupa inflasi dan gelombang proteksionisme.
Namun, keberhasilan inisiatif ini bergantung pada sejauh mana BRICS bisa membangun kepercayaan internal, sistem infrastruktur keuangan yang solid, dan adopsi luas baik di dalam maupun luar blok.
Ke depan, dunia mungkin bergerak menuju sistem moneter multipolar yang lebih adil dan terdiversifikasi—temu yang tidak bisa dibendung oleh satu ekonomi besar manapun.
Namun, transisinya penuh risiko, ketidakseimbangan, dan ketegangan geopolitik, menjadikannya salah satu isu paling menarik dalam dinamika pasar global saat ini.
Baca juga: Kian Merajalela, Pasukan Israel Hancurkan 1.000 Bangunan di Kota Gaza
(sya)
Lihat Juga :