Eks Perwira Intelijen Zionis Sebut Perang Iran-Israel Babak Kedua Sudah Dekat
Selasa, 26 Agustus 2025 - 16:13 WIB
loading...
Jacques Neriah, mantan perwira intelijen militer Zionis, sebut putaran kedua perang dengan Iran sudah dekat. Foto/Al Arabiya
A
A
A
TEL AVIV - Jacques Neriah, mantan perwira intelijen militer Zionis, mengatakan putaran kedua perang dengan Iran sudah dekat. Menurutnya, Teheran sudah mempersiapkan balas dendam atas invasi Israel Juni lalu.
Dua bulan lalu, kedua negara tersebut terlibat perang 12 hari dan berakhir dengan gencatan senjata yang ditengahi Amerika Serikat.
"Ada perasaan bahwa perang akan datang, bahwa balas dendam Iran sedang dipersiapkan. Iran tidak akan mampu menanggung penghinaan ini lama-lama," kata Neriah kepada 103FM, yang dikutip Iran International, Selasa (26/8/2025).
Baca Juga: Iran Bangun Pabrik Senjata di Beberapa Negara usai Perang Melawan Israel
Israel melancarkan invasi militer mendadak pada 13 Juni yang menargetkan fasilitas militer dan nuklir Iran, menewaskan 1.062 orang, termasuk 276 warga sipil.
Iran merespons dengan serangan rudal yang menewaskan 31 warga sipil dan satu tentara yang sedang tidak bertugas, menurut data resmi yang dipublikasikan oleh pemerintah Israel.
Neriah mengatakan bahwa anggota Hizbullah Lebanon yang didukung Iran telah diinstruksikan untuk menjauhkan diri dari ponsel mereka, yang dia yakini sebagai tanda akan terjadinya konflik.
Pada tahun 2024, ribuan pager dan walkie-talkie yang didistribusikan kepada anggota Hizbullah ditemukan telah dipasangi jebakan peledak oleh Israel, yang mengakibatkan serangan mematikan berskala besar yang mengganggu kemampuan operasional Hizbullah dan mengungkap kerentanan kritis dalam jaringan komunikasi mereka.
The Jerusalem Center for Security and Foreign Affairs menulis dalam sebuah analisis bahwa Iran sedang berupaya memperkuat hubungan dengan pasukan proksi "Cincin Api"-nya menyusul apa yang digambarkannya sebagai kekalahan memalukan oleh militer Israel. Namun Iran mengeklaim sebagai pihak yang menang perang.
Militer Israel melancarkan operasi terhadap Iran beberapa bulan setelah melemahkan proksi regional Iran, termasuk Hamas, Hizbullah, dan Houthi.
Pergantian rezim di Suriah juga mengakhiri kekuasaan sekutu setia Iran, Bashar al-Assad, yang memberikan pukulan berat bagi pengaruh Iran di negara-negara Arab.
Republik Islam tersebut kini tidak puas dengan pemerintah Suriah dan ingin melihatnya digulingkan, kata Neriah.
“Suriah di bawah pemerintahan Ahmed al-Sharaa telah berhasil mematahkan cengkeraman yang coba diterapkan Iran di sekitar Israel. Jatuhnya Bashar al-Assad menyebabkan runtuhnya Hizbullah sebagai kekuatan regional. Iran memandang rezim al-Sharaa sebagai sesuatu yang perlu digulingkan.”
Dua bulan lalu, kedua negara tersebut terlibat perang 12 hari dan berakhir dengan gencatan senjata yang ditengahi Amerika Serikat.
"Ada perasaan bahwa perang akan datang, bahwa balas dendam Iran sedang dipersiapkan. Iran tidak akan mampu menanggung penghinaan ini lama-lama," kata Neriah kepada 103FM, yang dikutip Iran International, Selasa (26/8/2025).
Baca Juga: Iran Bangun Pabrik Senjata di Beberapa Negara usai Perang Melawan Israel
Israel melancarkan invasi militer mendadak pada 13 Juni yang menargetkan fasilitas militer dan nuklir Iran, menewaskan 1.062 orang, termasuk 276 warga sipil.
Iran merespons dengan serangan rudal yang menewaskan 31 warga sipil dan satu tentara yang sedang tidak bertugas, menurut data resmi yang dipublikasikan oleh pemerintah Israel.
Neriah mengatakan bahwa anggota Hizbullah Lebanon yang didukung Iran telah diinstruksikan untuk menjauhkan diri dari ponsel mereka, yang dia yakini sebagai tanda akan terjadinya konflik.
Pada tahun 2024, ribuan pager dan walkie-talkie yang didistribusikan kepada anggota Hizbullah ditemukan telah dipasangi jebakan peledak oleh Israel, yang mengakibatkan serangan mematikan berskala besar yang mengganggu kemampuan operasional Hizbullah dan mengungkap kerentanan kritis dalam jaringan komunikasi mereka.
Iran Membangun Kembali "Cincin Api"
The Jerusalem Center for Security and Foreign Affairs menulis dalam sebuah analisis bahwa Iran sedang berupaya memperkuat hubungan dengan pasukan proksi "Cincin Api"-nya menyusul apa yang digambarkannya sebagai kekalahan memalukan oleh militer Israel. Namun Iran mengeklaim sebagai pihak yang menang perang.
Militer Israel melancarkan operasi terhadap Iran beberapa bulan setelah melemahkan proksi regional Iran, termasuk Hamas, Hizbullah, dan Houthi.
Pergantian rezim di Suriah juga mengakhiri kekuasaan sekutu setia Iran, Bashar al-Assad, yang memberikan pukulan berat bagi pengaruh Iran di negara-negara Arab.
Republik Islam tersebut kini tidak puas dengan pemerintah Suriah dan ingin melihatnya digulingkan, kata Neriah.
“Suriah di bawah pemerintahan Ahmed al-Sharaa telah berhasil mematahkan cengkeraman yang coba diterapkan Iran di sekitar Israel. Jatuhnya Bashar al-Assad menyebabkan runtuhnya Hizbullah sebagai kekuatan regional. Iran memandang rezim al-Sharaa sebagai sesuatu yang perlu digulingkan.”
(mas)
Lihat Juga :