Pengacara Cantik Ini Meninggal setelah Alergi Parah saat CT Scan
Selasa, 26 Agustus 2025 - 10:47 WIB
loading...
Leticia Paul, pengacara cantik asal Brasil, meninggal setelah alergi parah saat menjalani CT scan. Foto/JamPress via The Sun
A
A
A
BRASILIA - Seorang pengacara cantik berusia 22 tahun meninggal dunia setelah mengalami reaksi alergi parah terhadap zat kontras selama CT scan di Rumah Sakit Regional Alto Vale di Rio do Sul, Brasil. Dia awalnya menjalani pemeriksaan rutin karena riwayat batu ginjal, namun tiba-tiba mengalami shock anafilaksis.
Menurut laporan New York Post, Selasa (26/8/2025), pengacara bernama Leticia Paul mengalami shock anafilaksis dan meninggal dunia kurang dari sehari kemudian pada 20 Agustus, meskipun telah diintubasi dan menerima tindakan penyelamatan jiwa.
Bibi korban, Sandra Paul, mengungkapkan kepada G1 bahwa keponakannya sedang menjalani pemeriksaan rutin. Tak lama kemudian, korban mengalami alergi parah yang mengancam jiwa.
Baca Juga: Seorang Suami Tewas usai Berhubungan Intim dengan Selingkuhan, Keluarga Korban Tuntut Kompensasi Rp1,2 Miliar
Menurut Johns Hopkins Medicine, shock anafilaksis adalah reaksi alergi yang tiba-tiba, parah, dan mengancam jiwa yang ditandai dengan berbagai gejala, antara lain penyempitan saluran napas, kesulitan bernapas, pembengkakan tenggorokan, dan penurunan tekanan darah.
Paul adalah lulusan sarjana hukum asal Lontras, dekat Rio do Sul di Brasil, dan juga sedang menempuh studi pascasarjana di bidang hukum dan real estate.
Bibinya memberi tahu G1, "Dia gadis yang bersemangat dan berkarakter. Dia mencintai hukum; dia sangat tekun belajar. Dia punya impian besar, dan saya yakin dia akan menjadi nama yang terkenal di dunia hukum."
Rumah Sakit Regional Alto Vale merilis pernyataan yang diterjemahkan ke berbagai media.
"Kami memanfaatkan kesempatan ini untuk menegaskan kembali komitmen kami terhadap etika, transparansi, dan keselamatan layanan kesehatan, dengan menekankan bahwa semua prosedur dilakukan sesuai dengan protokol klinis yang direkomendasikan," kata pihak rumah sakit.
Menurut Perpustakaan Kedokteran Nasional, pewarna kontras beryodium umumnya digunakan dalam pemindaian CT, MRI, dan sinar-X untuk meningkatkan citra organ dan jaringan. Meskipun umumnya aman, reaksi yang mengancam jiwa dapat terjadi pada sekitar 1 dari 5.000 hingga 1 dari 10.000 pasien.
Dr Murilo Eugenio Oliveira, spesialis radiologi dan diagnostik pencitraan, menyatakan bahwa agen kontras yang digunakan dalam pemindaian umumnya dianggap aman dan efektif. Meskipun reaksi yang merugikan dapat terjadi, namun jarang terjadi, dan reaksi parah seperti yang dialami oleh Leticia Paul sangat jarang terjadi.
Menurut laporan New York Post, Selasa (26/8/2025), pengacara bernama Leticia Paul mengalami shock anafilaksis dan meninggal dunia kurang dari sehari kemudian pada 20 Agustus, meskipun telah diintubasi dan menerima tindakan penyelamatan jiwa.
Bibi korban, Sandra Paul, mengungkapkan kepada G1 bahwa keponakannya sedang menjalani pemeriksaan rutin. Tak lama kemudian, korban mengalami alergi parah yang mengancam jiwa.
Baca Juga: Seorang Suami Tewas usai Berhubungan Intim dengan Selingkuhan, Keluarga Korban Tuntut Kompensasi Rp1,2 Miliar
Menurut Johns Hopkins Medicine, shock anafilaksis adalah reaksi alergi yang tiba-tiba, parah, dan mengancam jiwa yang ditandai dengan berbagai gejala, antara lain penyempitan saluran napas, kesulitan bernapas, pembengkakan tenggorokan, dan penurunan tekanan darah.
Paul adalah lulusan sarjana hukum asal Lontras, dekat Rio do Sul di Brasil, dan juga sedang menempuh studi pascasarjana di bidang hukum dan real estate.
Bibinya memberi tahu G1, "Dia gadis yang bersemangat dan berkarakter. Dia mencintai hukum; dia sangat tekun belajar. Dia punya impian besar, dan saya yakin dia akan menjadi nama yang terkenal di dunia hukum."
Rumah Sakit Regional Alto Vale merilis pernyataan yang diterjemahkan ke berbagai media.
"Kami memanfaatkan kesempatan ini untuk menegaskan kembali komitmen kami terhadap etika, transparansi, dan keselamatan layanan kesehatan, dengan menekankan bahwa semua prosedur dilakukan sesuai dengan protokol klinis yang direkomendasikan," kata pihak rumah sakit.
Menurut Perpustakaan Kedokteran Nasional, pewarna kontras beryodium umumnya digunakan dalam pemindaian CT, MRI, dan sinar-X untuk meningkatkan citra organ dan jaringan. Meskipun umumnya aman, reaksi yang mengancam jiwa dapat terjadi pada sekitar 1 dari 5.000 hingga 1 dari 10.000 pasien.
Dr Murilo Eugenio Oliveira, spesialis radiologi dan diagnostik pencitraan, menyatakan bahwa agen kontras yang digunakan dalam pemindaian umumnya dianggap aman dan efektif. Meskipun reaksi yang merugikan dapat terjadi, namun jarang terjadi, dan reaksi parah seperti yang dialami oleh Leticia Paul sangat jarang terjadi.
(mas)
Lihat Juga :