10 Alasan Israel Selalu Gagal Menaklukkan Gaza

Jum'at, 22 Agustus 2025 - 14:37 WIB
loading...
A A A
Ketika tujuan akhir politik tidak solid, operasi militer cenderung berputar dalam siklus “bersihkan-tinggalkan-kembali lagi”.

3. Dinamika Sandera: Kendala Etis, Politik, Operasional


Keberadaan sandera Israel di Gaza menciptakan batasan kuat terhadap opsi militer. Setiap keputusan eskalasi bisa memperburuk keselamatan sandera dan memicu tekanan domestik agar pemerintah memprioritaskan deal daripada ofensif.

Hingga Agustus 2025, laporan media dan pernyataan resmi menyebut puluhan sandera masih tertahan—dengan estimasi sekitar 20 yang masih hidup—sementara negosiasi gencatan senjata berkali-kali maju-mundur.

Hamas memanfaatkan variabel sandera sebagai leverage strategis untuk menunda, menukar, atau membatasi operasi Israel.

4. Biaya Manusia dan Tekanan Hukum Internasional


Operasi besar Israel di Gaza memicu korban sipil dan kehancuran infrastruktur dalam skala yang memantik kecaman global dan intervensi institusi internasional.

UN OCHA secara berkala mendokumentasikan korban sipil dan kehancuran layanan esensial; tekanan ini bukan sekadar reputasional—ia menular menjadi pembatas politik terhadap durasi, intensitas, dan jenis amunisi/operasi yang dapat digunakan Israel.

Mahkamah Internasional (ICJ) mengeluarkan beberapa perintah tindakan sementara (provisional measures) terkait kewajiban mencegah tindakan genosida dan menjamin bantuan kemanusiaan; putusan-putusan ini menjadi rujukan diplomatik yang terus menapak di forum internasional.

Selain itu, kebocoran/analisis data dan liputan investigatif tentang proporsi korban sipil—ditambah rekor tragis tewasnya pekerja kemanusiaan—menguatkan arus kritik dan sanksi normatif.

Hal ini mempersempit ruang gerak Israel, misalnya lewat penundaan atau peninjauan bantuan persenjataan oleh mitra kunci seperti Amerika Serikat pada momen tertentu tahun 2024, seraya menambah beban diplomatik dalam mempertahankan kampanye berkepanjangan.

5. Hambatan Logistik di Wilayah Porak-poranda


Menyerbu kota itu satu hal; menahannya, menstabilkan, dan membangun ulang—sambil mencegah insurgensi—adalah hal lain yang jauh lebih berat.

Untuk benar-benar “menaklukkan” Gaza, Israel memerlukan kontrol intensif blok-demi-blok plus solusi stabilisasi sipil: layanan air, listrik, kesehatan, keamanan lokal, distribusi bantuan—di tengah populasi yang hampir seluruhnya mengungsi berulang kali.

OCHA melaporkan perpindahan paksa yang masif dan runtuhnya layanan publik; dalam kondisi demikian, pasukan Israel harus mengalokasikan personel besar untuk tugas non-tempur (pengamanan rute, de-mining, pengawalan bantuan, pengelolaan kerumunan).

Setiap jeda atau rotasi membuka peluang infiltrasi kembali pejuang bawah tanah.

Lebih jauh, karena banyak infrastruktur hancur, setiap “zona aman” yang dibentuk sementara rentan kolaps ketika artileri/serangan udara berlanjut—atau ketika bantuan macet.

Siklus ini menghasilkan operasi berulang (“re-clear”) di distrik yang sama, menguras stamina pasukan, menambah risiko korban, dan merusak legitimasi operasi.

6. Kerugian Militer Israel


Walau Israel secara umum unggul daya tembak dan teknologi, perang kota dan terowongan memaksa IDF berhadapan jarak dekat, meningkatkan kerentanan terhadap IED, penembak runduk, dan sergapan.

Data resmi dan ringkasan OCHA menunjukkan ratusan prajurit Israel tewas dan ribuan luka sejak operasi darat Oktober 2023; angka ini, meski lebih kecil ketimbang korban di pihak Palestina, tetap menimbulkan tekanan domestik, terutama di tengah mobilisasi reservis berkepanjangan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pasukan Israel Gagal...
Pasukan Israel Gagal Ambil Tank Komandan yang Gugur di Lebanon Selatan
4 Tentara Israel Tewas,...
4 Tentara Israel Tewas, Menteri-menteri Ekstremis Ancam Bakar Seluruh Lebanon, Buka Gerbang Neraka
Hizbullah Peringatkan...
Hizbullah Peringatkan Israel Punya Waktu 60 hari untuk Mundur dari Lebanon
Komite Administrasi...
Komite Administrasi Gaza Ungkap Prioritas Rekonstruksi Sudah Ditetapkan, Siap Mulai Pekerjaan
Israel Marah setelah...
Israel Marah setelah Presiden Belarusia Samakan Pembantaian Gaza dengan Holocaust Nazi
Israel Danai Pemukim...
Israel Danai Pemukim Ekstremis, Bayar Rp34 Miliar Per Bulan
Dewan Pers Minta Pemerintah...
Dewan Pers Minta Pemerintah Tempuh Jalur Diplomatik Bebaskan Jurnalis yang Ditangkap Israel
Australia Beri Peringatan:...
Australia Beri Peringatan: El Nino Kali Ini Akan Jadi yang Terkuat dalam Tujuh Dekade
Wapres JD Vance: Israel...
Wapres JD Vance: Israel Berusaha Pengaruhi Kebijakan Politik AS
Rekomendasi
Seskab Teddy Bertemu...
Seskab Teddy Bertemu Kepala BNN Komjen Suyudi, Ada Apa?
Perkuat Akuntabilitas...
Perkuat Akuntabilitas Keuangan Daerah, BSKDN Libatkan Akademisi dalam Validasi IPKD
Dorong Ekonomi Hijau,...
Dorong Ekonomi Hijau, Kapal Api Group Rehabilitasi Mangrove di Semarang
Berita Terkini
Israel Melakukan Segala...
Israel Melakukan Segala Cara untuk Menggagalkan Perundingan AS dan Iran
Untuk Pertama Kalinya,...
Untuk Pertama Kalinya, Turki Ekspor Kapal Perang
Ini 3 Kemewahan Jet...
Ini 3 Kemewahan Jet Mewah Qatar untuk Armada Air Force One Donald Trump
Protes Serangan Mematikan...
Protes Serangan Mematikan Israel di Lebanon, Iran Tutup Selat Hormuz
Swiss: Perundingan AS...
Swiss: Perundingan AS dan Iran Berlanjut di Burgenstock
Warga Moskow Sudah Merasakan...
Warga Moskow Sudah Merasakan Perang Ukraina di Depan Halaman Rumah
Infografis
10 Negara Penguasa Cadangan...
10 Negara Penguasa Cadangan Logam Tanah Jarang Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved