Trump: China Tak Akan Menyerang Taiwan Selama Saya Jadi Presiden AS
Minggu, 17 Agustus 2025 - 07:26 WIB
loading...
Presiden AS Donald Trump klaim China tidak akan menyerang Taiwan selama dirinya menjadi pemimpin Amerika. Foto/Gedung Putih
A
A
A
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengeklaim China tidak akan menyerang Taiwan selama dirinya menjadi pemimpin Amerika. Menurutnya, hal itu disampaikan sendiri oleh Presiden China Xi Jinping kepadanya.
"Saya akan memberi tahu Anda, Anda tahu, Anda memiliki hal yang sangat mirip dengan Presiden Xi dari China dan Taiwan, tetapi saya rasa hal itu tidak akan terjadi selama saya di sini. Kita lihat saja nanti," kata Trump dalam sebuah wawancara dengan Fox News, yang dilansir Minggu (17/8/2025).
"Dia mengatakan kepada saya, 'Saya tidak akan pernah melakukannya selama Anda masih menjadi presiden'. Presiden Xi mengatakan itu kepada saya, dan saya berkata, 'Baiklah, saya menghargai itu', tetapi dia juga berkata, 'Tetapi saya sangat sabar, dan China sangat sabar'," lanjut Trump.
Baca Juga: Menhan AS Sebut China Akan Serang Taiwan pada 2027 dan Memicu Kehancuran Dunia
Kedua pemimpin tersebut melakukan panggilan telepon pertama mereka yang dikonfirmasi terkait masa jabatan kedua Trump pada bulan Juni.
Trump juga menyebutkan pada bulan April bahwa Xi Jinping telah meneleponnya tetapi tidak menyebutkan kapan panggilan telepon itu terjadi.
China menganggap Taiwan sebagai wilayahnya dan telah berjanji untuk "menyatu kembali" dengan pulau yang demokratis dan memiliki pemerintahan terpisah tersebut, bahkan dengan kekerasan jika perlu. Namun, Taiwan sangat menentang klaim kedaulatan China.
Patut diketahui bahwa meskipun AS adalah pemasok senjata utama dan pendukung internasional bagi Taiwan, kedua negara tidak memiliki hubungan diplomatik formal.
Kedutaan Besar China di Washington menyatakan bahwa topik Taiwan adalah "isu paling penting dan sensitif" dalam hubungan China-AS.
"Pemerintah AS harus mematuhi prinsip 'satu-China' dan tiga komunike bersama AS-China, menangani isu-isu terkait Taiwan dengan bijaksana, dan sungguh-sungguh menjaga hubungan China-AS serta perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan," ujar juru bicara kedutaan, Liu Pengyu, dalam sebuah pernyataan.
Meskipun Trump membuat klaim seperti itu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth pernah menyebut China berencana untuk menginvasi Taiwan pada 2027.
Dalam pidatonya di forum pertahanan dan keamanan Shangri-La Dialogue di Singapura pada Mei lalu, Hegseth menyatakan pihaknya mengetahui bahwa Presiden Jinping telah memerintahkan militernya untuk bersiap menginvasi Taiwan pada 2027.
"Kami tahu bahwa Xi Jinping telah memerintahkan militernya bersiap menginvasi Taiwan pada 2027. PLA (Tentara Pembebasan Rakyat) sedang membangun kemampuan yang dibutuhkan untuk melakukannya, dengan kecepatan yang sangat tinggi," kata Hegseth saat itu.
Hegseth mengklaim PLA saat ini tengah berlatih untuk menyerang Taiwan. Latihan itu bahkan dilakukan setiap hari.
Menurut Hegseth, Washington tidak akan berusaha menutup-nutupi ancaman nyata yang ditimbulkan oleh China ini. Meski begitu, dia menegaskan AS tak berniat meletuskan perang.
"Izinkan saya memperjelas sekali lagi: Amerika Serikat tidak menginginkan perang. Kami tidak ingin mendominasi atau mencekik China. Kami tidak ingin mempermalukan China. Kami tidak menginginkan perubahan rezim," katanya.
"Sebaliknya, kami menginginkan perdamaian. Namun, kami harus memastikan bahwa China tidak dapat mendominasi kami maupun sekutu dan mitra kami," imbuh dia.
"Saya akan memberi tahu Anda, Anda tahu, Anda memiliki hal yang sangat mirip dengan Presiden Xi dari China dan Taiwan, tetapi saya rasa hal itu tidak akan terjadi selama saya di sini. Kita lihat saja nanti," kata Trump dalam sebuah wawancara dengan Fox News, yang dilansir Minggu (17/8/2025).
"Dia mengatakan kepada saya, 'Saya tidak akan pernah melakukannya selama Anda masih menjadi presiden'. Presiden Xi mengatakan itu kepada saya, dan saya berkata, 'Baiklah, saya menghargai itu', tetapi dia juga berkata, 'Tetapi saya sangat sabar, dan China sangat sabar'," lanjut Trump.
Baca Juga: Menhan AS Sebut China Akan Serang Taiwan pada 2027 dan Memicu Kehancuran Dunia
Kedua pemimpin tersebut melakukan panggilan telepon pertama mereka yang dikonfirmasi terkait masa jabatan kedua Trump pada bulan Juni.
Trump juga menyebutkan pada bulan April bahwa Xi Jinping telah meneleponnya tetapi tidak menyebutkan kapan panggilan telepon itu terjadi.
China menganggap Taiwan sebagai wilayahnya dan telah berjanji untuk "menyatu kembali" dengan pulau yang demokratis dan memiliki pemerintahan terpisah tersebut, bahkan dengan kekerasan jika perlu. Namun, Taiwan sangat menentang klaim kedaulatan China.
Patut diketahui bahwa meskipun AS adalah pemasok senjata utama dan pendukung internasional bagi Taiwan, kedua negara tidak memiliki hubungan diplomatik formal.
Kedutaan Besar China di Washington menyatakan bahwa topik Taiwan adalah "isu paling penting dan sensitif" dalam hubungan China-AS.
"Pemerintah AS harus mematuhi prinsip 'satu-China' dan tiga komunike bersama AS-China, menangani isu-isu terkait Taiwan dengan bijaksana, dan sungguh-sungguh menjaga hubungan China-AS serta perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan," ujar juru bicara kedutaan, Liu Pengyu, dalam sebuah pernyataan.
Meskipun Trump membuat klaim seperti itu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth pernah menyebut China berencana untuk menginvasi Taiwan pada 2027.
Dalam pidatonya di forum pertahanan dan keamanan Shangri-La Dialogue di Singapura pada Mei lalu, Hegseth menyatakan pihaknya mengetahui bahwa Presiden Jinping telah memerintahkan militernya untuk bersiap menginvasi Taiwan pada 2027.
"Kami tahu bahwa Xi Jinping telah memerintahkan militernya bersiap menginvasi Taiwan pada 2027. PLA (Tentara Pembebasan Rakyat) sedang membangun kemampuan yang dibutuhkan untuk melakukannya, dengan kecepatan yang sangat tinggi," kata Hegseth saat itu.
Hegseth mengklaim PLA saat ini tengah berlatih untuk menyerang Taiwan. Latihan itu bahkan dilakukan setiap hari.
Menurut Hegseth, Washington tidak akan berusaha menutup-nutupi ancaman nyata yang ditimbulkan oleh China ini. Meski begitu, dia menegaskan AS tak berniat meletuskan perang.
"Izinkan saya memperjelas sekali lagi: Amerika Serikat tidak menginginkan perang. Kami tidak ingin mendominasi atau mencekik China. Kami tidak ingin mempermalukan China. Kami tidak menginginkan perubahan rezim," katanya.
"Sebaliknya, kami menginginkan perdamaian. Namun, kami harus memastikan bahwa China tidak dapat mendominasi kami maupun sekutu dan mitra kami," imbuh dia.
(mas)
Lihat Juga :