Kim Jong-un Pantau Langsung Korut Uji Tembak Rudal Baru yang Unik dan Spesial
Senin, 25 Agustus 2025 - 08:59 WIB
loading...
Kim Jong-un pantau langsung uji tembak dua jenis rudal baru Korea Utara. Foto/KCNA
A
A
A
PYONGYANG - Pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong-un memantau langsung uji coba dua jenis rudal pertahanan udara baru. Menurut media pemerintah setempat, dua misil baru itu dibuat dengan teknologi unik dan spesial.
"Para pakar rudal Korea Utara menguji coba dua jenis rudal pertahanan udara yang ditingkatkan ke beberapa target untuk menguji kemampuan tempur mereka," tulis kantor berita pemerintah Korut, KCNA, pada hari Minggu, yang dikutip Newsweek, Senin (25/8/2025).
Menurut laporan KCNA, uji coba dua jenis rudal baru itu berlangsung pada hari Sabtu, di mana Kim Jong-un yang didampingi beberapa pejabat senior memantau langsung.
Baca Juga: Tentara Korut Tewas dalam Perang Bela Rusia Melawan Ukraina, Kim Jong-un: Hati Saya Sakit dan Getir
"Rudal-rudal tersebut sangat cocok untuk menghancurkan berbagai target udara," lanjut laporan KCNA.
"Senjata-senjata tersebut—yang dibuat dengan teknologi unik dan spesial Pyongyang—dapat dengan cepat merespons serangan drone dan rudal jelajah yang datang."
Pyongyang terus maju dalam pengembangan persenjataan dan peningkatan militernya dengan alasan keamanannya terancam oleh Amerika Serikat (AS) dan Korea Selatan yang kembali menggelar latihan perang gabungan. Korut meyakini latihan perang gabungan itu merupakan latihan untuk menginvasi Pyongyang.
Para pejabat dan pakar Barat meyakini Rusia menawarkan bantuan dalam program militer Korut, dan Pyongyang sangat kritis terhadap hubungan AS dengan Korea Selatan dan Jepang—negara-negara yang menyaksikan dengan kecemasan mendalam atas program senjata nuklir Korea Utara yang sedang berkembang, uji coba rudal balistik antarbenua, dan senjata hipersonik.
Komando Perserikatan Bangsa-Bangsa, pasukan multinasional yang dibentuk untuk mendukung Korea Selatan, mengatakan pada hari Minggu bahwa sekitar 30 tentara Korea Utara telah melintasi perbatasan di semenanjung tersebut pada awal pekan ini, sementara Seoul melepaskan tembakan peringatan ke arah pasukan tersebut.
Tentara Korea Utara melintasi Garis Demarkasi Militer pada hari Selasa di wilayah tempat negara utara tersebut sedang melakukan kegiatan konstruksi dan pemeliharaan, kata seorang juru bicara komando, dalam pernyataan yang dilaporkan oleh media Korea Selatan.
Pyongyang mengatakan bahwa Korea Utara sedang melaksanakan proyek pembatas permanen di dekat garis perbatasan selatan.
Menurut Pyongyang, tembakan peringatan yang dilepaskan oleh pasukan Korea Selatan merupakan provokasi serius.
"Ini adalah awal yang sangat serius yang mau tidak mau akan mendorong situasi di wilayah perbatasan selatan, di mana sejumlah besar pasukan ditempatkan dalam konfrontasi satu sama lain, ke fase tak terkendali dan tentara DPRK terus memantau situasi saat ini," kata Wakil Kepala Staf Umum Angkatan Darat Korea Utara Letnan Jenderal Ko Long-chol. DPRK atau Republik Rakyat Demokratik Korea adalah nama resmi Korea Utara.
Korea Selatan memulai latihan perang gabungan berskala besar dengan AS pada 18 Agustus, yang dijadwalkan berlangsung hingga 28 Agustus. Korea Utara menyebut latihan tersebut sebagai ancaman bagi stabilitas di Semenanjung Korea.
Presiden Korea Selatan Lee Jae Myun diperkirakan akan bertemu dengan Presiden AS Donald Trump di Washington pada hari Senin setelah kunjungan ke Jepang selama akhir pekan. Lee, yang mengambil alih di Seoul pada awal Juni, telah memimpin upaya baru untuk berdamai dengan Korea Utara, yang sebagian besar telah ditolak oleh Pyongyang.
Wakil juru bicara utama Departemen Luar Negeri AS, Tommy Pigott, mengatakan pada hari Jumat bahwa Menteri Luar Negeri Marco Rubio telah bertemu dengan Menteri Luar Negeri Korea Selatan, Cho Hyun, dan menegaskan pentingnya kerja sama trilateral AS-Jepang-ROK. ROK adalah singkatan dari Republik Korea nama resmi Korea Selatan.
"Para pakar rudal Korea Utara menguji coba dua jenis rudal pertahanan udara yang ditingkatkan ke beberapa target untuk menguji kemampuan tempur mereka," tulis kantor berita pemerintah Korut, KCNA, pada hari Minggu, yang dikutip Newsweek, Senin (25/8/2025).
Menurut laporan KCNA, uji coba dua jenis rudal baru itu berlangsung pada hari Sabtu, di mana Kim Jong-un yang didampingi beberapa pejabat senior memantau langsung.
Baca Juga: Tentara Korut Tewas dalam Perang Bela Rusia Melawan Ukraina, Kim Jong-un: Hati Saya Sakit dan Getir
"Rudal-rudal tersebut sangat cocok untuk menghancurkan berbagai target udara," lanjut laporan KCNA.
"Senjata-senjata tersebut—yang dibuat dengan teknologi unik dan spesial Pyongyang—dapat dengan cepat merespons serangan drone dan rudal jelajah yang datang."
Pyongyang terus maju dalam pengembangan persenjataan dan peningkatan militernya dengan alasan keamanannya terancam oleh Amerika Serikat (AS) dan Korea Selatan yang kembali menggelar latihan perang gabungan. Korut meyakini latihan perang gabungan itu merupakan latihan untuk menginvasi Pyongyang.
Para pejabat dan pakar Barat meyakini Rusia menawarkan bantuan dalam program militer Korut, dan Pyongyang sangat kritis terhadap hubungan AS dengan Korea Selatan dan Jepang—negara-negara yang menyaksikan dengan kecemasan mendalam atas program senjata nuklir Korea Utara yang sedang berkembang, uji coba rudal balistik antarbenua, dan senjata hipersonik.
Komando Perserikatan Bangsa-Bangsa, pasukan multinasional yang dibentuk untuk mendukung Korea Selatan, mengatakan pada hari Minggu bahwa sekitar 30 tentara Korea Utara telah melintasi perbatasan di semenanjung tersebut pada awal pekan ini, sementara Seoul melepaskan tembakan peringatan ke arah pasukan tersebut.
Tentara Korea Utara melintasi Garis Demarkasi Militer pada hari Selasa di wilayah tempat negara utara tersebut sedang melakukan kegiatan konstruksi dan pemeliharaan, kata seorang juru bicara komando, dalam pernyataan yang dilaporkan oleh media Korea Selatan.
Pyongyang mengatakan bahwa Korea Utara sedang melaksanakan proyek pembatas permanen di dekat garis perbatasan selatan.
Menurut Pyongyang, tembakan peringatan yang dilepaskan oleh pasukan Korea Selatan merupakan provokasi serius.
"Ini adalah awal yang sangat serius yang mau tidak mau akan mendorong situasi di wilayah perbatasan selatan, di mana sejumlah besar pasukan ditempatkan dalam konfrontasi satu sama lain, ke fase tak terkendali dan tentara DPRK terus memantau situasi saat ini," kata Wakil Kepala Staf Umum Angkatan Darat Korea Utara Letnan Jenderal Ko Long-chol. DPRK atau Republik Rakyat Demokratik Korea adalah nama resmi Korea Utara.
Korea Selatan memulai latihan perang gabungan berskala besar dengan AS pada 18 Agustus, yang dijadwalkan berlangsung hingga 28 Agustus. Korea Utara menyebut latihan tersebut sebagai ancaman bagi stabilitas di Semenanjung Korea.
Presiden Korea Selatan Lee Jae Myun diperkirakan akan bertemu dengan Presiden AS Donald Trump di Washington pada hari Senin setelah kunjungan ke Jepang selama akhir pekan. Lee, yang mengambil alih di Seoul pada awal Juni, telah memimpin upaya baru untuk berdamai dengan Korea Utara, yang sebagian besar telah ditolak oleh Pyongyang.
Wakil juru bicara utama Departemen Luar Negeri AS, Tommy Pigott, mengatakan pada hari Jumat bahwa Menteri Luar Negeri Marco Rubio telah bertemu dengan Menteri Luar Negeri Korea Selatan, Cho Hyun, dan menegaskan pentingnya kerja sama trilateral AS-Jepang-ROK. ROK adalah singkatan dari Republik Korea nama resmi Korea Selatan.
(mas)
Lihat Juga :