Israel Hendak Caplok Seluruh Gaza, Netanyahu Klaim Akan Menyerahkannya kepada Pasukan Arab

Jum'at, 08 Agustus 2025 - 07:32 WIB
loading...
Israel Hendak Caplok...
PM Benjamin Netanyahu akui Israel hendak ambil alih kendali Jalur Gaza sepenuhnya, tapi klaim akan menyerahkannya kepada pasukan Arab. Foto/UNRWA/Ashraf Amra
A A A
GAZA - Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu mengonfirmasi rencana Israel untuk mengambil alih kendali Jalur Gaza sepenuhnya. Namun dia mengeklaim bahwa pihaknya pada akhirnya akan menyerahkan wilayah kantong Palestina itu kepada pasukan Arab yang bersahabat.

Pemimpin rezim Zionis itu kembali menegaskan ambisinyaa untuk melenyapkan Hamas, di mana Kabinet Keamanan Israel sedang membahas perluasan ofensif 22 bulannya di Gaza.

Memperluas operasi militer di Gaza akan membahayakan nyawa banyak warga Palestina dan sekitar 20 sandera Israel yang tersisa, sekaligus semakin mengisolasi Israel secara internasional. Israel saat ini sudah menguasai sekitar tiga perempat wilayah yang hancur tersebut.

Baca Juga: Netanyahu Perintahkan Militer Israel Duduki Total Jalur Gaza

Keluarga sandera yang ditawan di Gaza khawatir eskalasi dapat membahayakan orang yang mereka cintai, dan beberapa di antaranya berunjuk rasa di luar rapat Kabinet Keamanan di Yerusalem.

Mantan pejabat tinggi keamanan Israel juga menentang rencana tersebut, memperingatkan akan adanya masalah yang hanya akan memberikan sedikit manfaat militer tambahan.

Seorang pejabat Israel sebelumnya mengatakan Kabinet Keamanan akan membahas rencana untuk menaklukkan seluruh atau sebagian wilayah Gaza yang belum berada di bawah kendali Israel. Pejabat tersebut, yang berbicara dengan syarat anonim sambil menunggu keputusan resmi, mengatakan bahwa apa pun yang disetujui akan dilaksanakan secara bertahap untuk meningkatkan tekanan terhadap Hamas.

Perang udara dan darat Israel telah menewaskan puluhan ribu orang di Gaza, membuat sebagian besar penduduk mengungsi, menghancurkan wilayah yang luas, dan menyebabkan kelaparan parah yang meluas. Warga Palestina bersiap menghadapi penderitaan lebih lanjut.

"Tidak ada lagi yang bisa ditempati," kata Maysaa al-Heila, warga Gaza yang tinggal di kamp pengungsian. "Tidak ada lagi Gaza," katanya lagi.

Setidaknya 42 warga Palestina tewas dalam serangan udara dan penembakan Israel di Gaza selatan pada hari Kamis, menurut rumah sakit setempat.

Ketika ditanya dalam sebuah wawancara dengan Fox News menjelang rapat Kabinet Keamanan apakah Israel akan "mengambil alih kendali atas seluruh Gaza", Netanyahu menjawab: "Demi menjamin keamanan kami, kami bermaksud untuk menyingkirkan Hamas di sana, dan memungkinkan penduduk Gaza terbebas."

"Kami tidak ingin mempertahankannya. Kami ingin memiliki perimeter keamanan," kata Netanyahu dalam wawancara tersebut.

"Kami ingin menyerahkannya kepada pasukan Arab yang akan memerintahnya dengan benar tanpa mengancam kami dan memberikan kehidupan yang baik bagi warga Gaza," klaim Netanyahu.

Kabinet Keamanan, yang perlu menyetujui keputusan tersebut, mulai bersidang pada Kamis malam, menurut media Israel, dan diperkirakan akan berlangsung hingga larut malam.

Panglima Militer Israel Letnan Jenderal Eyal Zamir memperingatkan agar tidak menduduki Gaza, dengan mengatakan bahwa hal itu akan membahayakan para sandera dan menambah beban militer setelah hampir dua tahun perang, menurut laporan media-media Israel.

Para milisi perlawanan Palestina pimpinan Hamas menculik 251 orang dan menewaskan sekitar 1.200 orang dalam serangan 7 Oktober 2023 yang memicu perang, menurut angka resmi militer Zionis Israel. Sebagian besar sandera telah dibebaskan melalui gencatan senjata atau kesepakatan lain, tetapi 50 orang masih berada di Gaza, sekitar 20 di antaranya diyakini Israel masih hidup.

Hampir dua lusin kerabat sandera berlayar dari Israel selatan menuju perbatasan laut dengan Gaza pada hari Kamis, di mana mereka menyiarkan pesan dari pengeras suara.

Yehuda Cohen, ayah dari Nimrod Cohen, seorang tentara Israel yang ditawan di Gaza, mengatakan dari atas kapal bahwa Netanyahu memperpanjang perang untuk memuaskan para ekstremis dalam koalisi pemerintahannya.

Sekutu sayap kanan Netanyahu ingin meningkatkan eskalasi perang, merelokasi sebagian besar penduduk Gaza ke negara lain, dan membangun kembali permukiman Yahudi yang dibongkar pada tahun 2005.

"Netanyahu hanya bekerja untuk dirinya sendiri," kata Cohen.

Serangan militer Israel telah menewaskan lebih dari 61.000 warga Palestina, menurut Kementerian Kesehatan Gaza. Kementerian ini merupakan bagian dari pemerintahan yang dijalankan Hamas dan dikelola oleh tenaga medis profesional yang menyimpan dan berbagi catatan terperinci.

Perserikatan Bangsa-Bangsa dan para ahli independen memandang angka-angka kementerian tersebut sebagai perkiraan korban yang paling kredibel. Israel telah membantahnya tanpa memberikan rincian jumlah korban.

Dari 42 orang yang tewas pada hari Kamis, setidaknya 13 orang sedang mencari bantuan di zona militer Israel di Gaza selatan, tempat konvoi bantuan PBB secara teratur dipenuhi oleh penjarah dan kerumunan yang putus asa. Dua orang lainnya tewas di jalan menuju lokasi terdekat yang dikelola oleh Gaza Humanitarian Foundation (GHF), menurut Rumah Sakit Nasser yang menerima jenazah-jenazah tersebut.

GHF merupakan sebuah kontraktor Amerika yang didukung Israel. GHF mengatakan tidak ada insiden kekerasan di atau dekat lokasinya pada hari Kamis.

Belum ada komentar langsung dari militer Israel. Zona militer tersebut, yang dikenal sebagai Koridor Morag terlarang bagi media independen.

Ratusan orang tewas dalam beberapa pekan terakhir saat menuju lokasi GHF dan dalam kekacauan di sekitar konvoi PBB, yang sebagian besar dipenuhi penjarah dan kerumunan orang yang kelaparan.

Kantor hak asasi manusia PBB, saksi mata, dan pejabat kesehatan mengatakan pasukan Israel secara teratur melepaskan tembakan ke arah kerumunan sejak Mei, ketika Israel mencabut blokade penuh selama 2,5 bulan.

Militer Israel mengatakan mereka hanya melepaskan tembakan peringatan ketika kerumunan mendekati pasukannya.

GHF mengatakan kontraktor bersenjatanya hanya menggunakan semprotan merica atau menembak ke udara pada beberapa kesempatan untuk mencegah penyerbuan yang mematikan.

Doctors Without Borders, sebuah badan amal medis yang dikenal dengan akronim Prancisnya MSF, menerbitkan laporan pedas yang mengecam sistem distribusi GHF. "Ini bukan bantuan. Ini pembunuhan yang diatur," katanya.

MSF mengelola dua pusat kesehatan yang sangat dekat dengan lokasi GHF di Gaza selatan dan menyatakan telah merawat 1.380 orang yang terluka di dekat lokasi tersebut antara 7 Juni dan 20 Juli, termasuk 28 orang yang meninggal saat tiba. Dari jumlah tersebut, setidaknya 147 orang menderita luka tembak—termasuk setidaknya 41 anak-anak.

MSF mengatakan ratusan lainnya menderita luka akibat serangan fisik akibat perebutan makanan yang kacau di lokasi tersebut, termasuk cedera kepala, sesak napas, dan beberapa pasien dengan mata yang sangat parah setelah disemprot semprotan merica dari jarak dekat.

MSF menyatakan kasus-kasus yang ditanganinya hanya sebagian kecil dari keseluruhan korban jiwa yang terkait dengan lokasi GHF; sebuah rumah sakit lapangan Palang Merah di dekatnya telah melaporkan secara independen telah menerima ribuan orang yang terluka akibat tembakan saat mereka mencari bantuan.

"Tingkat salah urus, kekacauan, dan kekerasan di lokasi distribusi GHF merupakan kelalaian yang sembrono atau jebakan maut yang dirancang dengan sengaja," demikian laporan MSF.

GHF mengatakan "tuduhan itu salah dan memalukan" dan menuduh balik MSF memperkuat kampanye disinformasi yang didalangi oleh Hamas.

AS dan Israel membantu membangun sistem GHF sebagai alternatif dari sistem pengiriman bantuan yang dikelola PBB yang telah menopang Gaza selama beberapa dekade, menuduh Hamas menyedot bantuan.

PBB membantah adanya pengalihan bantuan massal oleh Hamas. PBB menuduh GHF memaksa warga Palestina mempertaruhkan nyawa mereka untuk mendapatkan makanan dan mengatakan hal itu memajukan rencana Israel untuk pengungsian massal lebih lanjut.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Menlu Iran Bilang Hamas:...
Menlu Iran Bilang Hamas: Gaza Penting dalam Negosiasi dengan AS
Netanyahu Terpaksa Terima...
Netanyahu Terpaksa Terima Gencatan Senjata, Israel Bersiap Tarik Pasukan
PBB Ungkap Israel Bunuh...
PBB Ungkap Israel Bunuh Lebih dari 20.000 Anak Palestina
Menteri Zionis: AS Akan...
Menteri Zionis: AS Akan Segera Berada di Jalur Bentrokan dengan Israel
Israel Intervensi Pilpres...
Israel Intervensi Pilpres Kolombia, Ini 4 Faktanya
Kandidat Kuat PM Inggris...
Kandidat Kuat PM Inggris Andy Burnham Dinilai Tidak Berpihak ke Palestina
Meski Terus Digempur...
Meski Terus Digempur Israel, Sekjen Hizbullah Tegaskan Seluruh Anggota Siap Mati!
Kapal Penangkap Ikan...
Kapal Penangkap Ikan Tenggelam di Lepas Pantai Busan, 2 Awak Asal Indonesia Hilang
2 Gempa Dahsyat M7,2-7,5...
2 Gempa Dahsyat M7,2-7,5 Guncang Venezuela, 32 Orang Tewas 700 Luka
Rekomendasi
Jembatan Pasar Aset...
Jembatan Pasar Aset Tradisional dan Digital, ICE dan OKX Bentuk Joint Venture
Trump Peringatkan Iran,...
Trump Peringatkan Iran, Tarif Selat Hormuz Tak Dapat Diterima
5 Fakta Menarik Jerman...
5 Fakta Menarik Jerman Tumbang Dihajar Ekuador: Gol Kilat Sane hingga Tekanan Gila La Tri
Berita Terkini
Negara NATO Ini Bakal...
Negara NATO Ini Bakal Melarang Kumandang Azan
Selat Hormuz Bergejolak...
Selat Hormuz Bergejolak Lagi, Iran Serang Kapal Berbendera Singapura
Iran Tolak Pendapat...
Iran Tolak Pendapat Menlu AS Rubio tentang Kesepakatan Damai
Trump Ungkap Turki Siap...
Trump Ungkap Turki Siap Gabung Perang Bersama Iran tapi Dicegah AS
Iran Peringatkan Kapal-kapal...
Iran Peringatkan Kapal-kapal Tidak Melintasi Selat Hormuz Tanpa Izin
Korban Gempa Venezuela...
Korban Gempa Venezuela Bertambah, 164 Orang Tewas, 971 Luka-luka
Infografis
4 Negara Arab yang Siap...
4 Negara Arab yang Siap Bantu Qatar Balas Serangan Israel
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved