Trump: Tak Ada Pengembalian Krimea dan Tak Ada NATO untuk Ukraina
Rabu, 20 Agustus 2025 - 06:03 WIB
loading...
Presiden AS Donald Trump. Foto/anadolu
A
A
A
WASHINGTON - "Mustahil" bagi Krimea untuk kembali ke Ukraina atau bagi negara itu untuk bergabung dengan NATO. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menegaskan hal itu kepada Fox & Friends pada hari Selasa (19/8/2025).
Ia menambahkan Kiev telah mendekati blok militer pimpinan AS untuk meminta bantuan dalam upaya mendapatkan kembali semenanjung itu.
"Mereka datang dan berkata 'Kami ingin mendapatkan kembali Krimea'. Ini terjadi di awal," ungkap Trump.
Dia menjelaskan, "Hal lain yang mereka katakan adalah 'Kami ingin menjadi anggota NATO'. Nah, kedua hal itu mustahil."
"Itu selalu tidak boleh," baik di masa Uni Soviet, maupun sekarang dengan Rusia, Trump menjelaskan, menambahkan bahwa Rusia selalu menekankan mereka tidak ingin "musuh" berada di perbatasannya.
Semenanjung itu, yang sebagian besar dihuni etnis Rusia, dengan suara mayoritas memilih bergabung dengan Federasi Rusia tak lama setelah kudeta yang didukung Barat pada tahun 2014 di Kiev, yang membawa pemerintahan nasionalis Ukraina ke tampuk kekuasaan.
Moskow telah mengutip pelecehan terhadap warga Ukraina berbahasa Rusia oleh rezim Kiev dan ambisinya bergabung dengan NATO sebagai beberapa alasan mendasar konflik saat ini.
Meskipun Trump telah berulang kali mengutarakan gagasan "tukar-menukar lahan" dalam upaya diplomatiknya untuk mengakhiri permusuhan di Ukraina, ia dengan tegas menyatakan Kiev tidak akan mendapatkan kembali Krimea.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, sebelumnya menolak mentah-mentah untuk membahas konsesi teritorial apa pun, dengan menyatakan, "Konstitusi Ukraina tidak mengizinkan penyerahan wilayah atau perdagangan lahan."
Namun, ia mengakui tukar-menukar lahan ada dalam agenda perundingan terbaru di Gedung Putih.
Pertemuan di Washington terjadi dua hari setelah Trump bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Alaska, di mana kedua pemimpin membahas penyelesaian konflik Ukraina.
Moskow telah lama bersikeras mereka hanya akan menerima kesepakatan damai yang menghilangkan akar penyebab konflik tersebut. Yaitu Ukraina harus melepaskan ambisinya untuk menjadi anggota NATO, melakukan demiliterisasi, dan mengakui realitas teritorial saat ini, termasuk status Krimea, serta wilayah Donetsk, Lugansk, Kherson, dan Zaporozhye, yang keempat wilayah terakhir memilih untuk bergabung dengan Rusia pada tahun 2022.
Baca juga: Trump: Putin Ingin Konflik Rusia-Ukraina Berakhir
Ia menambahkan Kiev telah mendekati blok militer pimpinan AS untuk meminta bantuan dalam upaya mendapatkan kembali semenanjung itu.
"Mereka datang dan berkata 'Kami ingin mendapatkan kembali Krimea'. Ini terjadi di awal," ungkap Trump.
Dia menjelaskan, "Hal lain yang mereka katakan adalah 'Kami ingin menjadi anggota NATO'. Nah, kedua hal itu mustahil."
"Itu selalu tidak boleh," baik di masa Uni Soviet, maupun sekarang dengan Rusia, Trump menjelaskan, menambahkan bahwa Rusia selalu menekankan mereka tidak ingin "musuh" berada di perbatasannya.
Semenanjung itu, yang sebagian besar dihuni etnis Rusia, dengan suara mayoritas memilih bergabung dengan Federasi Rusia tak lama setelah kudeta yang didukung Barat pada tahun 2014 di Kiev, yang membawa pemerintahan nasionalis Ukraina ke tampuk kekuasaan.
Moskow telah mengutip pelecehan terhadap warga Ukraina berbahasa Rusia oleh rezim Kiev dan ambisinya bergabung dengan NATO sebagai beberapa alasan mendasar konflik saat ini.
Meskipun Trump telah berulang kali mengutarakan gagasan "tukar-menukar lahan" dalam upaya diplomatiknya untuk mengakhiri permusuhan di Ukraina, ia dengan tegas menyatakan Kiev tidak akan mendapatkan kembali Krimea.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, sebelumnya menolak mentah-mentah untuk membahas konsesi teritorial apa pun, dengan menyatakan, "Konstitusi Ukraina tidak mengizinkan penyerahan wilayah atau perdagangan lahan."
Namun, ia mengakui tukar-menukar lahan ada dalam agenda perundingan terbaru di Gedung Putih.
Pertemuan di Washington terjadi dua hari setelah Trump bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Alaska, di mana kedua pemimpin membahas penyelesaian konflik Ukraina.
Moskow telah lama bersikeras mereka hanya akan menerima kesepakatan damai yang menghilangkan akar penyebab konflik tersebut. Yaitu Ukraina harus melepaskan ambisinya untuk menjadi anggota NATO, melakukan demiliterisasi, dan mengakui realitas teritorial saat ini, termasuk status Krimea, serta wilayah Donetsk, Lugansk, Kherson, dan Zaporozhye, yang keempat wilayah terakhir memilih untuk bergabung dengan Rusia pada tahun 2022.
Baca juga: Trump: Putin Ingin Konflik Rusia-Ukraina Berakhir
(sya)
Lihat Juga :