5 Alasan Politisi Perempuan Kerap Dilecehkan, dari Sensualitas hingga Korban AI

Selasa, 05 Agustus 2025 - 04:55 WIB
loading...
A A A
"Kecerdasan buatan tidak dapat menangkap nuansa," kata Pető kepada Euronews Next.

Demikian pula, dengan menandai komentar sebagai "tidak sopan", beberapa konteks mungkin terlewatkan, misalnya, fakta bahwa banyak "pemilih demokratis memiliki sudut pandang yang dianggap 'tidak sopan' ini," katanya.

Meskipun demikian, kesimpulan keseluruhan studi ini tidak mengejutkan para pakar gender dan politik. Pelecehan daring terhadap perempuan telah lama diteliti, mendorong penelitian, debat, dan reformasi hukum.

Kekuasaan, politik, dan debat publik secara historis tidak dikaitkan dengan peran atau tradisi perempuan. Pertimbangkan hak perempuan untuk memilih. Di beberapa negara Eropa, seperti Yunani, hak pilih universal untuk pemilihan nasional baru ditetapkan pada tahun 1952.

Baca Juga: 1 Juta Orang Hadiri Misa Penutupan Yubileum Pemuda yang Dipimpin Paus Leo XIV

2. Ketidaksetaraan Gender

Warisan ketidaksetaraan gender ini masih terlihat hingga saat ini. Ketika perempuan memasuki ruang politik, termasuk di media sosial, mereka mungkin menghadapi permusuhan dan serangan karena mereka perempuan, kata Pető.

“Perempuan diharapkan berada di ranah privat dan mereka yang mempertanyakan kesenjangan ini, entah mereka penyihir, atau Marie Curie, atau politisi lokal, atau anggota parlemen, menghadapi tindakan pendisiplinan tertentu dari ranah publik, yang dijalankan oleh laki-laki,” katanya.

Tetapi apakah permusuhan daring ini didorong oleh sikap sosial yang mengakar, oleh sistem teknologi yang memperkuatnya, atau keduanya?

3. Teknologi Harus Jadi Cermin

“Teknologi seringkali berfungsi sebagai cermin,” kata Sandra Wachter, profesor teknologi dan regulasi di Universitas Oxford dan Institut Hasso Plattner di Potsdam, Jerman.

“Mereka yang sudah mengalami penindasan dan diskriminasi di masyarakat akan menghadapinya dalam skala yang lebih besar jika kita menerapkan teknologi secara bebas. Dan inilah mengapa hukum itu penting,” ujarnya kepada Euronews Next.

4. Perempuan Identik dengan Sensualitas

Wachter mencatat bahwa, di luar penyebab sosial dan historis, serangan daring terhadap perempuan juga didorong oleh kepentingan ekonomi perusahaan teknologi besar.

Ia mengatakan model bisnis mereka dirancang untuk membuat pengguna tetap daring selama mungkin untuk menjual iklan.

“Apa yang ingin dilihat orang dan yang membuat mereka tetap terlibat adalah sesuatu yang menggemparkan, keterlaluan,” kata Wachter.

Itulah alasan utama mengapa berita palsu, yang seringkali bernada sensasional, cenderung menyebar lebih jauh dan lebih cepat daripada informasi yang sah.

Meski begitu, banyak orang tidak menyadari masalah ini, kata Wachter. Korban serangan daring seringkali disalahkan, sementara pelaku – bahkan penegak hukum – seringkali gagal memahami betapa seriusnya konsekuensi yang dapat ditimbulkan, sebagian karena lingkungan digital, ujarnya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Wakil PM Italia Sebut...
Wakil PM Italia Sebut Rusia Bukan Ancaman Utama bagi Eropa, tapi Siapa?
Inggris Akan Larang...
Inggris Akan Larang Penggunaan Media Sosial saat Malam Hari
Politik AS Didominasi...
Politik AS Didominasi Manula! Ini Deretan Politisi Tua yang Melebihi Usia Pensiun
Inggris Semakin Ditekan...
Inggris Semakin Ditekan untuk Kembalikan 31 Ton Emas Venezuela
Bak Film Spionase, Mata-mata...
Bak Film Spionase, Mata-mata Italia Berkhianat dan Jual Rahasia NATO kepada Rusia
Venezuela Memohon kepada...
Venezuela Memohon kepada Raja Charles: Serahkan 31 Ton Emas yang Ditahan Inggris
Foto Liburan Bareng...
Foto Liburan Bareng Gading Marten di Italia Jadi Sorotan, Medina Dina Beri Penjelasan
Konflik AS-Iran Meluas,...
Konflik AS-Iran Meluas, Kuwait Jadi Sasaran Serangan Rudal dan Drone
Ngeri! Iran Tutup Bab...
Ngeri! Iran Tutup Bab Al Mandab, Harga Minyak Bisa Tembus 200 Dolar per Barel
Rekomendasi
Kilas Balik: Lamine...
Kilas Balik: Lamine Yamal Masih Bayi saat Dimandikan Messi, Kini Bentrok di Final Piala Dunia 2026
Perang dengan AS Kian...
Perang dengan AS Kian Memanas, Iran Ancam Hentikan Semua Ekspor Energi dari Timur Tengah
Dokter Tifa Optimistis...
Dokter Tifa Optimistis Eksepsinya Dikabulkan Hakim
Berita Terkini
Profil Sheikh Hamad...
Profil Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani, Sosok di Balik Lompatan Qatar dari Negara Gurun Menjadi Raksasa Kaya Dunia
Kronologi Venezuela...
Kronologi Venezuela Simpan 31 Ton Emas di Bank of England tapi Tak Bisa Diambil
AS Perluas Serangan...
AS Perluas Serangan terhadap Iran, Pengeboman 90 Menit Sebabkan Ledakan di Mana-mana
2 Jenderal Militer Ditangkap...
2 Jenderal Militer Ditangkap karena Korupsi Proyek Senilai Rp1,2 Triliun
Zelensky Pecat Menhan...
Zelensky Pecat Menhan Ukraina di Tengah Perang Melawan Rusia, Menhan ke-4 yang Didepak
Meski Sedang Perang,...
Meski Sedang Perang, Trump Puji Iran karena Bebaskan Warga AS dari Penjara
Infografis
10 Figur Publik Penerima...
10 Figur Publik Penerima Beasiswa LPDP, dari Mutiara Baswedan hingga Maudy Ayunda
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved