Jejak Bocah Genius Kairan Quazi: Kuliah Umur 9 Tahun, Rancang Perangkat Lunak Satelit SpaceX

Kamis, 21 Agustus 2025 - 13:42 WIB
loading...
Jejak Bocah Genius Kairan...
Kairan Quazi, bocah genius dengan perjalanan luar biasa. Dia kuliah di umur 9 tahun, jadi perancang perangkat lunak SpaceX di usia 14 tahun, dan kini gabung Citadel Securities. Foto/Instagram thepythonkairan
A A A
NEW YORK - Kairan Quazi adalah bocah genius luar biasa yang kini berusia 16 tahun. Setelah membantu merancang perangkat lunak untuk satelit SpaceX, bocah keturunan Amerika Serikat-Bangladesh ini kini bergabung dengan Citadel Securities sebagai pengembang kuantitatif.

Quazi menolak tawaran dari laboratorium artificial intelligence (AI) di Silicon Valley dan memilih terjun di Wall Street, di mana dia bergabung dengan Citadel Securities, sebuah penyedia likuiditas.

Jajak Quazi memang tidak konvensional sejak awal. Pada usia 9 tahun, dia meninggalkan kelas tiga untuk kuliah di Las Positas College, menjadi mahasiswa termuda di sana. Dia meraih gelar Associate of Science dalam ilmu Matematika.

Baca Juga: Perempuan 19 Tahun Ini Lahirkan Anak Ke-5, Dokter Tegur Suaminya: Kamu Tak Kasihan Padanya?

Dia kemudian magang di Intel Labs pada usia 10 tahun, dan pindah ke Santa Clara University pada usia 11 tahun, yang akhirnya menjadi lulusan termuda dalam 172 tahun sejarah universitas tersebut.

Pada tahun 2023, dia menjadi berita utama ketika SpaceX milik Elon Musk mempekerjakannya di usia 14 tahun. "Sebuah perusahaan langka," kata Quazi saat itu, yang tidak menggunakan usianya sebagai "proksi yang sewenang-wenang dan ketinggalan zaman untuk kedewasaan dan kemampuan."

Pada tahun yang sama, dia berselisih dengan LinkedIn milik Microsoft setelah LinkedIn menguncinya dari platform tersebut karena berusia di bawah 16 tahun, mengecam keputusan tersebut sebagai "omong kosong yang tidak logis dan primitif."

Faktanya, Quazi tidak pernah ragu mengkritik sistem tradisional yang menghambatnya. Setelah LinkedIn mengizinkannya kembali ke platform mereka, Quazi mengunggah komentar yang mengecam sistem sekolah konvensional.

Remaja berusia 16 tahun itu berpendapat, "Tes tidak digunakan untuk mengukur penguasaan, melainkan kemampuan untuk mengulang" dan bahwa "pabrik sekolah" modern lebih menghargai rasa takut dan pengejaran prestise daripada pembelajaran.

"Usia, privilege, dan bias bawah sadar (terkadang bahkan sadar) digunakan untuk menutup peluang," tulisnya dalam sebuah kritik pedas, menambahkan bahwa para filsuf seperti Seneca Muda dan Kaisar Romawi Marcus Aurelius mungkin menganggap sistem pendidikan saat ini berbahaya.

Dua tahun kemudian, Quazi menyalurkan pembangkangan yang sama ke arena yang berbeda. Dia menolak tawaran dari perusahaan rintisan AI dan perusahaan teknologi terkemuka untuk bergabung dengan Citadel Securities minggu ini di New York, dengan alasan budaya meritokrasi dan umpan balik instan yang dimiliki perusahaan tersebut.

"Keuangan kuantitatif menawarkan kombinasi yang cukup langka: kompleksitas dan tantangan intelektual yang juga dihadirkan oleh riset AI, tetapi dengan kecepatan yang jauh lebih cepat," ujarnya kepada Business Insider.

Di Citadel Securities, dia mengatakan, dirinya akan dapat melihat hasil karyanya dalam "hari, bukan bulan atau tahun."

Citadel Securities—perusahaan saudara dari Citadel yang terkenal—pada bagiannya, memiliki banyak alasan untuk menggembar-gemborkan kemenangan dalam merekrut si bocah genius tersebut.

Perusahaan ini, yang menangani sekitar 35% perdagangan saham ritel AS dan menghasilkan pendapatan hampir USD10 miliar pada tahun 2024, terkunci dalam persaingan bakat dengan perusahaan-perusahaan seperti OpenAI, Anthropic, dan xAI.

Merekrut seorang genius yang dulunya dianggap terlalu muda untuk LinkedIn—tetapi sekarang bekerja di persimpangan antara teknik dan pemecahan masalah kuantitatif—merupakan sebuah pencapaian simbolis bagi perusahaan perdagangan raksasa milik Ken Griffin.

Bagi Quazi, langkah ini juga menutup lingkaran pribadinya. Ibunya bekerja di bidang merger dan akuisisi sebagai bankir investasi, memberinya pengalaman awal di bidang keuangan. Dan di kampus, dia menyaksikan betapa pekerjaan kuantitatif telah menjadi incaran bagi mahasiswa matematika dan ilmu komputer.

“Ini adalah salah satu industri paling bergengsi yang bisa Anda tekuni sebagai ilmuwan komputer atau matematikawan,” ujarnya kepada Business Insider.

Kini, dia menjalani kenyataan itu di New York City. Quazi telah pindah ke sebuah apartemen yang hanya berjarak 10 menit berjalan kaki dari kantor Citadel Securities di Park Avenue.

“New York memiliki tempat yang sangat istimewa di hati saya,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa ibunya tumbuh besar di Astoria, Queens.

Tidak seperti masa-masanya di SpaceX, di mana ibunya harus mengantarnya ke tempat kerja di Redmond, Washington, perjalanan Quazi kini menjadi miliknya sendiri: pertama dengan berjalan kaki, dan segera, dengan kereta bawah tanah.

“Saya merasa siap untuk menghadapi tantangan baru dan mengembangkan keahlian saya ke lingkungan berkinerja tinggi yang berbeda,” ujarnya.

“Citadel Securities menawarkan budaya yang sama ambisiusnya, tetapi juga bidang yang benar-benar baru, yang sangat menarik bagi saya.”
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
AS Kembali Serang Iran,...
AS Kembali Serang Iran, IRGC Balas Gempur Pasukan Amerika
Pengadilan AS Hukum...
Pengadilan AS Hukum Warga Israel karena Curi Rahasia Dagang
Kim Jong-un Janji Kapal...
Kim Jong-un Janji Kapal Perang Korut Dilengkapi Senjata Nuklir, Momok bagi AS
Iran Tuduh NATO Terlibat...
Iran Tuduh NATO Terlibat Perang Gabungan AS-Israel Gara-gara Pengakuan Sekjen Mark Rutte
Trump Caci Maki Netanyahu:...
Trump Caci Maki Netanyahu: Semua Orang Yahudi Muak Denganmu!
China Bikin Replika...
China Bikin Replika Kapal Perang AS untuk Jadi Target Tes Rudal
AS Bidik Tuan Rumah...
AS Bidik Tuan Rumah Piala Dunia 2038
Sengaja Targetkan Anak-Anak...
Sengaja Targetkan Anak-Anak Palestina, Penyelidik PBB Nyatakan Israel Lakukan Genosida di Gaza
Mengenal Gempa Doublet...
Mengenal Gempa Doublet di Venezuela Tewaskan Ratusan Orang, Jarang Terjadi
Rekomendasi
Bukan Utang, Purbaya...
Bukan Utang, Purbaya Tegaskan Pendanaan AIIB Rp303 Triliun Murni Investasi
UATAS dan AFPI Ajak...
UATAS dan AFPI Ajak Mahasiswa Bijak Kelola Keuangan
Stafsus Menag Bertemu...
Stafsus Menag Bertemu Pengurus Rumah Doa Methodis Injili Jemaat Filadelfia Bandung
Berita Terkini
AS Kembali Serang Iran,...
AS Kembali Serang Iran, IRGC Balas Gempur Pasukan Amerika
Dunia Bantu Upaya Penyelamatan,...
Dunia Bantu Upaya Penyelamatan, Korban Tewas Gempa Venezuela Capai 589 Orang
Israel Melarang Seruan...
Israel Melarang Seruan Azan di Masjid Ibrahimi Hebron, Sudah Hari Kelima
Hizbullah Sergap Unit...
Hizbullah Sergap Unit Israel di Beit Yahoun, 4 Tentara Zionis Terluka
Pengadilan AS Hukum...
Pengadilan AS Hukum Warga Israel karena Curi Rahasia Dagang
Singapura Marah Kapalnya...
Singapura Marah Kapalnya Diserang di Selat Hormuz
Infografis
5 Titik Rawan Perang...
5 Titik Rawan Perang Dunia III pada Tahun 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved